Jika tidak kamu temukan pangeran kampus kaya raya itu,maka tulislah dia dalam duniamu sendiridengan ratusan episode bahagia di dalamnya.
✧༺༻✧
“Emang dasarnya risol lo enggak ada enak-enaknya!” Seiring keluarnya kata-kata hinaan itu, di saat bersamaan Tafa baru saja menjatuhkan sisa risol terakhir ke tanah.Tepat di hadapannya, Maya yang melihat risol buatannya diperlakukan semena-mena sontak naik pitam dan tanpa ragu melayangkan pukulan di bahu lelaki itu.
Bugh!
Pukulan keras itu sebagai bentuk luapan emosi Maya.
“Bisa gak sehari aja elo enggak ngehina-hina risol gue?!” tanya Maya. Nada suaranya meninggi. Raut kesalnya tertata jelas, matanya menghunus tajam sosok Tafa yang tengah mengaduh kesakitan. “Seenggaknya risol gue lebih enak diliat daripada muka lo yang bikin gue enek tau gak!” lanjutnya bergegas pergi.
Taman fakultas sastra yang tadinya sejuk mendadak berubah panas dan sesak sejak kehadiran lelaki bernama Tafa di sini. Ibarat setan, dia lebih cocok disebut iblis. Iya, iblis yang membuat Maya naik darah setiap harinya.
Dikatai demikian, Tafa yang masih sibuk pada bekas pukulan Maya refleks berkedip dan di waktu bersamaan memasang ekspresi kesal, meneggaskan tidak terima dihujat seperti itu. Maksudnya, seganteng ini loh, hei!
Mahasiswa dengan tinggi 180 senti tersebut menarik pelan ujung rambut Maya yang mana itu menghentikan paksa langkah gadis penjual risol mayo itu. Walau begitu, tetap membuat sang empunya meringis kesakitan.
Lagipula, manusia mana yang tidak sakit ketika dijambak?
“LO GILA!” maki Maya. Darah tingginya seolah dipaksa naik.
“Lo masih semestar empat udah mines aja, ya?!” Alih-alih menjawab Tafa justru balik bertanya dengan nada sarkas. “Lo liat muka gua baik-baik. Seganteng ini lo bilang enek?!”
Memang benar kata orang, “jika bukan diri sendiri siapa lagi yang akan memuji diri kita?”
Tafa dan kepercayaan dirinya sudah tidak tertolong.Mendapat pertanyaan narsis secara tiba-tiba, refleks mahasiswi dengan jepit rambut berbentuk bunga daisy itu menunjukkan ekspresi seperti orang ingin muntah, yang mana hal tersebut berhasil menggores ego sang lawan bicara.
“Justru mereka yang bilang elo ganteng yang mines!” tutur mahasiswi penjual risol mayo. Setiap katanya penuh hinaan. “Emang orang gila yang muji dirinya sendiri.”