"Kalau gak ada yang mau, aku saja." Ujar tenang Rama memandangi kelompoknya bergantian satu demi satu. Kelompok tiga. Sepuluh orang-termasuk Rama, yang hanya saling memandang saat ditanya siapa yang ingin menjadi sutradara.
Sembilan orang langsung menahan nafasnya.
Bukan karena tidak ada yang mau, hanya saja, tak ada yang berani menanggung risiko sebesar itu. Para pemain dinilai dari pementasan, namun sutradara dinilai berdasarkan hasil dari pementasan itu. Terdengar mirip? Salah. Jika seorang pemain mengacau, maka nilainya dan nilai sutradara yang akan ada di ujung tanduk.
Mata Sinta membesar. Jantungnya berdebar tidak karuan.
'Bagaimana dengan nilaiku? Aku gak bisa dapat nilai jelek karena ide bodoh Rama!' Batinnya bergejolak.
Sekilas, mimpi Sinta untuk menjadi auditor di big four sirna begitu saja, hanya karena dia mendapat nilai merah di satu pelajaran seni budaya ketika dia kelas 11.
Dengan cepat, Sinta mulai menimbang dalam hati, mana yang lebih buruk. Menjadi pemeran dengan peran kacau hasil pikiran Rama? Atau menjadi asisten yang menanggung beban sama dengan sutradara?
"Aku jadi asistennya." Sahut Sinta tanpa berpikir lebih panjang, memutus bayangan mimpinya yang nyaris sirna karena celetukan Rama. Setidaknya jika dia menjadi asisten, dia masih berhak mengarahkan kelompok ini untuk nilai sempurnanya.
"Baiklah, Rama sutradara, dan Sinta asistennya untuk kelompok tiga." Gumam Pak Roger mencatat di tabletnya dan kembali ke mejanya.
"Syukurlah." Gumam pelan Cindy di samping Sinta. "Satu-satunya yang Rama pintar hanyalah memainkan bola dengan tangannya."
Sinta mengangguk setuju. Tak pernah terlintas dia akan sekelompok dengan Rama. Ini bagaikan ancaman di tengah deretan nilai sempurnanya. Jika bukan karena Pak Roger yang membagi kelompok dengan para murid bergilir menyebut satu, dua dan tiga, Sinta yakin tak akan pernah mau sekelompok dengan Rama dengan sadar.
"Jadi, kita mau angkat legenda apa?" Tanya John berusaha memecah kelesuan di tengah kelompok mereka. "Kalau aku boleh saran, lebih baik yang mudah."
"Sangkuriang saja bagaimana?" usul Rama secepat kilat. "Cindy bisa jadi Dayang Sumbi, John jadi Tumang, Boby jadi Sangkuriang, karena dia Duta Pariwisata jadi kegantengannya udah pas banget."
"Trus sisa yang lain?" Tanya Sinta.
"Jadi jin bisa, cocok banget." Jawab Rama. Beberapa terkekeh mendengarnya serta mulai mengejek satu sama lain betapa cocoknya mereka menjadi jin dengan wajah penuh cat hitam.
Sinta memukul lengan Rama dengan buku Akuntansi Dasar.
"Aw, hati-hati sayang. Kalau lengan ini patah, apa kau ingin bertanggung jawab menafkahiku?" Goda Rama.
Sinta memutar matanya. Nafasnya tertahan. Ini bukan saatnya bercanda! Keluh Sinta dalam hati.
Sinta membenarkan kacamatanya lalu memukul lengan Rama lagi dengan bukunya. Rama terkekeh, sementara Cindy berusaha melerai mereka.
“Tangan Rama aset sekolah ini, Sin.” Ujar John.
"Bagaimana kalau Malin Kundang saja? Sepertinya tokohnya lebih banyak, jadi yang lain bisa berperan juga." Usul Boby.
"Ide bagus." Ujar Rama. "Atau Ramayana saja? Tokohnya lebih banyak, dan... sudah ada."
Para pria dalam kelompok itu terkekeh. Tapi Sinta tidak.
Mimpi Sinta selalu sederhana, menjadi lulusan terbaik, masuk perguruan tinggi negeri nomor satu di Indonesia, lalu bekerja menjadi auditor di Big Four. Dia rasa dia bisa hidup tenang selamanya dengan itu. Tapi sejak dia naik kelas 11, semua pengajar dan para murid selalu menjodohkan mereka berdua karena mereka berbagi nama dengan tokoh utama Ramayana.
Sinta menghela nafas panjang. "Aku tidak suka cerita penculikan. Tidak ada moral yang baik."
"Ayolah, Sin, jangan terlalu serius." Ujar John. "Semua legenda memang ada sisi lainnya. Namanya juga legenda."
Walau apa yang dikatakan John benar. Sinta tetap merasa kesal tanpa alasan yang jelas. Namun dia diam saja. Setidaknya John tak bicara hal tak masuk akal seperti Rama.
Bel berdering. Memutus diskusi mereka. Menandakan bahwa sudah waktunya pulang.
Rama mengambil tasnya, bergegas. Tapi kali ini bukan ke lapangan basket. Melainkan ke perpustakaan.
Sinta berjalan ke lobby depan sekolah menunggu jemputan ibunya. Namun melihat sosok Rama yang tinggi itu berbayang dari jendela perpustakaan, otaknya berpikir apakah ada jadwal ulangan atau tes yang mungkin dia lupakan?
Sinta diam sejenak.
Mencoba mengingat jadwal sembari memandangi bayangan Rama di balik jendela perpustakaan itu. Sebuah keanehan di depan matanya. Bagaikan menemukan keajaiban dunia kedelapan yang belum pernah tercatat sejarah manapun.
Sama seperti orang normal lainnya, pemandangan yang begitu aneh itu berhasil membuat langkahnya berjalan ke arah perpustakaan. Menghampiri Rama yang tersenyum lebar dengan mata yang menempel pada halaman sebuah buku.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sinta menyilangkan tangannya di dada.
"Apa minus mu bertambah?" Jawab Rama dengan senyum konyolnya. "Aku membaca."
"Kenapa?"
Pertanyaan Sinta keluar dengan nada ketus yang tak bisa dia tahan. Rama tetap memulas senyumnya, walau sudah tak selebar tadi. Seketika Sinta langsung merasa bersalah. Ini diluar prediksinya. Namun kata 'maaf' itu tertahan di tenggorokannya, dikalahkan oleh egonya.
"Aku tak ingin nilai kalian semua jelek karena aku." Jawab Rama mengangkat bahunya. "Bagaimanapun, aku adalah sutradaranya kan? Ketua kelompok kita."
Jawaban Rama yang tenang membuat Sinta kehilangan kata. Gelombang rasa bersalah itu semakin besar menelannya.
Dia kemudian keluar dari perpustakaan itu, langkahnya cepat ke ruang tata usaha. Dia meminjam telepon disana, menelpon ibunya, mengatakan dia ada tugas sehingga bisa dijemput saat malam saja. Ibunya, mengiyakan tanpa bertanya lebih lanjut, karena memang begitulah Sinta. Kondisi ekonomi yang menghimpitnya tak membiarkan dia memiliki kemewahan untuk mengikuti les berbayar seperti anak lain. Sehingga satu-satunya guru bagi Sinta, adalah Sinta sendiri.