"Kalau gak ada yang mau, aku saja." Sahut Rama memandangi kelompoknya bergantian satu demi satu. Kelompok tiga. Sepuluh orang-termasuk Rama, yang hanya saling memandang saat ditanya siapa yang ingin menjadi sutradara.
Sembilan orang langsung menahan nafasnya.
Mata Sinta membesar. Jantungnya berdebar tidak karuan. 'Bagaimana dengan nilaiku? Aku gak bisa dapat nilai jelek karena ide bodoh Rama!' Batinnya bergejolak.
Sekilas, mimpi Sinta untuk menjadi auditor di big four seolah sirna begitu saja, hanya karena dia mendapat nilai merah di satu pelajaran seni budaya ketika dia kelas 11.
"Aku jadi asistennya." Sahut Sinta tanpa berpikir lebih panjang, memutus bayangan mimpinya yang nyaris sirna karena celetukan Rama.
"Baiklah, Rama sutradara, dan Sinta asistennya untuk kelompok tiga." Gumam Pak Roger mencatat di tabletnya dan kembali ke mejanya.
"Syukurlah." Gumam pelan Cindy di samping Sinta. "Satu-satunya yang Rama pintar hanyalah memainkan bola dengan tangannya."
Sinta mengangguk setuju. Tak pernah terlintas dia akan sekelompok dengan Rama. Ini bagaikan ancaman di tengah deretan nilai sempurnanya. Jika bukan karena Pak Roger yang membagi kelompok dengan para murid bergilir menyebut satu, dua dan tiga, Sinta yakin tak akan pernah mau sekelompok dengan Rama dengan sadar.
"Jadi, kita mau angkat legenda apa?" Tanya John berusaha memecah kelesuan di tengah mereka. "Kalau aku boleh saran, lebih baik yang mudah."
"Sangkuriang saja bagaimana?" usul Rama secepat kilat. "Cindy bisa jadi Dayang Sumbi, John jadi tumang, Boby jadi sangkuriang, karena dia duta pariwisata jadi kegantengannya udah pas banget."
"Trus sisa yang lain?" Tanya Sinta.
"Jadi jin bisa, cocok banget." Jawab Rama. Beberapa mencoba menahan tawanya.
Seketika Sinta memukul lengan Rama dengan buku Akuntansi Dasar di lengannya.
"Aw, hati-hati sayang. Kalau lengan ini patah, apa kau ingin bertanggung jawab menafkahiku?" Goda Rama.
Sinta memutar matanya. Nafasnya tertahan. Mimpi Sinta selalu sederhana, menjadi lulusan terbaik, masuk perguruan tinggi negeri nomor satu di indonesia, lalu bekerja menjadi auditor di Big Four. Dia rasa dia bisa hidup tenang selamanya dengan itu. Namun sejak dia naik kelas 11, semua pengajar dan para murid selalu menjodohkan mereka berdua karena mereka berbagi nama dengan tokoh utama Ramayana.
Sinta membenarkan kacamatanya dan memukul Rama lagi dengan bukunya. Rama terkekeh, sementara Cindy berusaha melerai mereka.
“Tangan Rama aset sekolah ini Sin.” Ujar John.
"Bagaimana kalau Malin Kundang saja? Sepertinya tokohnya lebih banyak, jadi yang lain bisa berperan juga." Usul Boby.
"Ide bagus." Ujar Rama. "Atau Rama dan Sinta aja? Tokohnya lebih banyak, dan... sudah ada."
Seketika Boby, John dan beberapa murid pria lain dalam kelompok mereka menahan tawa, namun bahu mereka bergetar.
Sinta menghela nafas panjang. "Aku tidak suka cerita penculikan. Tidak ada moral yang baik."
"Ayolah Sin, jangan terlalu serius." Ujar John. "Semua legenda memang ada sisi buruknya. Namanya juga legenda."
Walau apa yang dikatakan John benar. Sinta tetap merasa kesal tanpa alasan yang jelas. Namun dia diam saja. Setidaknya John tak bicara hal tak masuk akal seperti Rama.
Akhirnya bunyi bel berdering. Menandakan bahwa sudah waktunya pulang.
Rama mengambil tasnya, dan bergegas. Tapi kali ini bukan ke lapangan basket. Melainkan ke perpustakaan.
Sinta yang berjalan ke lobby depan sekolah menunggu jemputan ibunya, melihat sosok rama yang tinggi itu menjulang dari jendela perpustakaan. Otaknya berpikir apakah ada jadwal ulangan atau tes yang dia lupakan?
Sinta diam sejenak.
Mencoba mengingat jadwal sembari memandangi sosok Rama di antara rak buku.
Sembari memandangi keanehan di depan matanya.
Bagaikan menemukan keajaiban dunia kedelapan yang belum pernah tercatat.
Sama seperti orang normal lainnya, pemandangan yang begitu aneh itu berhasil membuat langkahnya berjalan ke arah perpustakaan. Menghampiri Rama yang tersenyum lebar dengan mata yang menempel pada halaman sebuah buku.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sinta menyilangkan tangannya di dada.
"Apa minus mu bertambah?" Jawab Rama dengan senyum konyolnya. "Aku membaca."
"Kenapa?"
Pertanyaan Sinta keluar dengan nada ketus yang tak bisa dia tahan. Rama tetap memulas senyumnya, walau sudah tak selebar tadi. Seketika Sinta langsung merasa bersalah. Ini diluar prediksinya. Namun kata 'maaf' itu tertahan di tenggorokannya, dikalahkan oleh egonya.
"Aku tak ingin nilai kalian semua jelek karena aku." Jawab Rama mengangkat bahunya. "Bagaimanapun, aku adalah sutradaranya kan? Ketua kelompok kita."
Jawaban Rama yang tenang membuat Sinta diam sejenak. Gelombang rasa bersalah itu semakin besar menelannya. Dia kemudian keluar dari perpustakaan itu, langkahnya cepat ke ruang tata usaha. Dia meminjam telepon disana, menelpon ibunya, mengatakan dia ada tugas sehingga bisa dijemput saat malam saja. Ibunya, mengiyakan tanpa bertanya lebih lanjut, karena memang begitulah Sinta. Kondisi ekonomi yang menghimpitnya tak membiarkan dia memiliki kemewahan untuk mengikuti les berbayar seperti anak lain. Sehingga satu-satunya guru bagi Sinta, adalah Sinta sendiri.