Another Side of Sangkuriang

Elizabeth Wu
Chapter #2

Bab 2 Legenda yang Punya Nama

Kilat putih kembali menyambar, Sinta bisa merasakan tangan Rama bergetar hebat. Terutama saat gelegar petir itu menggelegar. Mereka berjalan tanpa arah, basah, lapar, serta bingung. Sinta berusaha membetulkan kacamata, namun dia sadar, bahwa kacamatanya juga menghilang bersama pakaian sekolahnya.

Sinta terus berjalan, sembari mengandeng Rama yang bahkan enggan membuka matanya, sampai Sinta menemukan sebuah gua. Mereka masuk kesana. 

Rama langsung duduk ketika dia merasakan tak ada hujan yang menghantam tubuhnya, memeluk lututnya. Kedua tangannya di telinga serta matanya terpejam. 

Sinta berdiri di mulut gua, berusaha memeras kain di tubuhnya. Dia menghela nafas panjang serta menggerutu dalam hati bagaimana tidak bergunanya Rama dalam keadaan seperti ini. Lalu matanya jatuh ke dalam gua yang gelap. Dia berusaha memikirkan bagaimana membuat api, jaga-jaga jika ada hewan buas di dalam kegelapan itu. 

Dia mengambil sebuah batu, menggosoknya. Namun yang muncul hanya bunyi-bunyi tak beraturan yang menggema di gua. Sinta mencoba mengingat film dokumenter yang dia tonton diam-diam di perpustakaan. Yang dia ingat hanyalah adegan menggosokkan dua batu lalu muncul api. 

Tapi seberapa keras Sinta mencoba, api itu tak kunjung muncul. Dia merasa ditipu oleh setiap film yang dia tonton.

"Kamu ngapain?" Tanya Rama akhirnya membuka matanya. 

"Menurutmu?!" Sentak sinta tak bisa tertahan melihat betapa kerasnya dia mencoba dan tak menghasilkan apapun. 

Rama akhirnya merangkak mendekat. "Mau buat api ya?" 

Sinta memutar matanya, tak menyangka dia mendengar sebuah pertanyaan yang begitu bodoh keluar dari kapten basket sekolahnya. 

"Sebentar, aku tanya AI dulu gimana caranya." Rama merogoh sarungnya, hanya untuk menemukan dia tak membawa handphone. Lalu dia berpikir sejenak, berusaha mengingat pelajaran pramuka tahun lalu. Dia ingat bagaimana pembinanya membuat api dengan kayu dan dedaunan. 

Rama meraih kayu kering, beberapa rumput liar yang sudah kering. "Bukan gitu caranya." Dia dengan percaya diri mengoreksi Sinta. 

Lalu Rama mulai memutar dan menggosok kedua kayu itu. Wajahnya sumringah menatapnya. 

"Kamu bolos pramuka ya?" Goda Rama padanya, penuh kesadaran bahwa Sinta tak peduli sedikitpun pada ekskul Pramuka. Bagi seorang Sinta, nilai yang tak muncul di rapor, adalah nilai yang tidak penting.

"Lah, kamu sendiri yang dulu nyolong korek api pak Satpam buat bikin api."  

"Ya kan biar cepet." 

Sinta memutar matanya mendengar jawaban rama. Dia ingat. Betapa kompetitifnya seorang Rama. Namun di sisi yang lain, Sinta juga ingat bahwa satu kelompok pramuka Rama harus berkeliling lapangan sembari bernyanyi karena hal itu. Sejak saat itu, dia tak pernah ingin satu kelompok dengan Rama. Sampai kelas 11 ini. 

10 menit berlalu. Tangan Rama masih memutar kayunya. "Capek ya." Gumam Rama. 

"Lah memang!" Sentak Sinta lagi. Mengingat dia juga sudah berusaha membuat api sebelumnya. 

Rama tetap memutar kayunya, sampai akhirnya sebuah asap tipis timbul. Buru-buru Rama menunduk untuk meniupnya, namun angin hujan menghilangkan usahanya begitu saja. 

Rama tersungkur di tanah. "Aku lelah." 

Kilat putih muncul lagi, Rama langsung menutupi kedua telinganya. 

Sinta menghela nafasnya panjang. Lalu dia menatap kegelapan goa yang sangat gelap. Jika ada harimau, aku akan meninggalkan si bodoh ini. Gumamnya dalam hati. 

Bagaikan dijawab oleh Tuhan. Sinta mendengar sebuah jejak dari dalam gua. Sangat pelan. Sangat jauh. 

Seluruh tubuhnya merinding. Dia langsung berdiri. 

"Sinta," sahut Rama mencoba memberanikan diri membuka matanya. "Kenapa?"

Sinta tak menjawab. Matanya terfokus pada titik gelap dalam gua mereka. Langkah itu kian mendekat. Sinta mengambil kayu yang tadi di pakai Rama. 

Rama akhirnya duduk. "Eh, kenapa sih?" Tanyanya menatap sinta.

"Diam dodol." Jawab Sinta pelan.

'Kalau dia mendekat, aku akan meninggalkan si bodoh ini.' Ulang Sinta dalam hati. 

Langkah itu kian mendekat.

Semakin dekat.

"Itu... apa?" Tanya Rama akhirnya menyadari apa yang di dengar Sinta dari tadi. 

Sinta tak menjawabnya. Suara itu semakin terdengar jelas, tanpa berpikir lagi dia lari menerobos badai keluar gua. Bagi Sinta mimpi masa depannya jauh lebih berharga daripada menyelamatkan Rama dengan melawan harimau. Walau rasa bersalahnya terus menelannya dan meneriakan untuk kembali ke gua itu, namun Sinta mengabaikannya. Sinta tak ingin mati sebelum mencapai mimpinya.

"Woi, Sin! Sin!" Jerit Rama berusaha meraihnya. Namun kilat putih yang menyambar dari langit, menghentikan langkahnya. Dia kembali tersungkur ke tanah, menutupi telinganya berharap suara gelegar itu menghilang.

Setelah suara gelegar itu muncul, Rama memaksakan dirinya membuka mata, dia menatap titik yang Sinta lihat dari tadi, dan ternyata...

Itu seorang anak kecil.

Lihat selengkapnya