Sinta tak menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Dia berbalik. Berlari kepada pria tua itu. Masuk ke dalam sungai ya hanya selututnya. "Bapak! Bapak tahu darimana nama kami?"
Pertapa dengan jubah hitam yang diikat asal itu menatap Sinta lama. Sebuah pandangan yang tak bisa dijelaskan Sinta. Lalu pandangannya berpindah pada Rama. Ada sesuatu yang dalam dari sorot matanya yang hangat ketika memandangi mereka berdua.
Setelah keheningan yang lama, pertapa itu beranjak dari posisinya, turun ke sungai, mendekat ke arah Sinta. “Kau baik-baik saja Sinta?”
“Baik-baik saja? Saya bukan berasal dari dunia ini pak. Satu-satunya cara agar saya baik-baik saja adalah dengan kembali ke dunia kami.” Ujar Sinta kembali berkacak pinggang padanya.
"Apa yang kau bicarakan Sinta? Kau muridku."
“A… Apa?”
Sinta terpaku menatapnya. Dinginnya air sungai itu tak terasa lagi di kulitnya. Berjuta pertanyaan memenuhi pikirannya. Seorang pria tua bersemedi tiba-tiba mengatakan bahwa dia muridnya? Sejak kapan? Dia tak pernah merasa mendaftar sesuatu dari pria tua di zaman antah berantah ini.
"Apa aku juga?" Tanya Rama mendekat pada mereka berdua dengan wajah sumringah. Bagi Rama tiba-tiba menjadi murid seorang petapa sepertinya tak seburuk itu.
Pria tua dengan rambut putih sepinggang dan janggut putih itu mengangguk. "Kau juga, Rama."
"Keren!” Ujarnya bersemangat “Tapi... kau guru apa ya?" Keheningan kembali memenuhi ruang lepas diantara mereka.
Pria tua itu menghela nafas panjang. Menggaruk pengikat kepalanya atau udengnya. Mengabaikan pertanyaan Rama. "Itu siapa yang kau bawa di punggung, Rama?"
Rama sedikit berbalik agar pria tua itu bisa melihatnya. "Namanya Sang. Dia ada luka besar di dahinya."
"Luka?" Seketika pria tua itu naik dari sungai dan mendekat padanya. "Baringkan dia."
Rama membaringkannya. Wajah anak itu sudah memucat. Darahnya merembes dari kain yang lilitkan rama seadanya.
Pria tua itu segera membuka lilitan kepala itu. "Astaga, demi Sang Dewa." Gumamnya. "Sinta, cepat kau segera cari daun Bandotan dan daun Seureuh."
"Seureuh itu Sirih, pak?" Tanya Sinta memastikan.
"Seureuh ya Seureuh." Jawab pria tua itu. "Cepat, sebelum dia semakin sekarat."
Sinta otomatis berjalan ke hutan. Namun pikirannya ribut, kenapa dia mengikuti apa yang dikatakan pria asing yang baru saja ditemui hanya karena dia mengetahui namanya?
Rama otomatis mengikutinya.
"Bandotan itu gimana?" Tanya Sinta.
"Makanya jangan belajar buku aja Sin, kamu harus main-main ke hutan." Gaya Rama. Rama menarik lengan Sinta. "Ini, ini daun bandotan."
Rama mencabut sebuah tanaman berbulu halus, bunganya keputihan. "Nanti kamu harus mengunyahnya."
"Ih!" Jijik Sinta. "Kamu saja!"
"Yang disuruh cari obat kan kamu." Tawa Rama. "Kamu harus menciumnya deh."
Rama meremasnya, seketika bau busuk menyengat itu menusuk hidung Sinta. Buru-buru dia menutup hidungnya. "Ih, bau banget."
Tawa Rama meledak, "Ya jelas namanya juga obat." Ledek Rama. "Dulu nenekku sering makein ini kalau aku luka pas di rumahnya."
Sinta tak menjawab, dia membungkuk memungut banyak daun-daun itu. Menahan aroma menusuk ketika dia memetiknya. Sembari berpikir, kenapa dia melakukan ini semua?
Lalu dia lanjut berjalan. "Hei, kamu mau kemana?"
"Beli daun sirih." Jawab Sinta.
"Emang punya uang?" Tanya Rama.
Langkah Sinta terhenti. Tidak di dunia nyata, maupun di dunia antah berantah ini, uang selalu menjadi sumber utama masalahnya.
"Kau jadi kuli pasar saja." Usul Sinta pada Rama begitu polos sehingga Rama terdiam. Rama tahu, bahwa kodrat hidupnya adalah untuk mencari nafkah bagi keluarganya, namun tak pernah terlintas bahwa teman kelasnya menyuruhnya menjadi kuli pasar di negeri antah berantah. Minimal dalam benaknya, dia akan menjadi atlet profesional untuk mencari uang, bukan bekerja kasar mengangkut barang.
"Hei, hei." Sahut Rama padanya. "Coba pakai otak cerdasmu, dimana bisa menemukan daun sirih?"
Sinta menghela nafas lalu berpikir, dia tak pernah benar-benar memikirkannya, namun sedikit ingatan dari lomba OSN saat dia SMP samar-samar muncul di kepalanya. Sinta berjalan lagi, tak yakin apakah ilmu yang dia ingat itu benar, atau hanya bentuk putus asa. Mereka berjalan lebih dalam ke dalam hutan.
Di dalam hutan itu, mereka menemukan sebuah pohon besar. Di batang pohon itu, merambat sebuah tanaman dengan bentuk hati. Hati sinta bergejolak, dia tak pernah menyangka akan masuk ke hutan hanya untuk menemukan daun sirih. Sinta memungutnya banyak-banyak.
Mereka kembali ke pinggir air terjun itu. Kembali pada Anak itu dan Pertapa itu.
Pertapa itu mengangguk pada mereka. Lalu melihat Rama. "Carilah buah seperti biasanya, Rama."