Another Side of Sangkuriang

Elizabeth Wu
Chapter #4

Bab 4 - Keluarga Tanpa Darah

“Kak Sinta…” Suara Sangku memelan.

Sinta mengusap matanya, “Ya Sangku, ada apa?”

“Apa… Apa Sangku boleh tidur dengan kak Sinta?”

Sinta mengumpulkan semua kesadarannya. Menepuk sisi samping alas tidurnya. Sangkuriang mengulum senyumnya, mendekati Sinta dan tidur di sampingnya. Di Gubuk ini hanya Sinta yang memiliki kamar.

“Kau tak suka tidur dengan Rama dan Kuri?” Tanya Sinta serak sembari menyelimuti Sangkuriang dengan kain lain.

“Kak Rama bercerita terus dengan Eyang Kuri, sampai aku tak bisa tidur.” Ujar Sangkuriang begitu keras sehingga senyum sinta mengusir semua rasa kantuknya.

Sinta terkekeh mendengarnya. Jangankan Kuri, Rama bisa menjadikan pedagang pasar sebagai sahabatnya sendiri. Entah darimana Kuri memiliki kesabaran untuk mendengarkan celotehan Rama yang tak pernah habis. 

Namun ada hari dimana seseorang hanya ingin tidur saja kan? Seperti hari ini, misalnya.

Sinta mengusap rambut gelap dan tebal sangkuriang. Sesekali jarinya menyentuh bekas luka di kepala sangkuriang. Bekas itu timbul dan kasar. Setiap kali menyentuhnya, Sinta selalu membohongi hatinya bahwa itu adalah hanyalah kebetulan. Bahwa anak kecil disampingnya tak akan berbagi nasib dengan legenda yang dia baca. Atau setidaknya… dia akan berusaha. 

“Dulu saat aku susah tidur, ibuku akan mengusap rambutku seperti ini.” Suara Sinta pelan setengah berbisik. Berbeda dengan suara rama yang masih menggelegar di ruang tengah.

“Bagaimana rupa ibu kakak?” Tanya Sangkuriang.

“Dia…” Kalimat Sinta sedikit menggantung. Tak pernah terbayangkan bahwa dia akan menceritakan bagaimana rupa ibunya, seolah ibunyalah legenda disini. “Banyak yang berkata aku mirip dengannya.”

Sangkuriang tersenyum sembari memejamkan matanya. “Pasti cantik ya.”

Hati Sinta menjadi hangat. Mendapat pujian dari anak kecil selalu terasa menggelitik baginya. Kata ‘Cantik’ bukanlah kata yang orang gunakan untuk mendeskripsikan dirinya. Sinta menyentuh pipi Sangkuriang, “Kau masih kecil, dimana kau belajar memanggil wanita cantik? Jangan bilang Rama yang mengajarkan padamu.”

Sangkuriang membuka matanya. Tersenyum dengan giginya. Menatap Sinta. “Jangan bilang-bilang.”

Sinta meremas lembut lengan Sangkuriang. Bagaimana dia bisa marah pada anak kecil yang begitu menggemaskan ini?

“Apa ibuku juga secantik kak Sinta?” Tanya Sangkuriang padanya. 

Pertanyaan itu tergantung berat di hati Sinta. Karena seberapapun Rama dan Sinta mencoba menggali mengenai orang tuanya, Sangkuriang hanya ingat bahwa ibunya memukulnya dengan centong nasi lalu mengusirnya. Sangkuriang bahkan sudah lari berhari-hari sebelum dia bertemu dengan Rama dan Sinta. Dia tak ingat darimana dia berasal. Dia tak ingat kesalahan yang dia perbuat. Dia tak ingat bagaimana rupa ibu atau ayahnya. Dia tak ingat nama mereka.

Dan itu yang membuat Sinta semakin takut. Takut bahwa anak menggemaskan ini adalah Sangkuriang sang legenda. Takut jika dia tak cukup kuat untuk melawan takdirnya.

Walau Sinta tak pernah bisa menjelaskan, kapan rasa takut itu muncul dan mengalahkan ketakutannya untuk tak bisa kembali meraih mimpinya.

“Semua wanita cantik, Sangku. Apa Rama lupa menceritakan padamu?” 

Dia kembali memejamkan matanya. Menarik selimutnya lebih tinggi. Tangan Sinta kembali di bekas luka Sangkuriang. “Sangku, apa luka ini masih sakit?”

“Hanya sesekali berdenyut, Kak Sinta.”

Sinta mendekat ke arahnya, lalu mencium pelan bekas lukanya. “Sekarang, penyembuhannya sempurna.” Ujar Sinta membual. Sebuah kebohongan yang sering dia katakan pada anak-anak yang dia jaga.

Sinta menyentuh lukanya lagi. Senyumnya semakin lebar sekalipun matanya terpejam. “Terima kasih kak Sin. Sekarang setiap aku menyentuh luka ini, yang kuingat hanyalah Kak Sinta.”

Suara Sangkuriang begitu renyah. Namun di saat yang sama hati Sinta begitu sakit mendengarnya. Walau dia dan ibunya tak pernah benar-benar dekat, namun Sinta tak pernah diusir ataupun dipukul. Namun anak sekecil Sangkuriang, harus merasakan luka secara fisik dan hatinya di masa dia masih muda.

Sinta membenarkan selimut Sangkuriang, mengatakan “Tidurlah.” dengan sangat pelan, namun matanya berkaca-kaca.

Paginya keseharian mereka berjalan seperti biasa. Mereka sarapan, bertapa, jika beras habis, Rama akan ke pasar untuk menjadi kuli. Namun seberapa keras Sinta mencoba untuk bertapa, dia tak pernah bisa benar-benar melakukannya, karena pikirannya terlalu ribut memikirkan banyak hal.

Namun siang ini, Sangkuriang mengajari Rama berburu. Karena berburu adalah hobi Sangkuriang. Sinta mengatakan dia ingin memakan daging hewan, dan bukan hanya daging ikan seperti yang biasa Rama tangkap di sungai.

"Ini tak susah Kak Rama, kau hanya perlu menarik dan tunggu." Bisik Sangkuriang pada Rama sembari dia menarik busurnya, mengarahkannya kepada seekor rusa. "Lalu lepas."

 

Panah itu terbang langsung mengenai rusa itu. Burung-burung di hutan langsung berterbangan. Rusa itu menggeliat. Kesakitan. Rama melihatnya dan mengingat film dokumenter dimana Rusa di terkam oleh singa. Dia tak pernah menyangka bahwa dialah yang kini menjadi singa itu.

"Sekarang, kak Rama tinggal potong kepalanya." Lanjut sangkuriang menatap Rama dengan mata besarnya sembari menunjuk golok besar punya Kuri yang Rama bawa.

Rama melihat Rusa itu menggeliat. Hatinya bergejolak. Walau dia sudah memantapkan diri untuk membunuh hewan, namun melihatnya langsung seperti ini, membuatnya tak tega.

Melihat keengganan Rama, Sangkuriang merebut golok di tangan Rama. Dengan ayunan penuh keyakinan, darah rusa itu menyembur kemana-mana. Membasahi sarung sangkuriang dan rama.

Rama mengalihkan pandangannya. Seberapa keras dia mencoba. Dia tak bisa melihatnya dan membiarkan Sangkuriang yang menyelesaikannya. Rama hanya membantu memasukan potongan rusa itu ke karung yang dia bawa.

Sekembalinya dari pemburuan. Sangkuriang menawarkan mencuci sarungnya, setelah berganti sarung, Rama segera menemui Sinta.

"Pusing aku Sin." Ujar Rama.

"Kau pikir aku tak pusing?" Tanya Sinta mengeluarkan kaki rusa dari karungnya. "Aku hanya tahu cara memasak ayam, dan kalian pulang dengan Rusa. Bagaimana bisa aku tahu resep memasak daging rusa?"

Celetukan Sinta membuat rama tertawa. Segala kegundahannya membunuh hewan lenyap mendengar omelan Sinta. Dia baru sadar ada benarnya.

"Begini saja, jual beberapa bagian rusa ini di pasar, tukar dengan ayam." Sinta memberi ide. "Aku akan mengambil bagian kaki ini, untuk Sangku, kasian dia sudah susah berburu, jika dijual semua nanti dia sedih."

"Aku juga berburu tahu." Jawab Rama.

Lihat selengkapnya