Another Side of Sangkuriang

Elizabeth Wu
Chapter #5

Bab 5 - Hari-Hari Biasa

Ada hari-hari dimana Kuri mengajak mereka untuk naik gunung. Kuri menyebutnya sebagai Seykaysen. 

Rama selalu menyukai Seykaysen. Baginya ini seperti liburan. Sementara Sinta hanya heran kenapa rasanya seperti mengatakan staycation dalam logat Sunda.

“Ada sebuah tempat yang sangat indah di atas bukit.” Ujar Kuri tenang.

Rama begitu bersemangat. Pagi-pagi dia sudah membawa ranting yang dibentuk menyerupai hiking pole untuk Sinta, Sangkuriang, serta dirinya.

 

"Kita mendaki gak pakai sepatu?" Tanya Rama pada Kuri.

 

'Apa dia berharap memakai sepatu hiking gonjreng miliknya?' Batin Sinta.

 

Kuri menjawab dengan suaranya yang dalam. "Tidak."

 

Mereka mulai mendaki. Selangkah demi selangkah. Menyesuaikan langkah Sinta yang sudah menyerah setiap 300 meter perjalanan. 

 

"Disana gunung disini gunung." Celetuk rama.

 

"Cakep." Sinta membalas tanpa banyak berpikir. Sebuah kebiasaan lama, setiap dia mendengar kata berima. 

Rama menyibakan rambutnya kebelakang. "Emang gue cakep."

 

Sinta menyesali apa yang dia ucapkan barusan. Dia menepuk jidatnya.

 

"Apa itu cakep?" Tanya Sangkuriang.

 

"Cakep itu ganteng, Sangku. Enak dipandang seperti aku." Jelas Rama padanya.

 

"Jadi kak Rama cakep?"

 

"Benar."

 

"Pemandangan juga cakep?"

 

"Benar."

 

Sinta menutup matanya. Bocah Sunda zaman antah berantah polos ini terkontaminasi banyak kosakata aneh karena Rama.

 

"Terus kenapa tadi kak Sinta bilang cakep untuk menjawab kak Rama?"

 

Rama berdeham. "Jadi kalau kakak ada ngomong sesuatu yang berima, kamu bilang cakep, gitu ya."

 

"Oh. Baik. Baik." Sangkuriang terdengar begitu bersemangat. “Rima itu apa ya?”

“Rima itu saat sebuah kata memiliki akhiran yang sama Sangku.” Ujar Kuri sembari memakan buah kecapi bersama Sinta. Sebuah senyum kecil mengembang di wajahnya. “Seperti gunung dengan punggung, tanduk dengan duduk.”

“Baik, Guru.” Ujar Sangkuriang semangat.

Rama berdehem keras, memastikan Sangkuriang mendengarnya. "Disana gunung, di situ gunung."

Rama menatap Sangkuriang. Mata Sangkuriang membesar. ‘Ini dia! Ini dia!’ jerit Sangkuriang dalam hati.

"Cakep!"

Sinta melihat jalur yang tadi dia daki. Berharap menggelinding saja sampai bawah.

"Sinta bingung, siapa mau tulung."

"Cakep!"

 

Rama tertawa sembari mengacak rambut Sangkuriang. Melihat tawa Rama yang begitu renyah, Sangkuriang ikut tertawa. Walau dia tak yakin apa yang dia tertawakan.

 

Sejak hari itu Sinta bersumpah, dia tak akan mau diajak Kuri untuk naik gunung lagi.

Lihat selengkapnya