Mimpi sinta untuk menjadi Auditor yang dulu terasa begitu dekat di depan mata, kini nampak seperti sebuah mimpi yang semakin hari terasa semakin jauh. Namun meskipun begitu, Sinta tak bisa memungkiri dia menyukai perasaan baru hidupnya ini. Dia menyukai kehidupan sederhana yang tak pernah dia dapatkan sebelumnya.
Kehidupan yang tidak perlu memikirkan uang.
Kehidupan yang tidak perlu memikirkan nilai.
Kehidupan yang tidak perlu harus berkerjar dengan waktu…
Kehidupan yang Sinta bisa nikmati… hanya sebagai Sinta. Sinta yang adalah seorang murid Kuri. Sinta yang mencintai Sangku. Sinta yang terjebak dengan Rama.
Sangku tumbuh dewasa dan kian meninggi bagaikan pohon yang kokoh. Sementara Sinta dan Rama, tidak berubah bentuk sedikitpun. Kuku mereka tak bertambah panjang. Rambut mereka tak bertumbuh maupun gugur. Seluruh penampilan mereka membeku dengan waktu.
“Sinta.” Ujar Kuri.
“Ya, Guru.” Jawab Sinta merapikan ikan bakar yang dia buat dan letakan diatas daun pisang.
“Apa Rama dan Sangkuriang belum kembali?”
“Mereka tadi sudah kembali dari berburu, namun aku memintakan mereka mengambil beberapa buah untuk Guru.” Jawab Sinta tenang. Namun dia juga menyadari, matahari semakin bersembunyi. Rama dan Sangkuriang belum kembali juga.
Kuri berdiri dari depan Sinta. “Perasaanku tidak enak, bisakah kau mencari mereka ke sisi Timur, Sinta? Aku akan mencari ke sisi barat.”
Sinta berdiri. “Baik guru.”
Perlahan dia memakaikan selendangnya, masuk ke dalaman hutan. “Rama, Sangku, ayo kembali. Hari sudah mulai malam.” Ujar Sinta menggema di hutan.
“Rama! Sangku!” Dia mulai berteriak.
Sinta terus berjalan. Semakin dalam di hutan. Semakin gelap. “Rama! Sangku!”
Namun tak ada suara menyaut teriakannya. Sinta tak menyerah dan terus berjalan. Sampai langit berubah gelap. Hanya disinari cahaya rembulan. Dia berpikir apa mereka sudah kembali bersama dengan kuri atau tidak.
Namun Sinta terus berjalan ke kedalaman hutan. Meneriakkan nama mereka.
Akhirnya, suara itu terbalas. “Ah! Sin!” Teriak Rama mendengar Sinta. Rama langsung berlari mendekat ke arah Sinta.
“Kenapa kalian belum pulang? Ini sudah gelap.” Sinta berkacak pinggang padanya.
“Aku sudah bilang pada bocah itu.” Ujar Rama. “Namun dia bersikeras ingin mencari buah Kecapi kesukaanmu.”
“Tapi ini bukan musimnya.”
“Itu yang sudah ku katakan padanya.”
Sinta berjalan makin dalam ke hutan dengan Rama mengikutinya. “Sangku! Sangku!”
Sangku menoleh padanya. “Kak Sinta.”
“Ayo pulang, apa yang kau lakukan?”
Sangku meremas tangan di balik badannya. “Saya masih ingin disini, kak Sinta.”
“Tapi ini sudah malam, bahaya jika kita masih di hutan.” Omel Sinta padanya.
“Tapi aku belum mendapat buah kesukaan kakak.”
“Apa?” Seketika jantung Sinta terhantam. Bagaimana bisa anak ini membahayakan dirinya hanya karena Sinta berkata tadi pagi bahwa dia menyanyangkan kalau sekarang bukan musim Kecapi?
Lingkungan mereka mendadak menjadi hening. Terlalu hening. Bahkan serangga kehilangan suaranya.
Sinta meraih tangan Sangkuriang. “Kita pulang.”
“Tapi-”