Another Side of Sangkuriang

Elizabeth Wu
Chapter #7

Bab 7 - Kembalinya Legenda

Tawa yang tak terhitung lagi jumlahnya, bulan yang timbul dan tenggelam, membuat Rama dan Sinta melupakan bahwa anak yang mereka temukan di gua dengan kepala yang terluka, sekarang tak bisa disebut sebagai ‘anak’. Tinggi Sangkuriang sudah mengalahkan Rama beberapa senti. Tubuhnya membesar. Kulitnya menggelap. Fitur kekanakannya kini lenyap sepenuhnya.

Sangkuriang menjadi sosok yang disayangi oleh Rama, Sinta, dan Kuri. Sakti. Dan Luar biasa tampan. Setiap dia menemani Rama ke pasar, semua gadis desa dan penjual selalu meliriknya. Rama seolah tembus pandang jika dia berada di samping Sangkuriang.

Karena Sangkuriang yang sudah dewasa, sesekali mereka bertiga pergi tanpa Kuri. Karena Kuri semakin menua, dia lebih suka berada di sekitar air mancur. Sementara Rama dan Sangkuriang, sangat menyukai pemandangan dari atas gunung. Sinta mengikuti mereka. Bukan karena suka gunung, melainkan karena dia tak mempercayai mereka berdua mengingat kejadian harimau itu. 

"Kali ini staycation kita adalah di daerah hutan yang jauh." Sahut Rama begitu bersemangat. "Katanya disana ada dataran tinggi yang cantik sekali."

Rama memang terkenal suka menjelajah ke berbagai tempat. Bahkan setelah dia masuk ke dunia sangkuriang, dia selalu menyempatkan diri untuk jalan-jalan, dengan izin dari Kuri tentu saja.

Sinta yang hanya suka di rumah atau gubuk mereka, mau tak mau mengikuti, karena dia takut ada hal bahaya terjadi pada Sangkuriang jika dia tak bersama mereka.

"Yes! Kita akan Seyka... Seyka... Seykasen.." sangkuriang mencoba mengatakannya.

"Staycation." Potong rama. "Stay... ca... sen..."

"Sutay.. ka..sen.."

"Iya, benar Sangku." Sinta bertepuk tangan padanya. Semakin lama Sangkuriang bersama dengan Rama, semakin banyak kosakata aneh di antara mereka.

 

Sinta menginjak kaki Rama. "Bisa-bisanya kau mengajarkan bahasa inggris?"

 

"Lho, itu bukan bahasa indonesia?"

 

"Bukan goblok."

 

Mereka melanjutkan perjalanan mereka. Sampai tiba di tengah hutan tak jauh dari tempat gunung yang hendak mereka daki. Mereka istirahat sebentar karena Sinta lelah, sementara Sangkuriang pergi mencari makanan.

 

"Ini, makanlah." Rama membuka kulit buah kecapi dengan batu dan memberikannya pada Sinta.

 

"Terima kasih." Sahut Sinta memakannya.

 

"Sangku nanti dapat buruan apa ya?" Tanya Rama.

 

"Paling Rusa seperti biasa."

 

Rama mengangguk setuju. Kini Sinta sudah belajar cara memaksa Rusa yang benar. 

“Tidak terasa ya, dia anak yang gemetaran pertama kali bertemu kita.”

Lihat selengkapnya