Ada beberapa hal yang Sangkuriang amati sejak dia muda. Yaitu hubungan Rama dan Sinta.
Bagaimana tidak, sekalipun setiap hari mereka selalu adu mulut, Rama dan Sinta tak pernah membenci satu dengan lainnya. Sinta melembut ketika Rama sakit atau kelelahan. Sementara Rama, selalu membawa buah Kecapi, buah yang Sinta sukai.
Sama seperti malam ini. Ketika dia tak bisa fokus bertapa dalam gua, dia berjalan ke bibir gua itu. Sangkuriang tak melihat langit. Sangkuriang menatap Rama yang di tangannya membawa buah kecapi yang terbuka, dan Sinta memakan daging buahnya.
Ada satu hal yang selalu Sangkuriang herani, kenapa mata Rama selalu melembut ketika memandang Sinta? Sebuah tatapan yang tak pernah dia atau Kuri dapatkan darinya.
Sangkuriang pernah menanyakannya. Namun Rama hanya tertawa dan mengatakan bahwa dia berpikir terlalu jauh. Tapi tidak. Sangkuriang yakin, bukan seperti itu cara Rama memandang Kuri.
Sementara Sinta di sisi lain, dia nampak selalu lega setiap melihat Rama. Jika pergi berdua dengannya, pundak Sinta pasti menegang. Padahal Sangkuriang sudah jauh lebih tinggi dan besar darinya. Namun setiap dia bertemu dengan Rama, pundak itu kembali turun.
“Kalau dulu, kita harus berpergian jauh untuk melihat bintang dan bulan sejelas ini ya, Sin.” Ujar Rama memandangi langit. Mengingat, betapa mahalnya pemandangan malam hari tanpa polusi cahaya di Jakarta.
“Sekarangpun tetap jauh Rama, hanya saja gratis, cuma lelah.” Kekeh Sinta pelan.
“Cantiknya…” Gumam Rama memandangi langit.
Namun bagi Sangkuriang… Dayang Sumbi bahkan mengalahkan kecantikan malam.
Sangkuriang berjalan mendekati mereka. Suara langkah kakinya membuat Sinta berbalik padanya.
“Sangku, ada apa? Tidak seperti biasanya kau tak bisa bertapa lama?” Tanya Sinta padanya.
Sangku menimbang, apa dia harus menceritakan bahwa dia hendak melamar Dayang Sumbi selesai mereka turun dari gunung ini?
Namun Dayang Sumbi berkata bahwa dia ingin bertemu Rama dan Sinta juga kan…
Lagi pula aku sudah berjanji akan melamarnya dengan benar saat kembali mengembalikan mangkuk itu.
“Ah, kau lagi galau ya?” Tanya Rama merangkulnya. “Galau kenapa? Pasti karena cewek. Cewek yang masak buat kami juga ya?”
“Galau itu apa?” Tanya Sangkuriang padanya.
Sinta menghela nafas panjang. “Galau itu, ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikiranmu Sangkuriang.”
Sangkuriang menatap Sinta yang masih mencoba menyelesaikan buahnya, “Kak Rama dan Kak Sinta, tidak menikah?”
Sinta seketika tersedak. Rama buru-buru mengeluarkan kantung airnya.
“Sangku, apa yang kau bicarakan, mana mungkin aku menikahi iblis ini?” Kekeh Rama.
“Idih, sapa juga mau sama lu.” Keluh Sinta.
Sangku berjalan, lalu duduk dekat mereka. “Kenapa? Bukankah kak Rama dan kak Sinta saling berdebar?”
Tawa Rama pecah memenuhi heningnya malam. “Belahlah dadaku, kau tau jantungku rasanya mau berhenti setiap menatap dia.”
“Untung saja aku sudah tak mempunyai hati sejak lama.” Balas Sinta padanya, lalu menatap Sangkuriang kembali. “Sangku, ada apa? Kau pasti ingin menceritakan sesuatu.”
Sangkuriang meremas tangannya. Kebiasaan yang selalu dia bawa sejak mereka menemukannya sampai dia dewasa.
“Ini tentang temanku…” Jawabnya pelan nyaris berbisik.
“Yang masak rusa tadi?” Tanya Rama dengan senyum jahilnya.