Another Side of Sangkuriang

Elizabeth Wu
Chapter #9

Bab 9 - Pengkhianatan

“Kak Sinta! Kak Sinta!” Ujar Sangkuriang berlari kencang mendapati Sinta yang sedang memutar ikan tangkapan Rama di pinggir sungai. Dengan bangga dia mengeluarkan tiga buah kecapi. “Satu buat Kak Sinta, satu buat Kak Rama, satu buat Guru Kuri.”

“Lalu mana buatmu, Sangku?”

“Eh… iya?”

Sinta tertawa mendengarnya, dia mengambil batu untuk membantu mengupas buah dengan kulit yang keras itu. “Kalau begitu, setengah buat Sangku, setengah buat Kak Sinta. Terima kasih banyak, Sangku.”

“Sangku ambil jatah kak Rama saja!”

Tawa Sinta kembali lepas, dia mengusap-usap rambut hitam Sangkuriang.

Sangkuriang yang dia lihat, berubah perlahan dengan banyaknya jumlah matahari yang timbul dan tenggelam.

“Kak Sinta!” Ujar Sangkuriang dengan suara tinggi.

“Kak Sinta.” Ujar Sangkuriang dengan nada rendah.

“Kak Sin.” Ujar Sangkuriang dengan nada yang dalam.

Rama yang tak berubah sedikitpun di samping Sangkuriang, bagaikan kontras yang terus menyakiti hatinya.

Sekuat tenaga Sinta dan Rama berusaha semua yang mereka bisa, untuk merawat, membesarkan, dan mencintai Sangkuriang. Mereka terus menyangkal bahwa anak dalam pelukan mereka bukanlah Sangkuriang dalam legenda. Mereka berusaha menahannya. Mencegahnya.

Namun takdir seolah meludahi mereka berdua tepat di wajah. Semua usahanya untuk mencegah legenda itu hanyalah sia-sia belaka. Bahwa belasan tahun yang mereka habiskan dengan Sangkuriang tak ada artinya sama sekali.

Air mata Sinta membasahi wajahnya. Hatinya hancur diinjak-injak oleh takdir. “Tidak! Aku tidak akan merestui hubungan kalian!” Sentak Sinta.

Mata Sangkuriang membesar, melihat Sinta menangis dan membentaknya. Sesuatu yang tak pernah Sinta lakukan padanya. “Kak Sinta…” Sangkuriang mendekat padanya, tangannya terulur berusaha mengusap air matanya yang mengalir di wajah Sinta.

“Jangan menyentuhku!” Sintak Sinta lagi mundur selangkah dari Sangkuriang. “Bersumpahlah kau tidak akan menikahinya, Sangku!”

Mulut Sangkuriang terbuka lebar, namun tak ada kata yang berhasil keluar darinya. Dayang Sumbi menyentuh lengan Sangkuriang dan mendekati Sinta. Namun Sinta mundur selangkah pada setiap langkah yang diambil Dayang Sumbi.

Rama di sisi lain, terpaku di tempat. Pikirannya berubah menjadi gelap. Dia tak bernafas. Dadanya seolah ditekan batu yang berat. Pijakannya hilang begitu saja.

Legenda yang mereka mati-matian untuk ubah, kini berputar kembali pada porosnya. Semua kenangan mereka berputar dalam pikiran Rama.  

“Ibu Sinta, kenapa anda berubah pikiran hanya karena mendengar nama saya?” Tanya Dayang Sumbi padanya.

Sinta meremas dadanya. Berusaha mengumpulkan semua keberaniannya. “Karena kau… Karena kau… Kau adalah ibunya.” 

Dayang Sumbi tersentak, seketika langkahnya terpaku. “Itu tidak mungkin…” Ujarnya pelan. Namun fakta bahwa Sangku sangat mirip dengan mendiang suaminya, menghantam pikirannya. Dia memandang Sangku. Namun yang dia lihat adalah Tumang, Suaminya.

Dayang Sumbi berusaha menepisnya. 

Sangkuriang langsung mendekat pada Sinta. "Apa yang kakak bicarakan? Ibu saya adalah kak Sinta."

Sinta meraih tangannya. "Tidak... tidak Sangku... wanita ini adalah ibu kandungmu..."

Sangkuriang diam. Menatap Dayang Sumbi yang sama terkejutnya.

Rama yang tak tahan mendengar isakan Sinta langsung mendekat, menarik ikat kepala Sangkuriang memperlihatkan bekas luka di kepalanya. "Kau lihat bekas luka ini? Ini bekas luka karena kau melemparnya dengan centong setelah Sangkuriang pulang dengan hati Tumang!" Jerit Rama pada Dayang Sumbi.

Mendengar dan melihat bekas luka itu, membuat Dayang Sumbi tersungkur dan tersiak. Semua dusta yang dia katakan ke dirinya sendiri hancur. “Tidak… Tidak… Tidak mungkin…”

Sangkuriang mengibaskan rambutnya menutupi bekas luka itu. Menatap Rama. Rama yang adalah orang pertama yang membalut lukanya. Rama yang adalah sosok pelindungnya selama ini. “Ini bohong kah? Ini bohong kan?”

“Aku bahkan tak mengetahui siapa ibu kandungku dan kalian tiba-tiba mengatakan bahwa dialah ibuku?” Suara Sangkuriang bergetar. 

Rama terdiam menatap Sangkuriang. Tangannya mengepal, tak tahu apa yang harus dia katakan. 

“Tolong katakan kalian berdua berbohong padaku!” Jerit Sangkuriang pada Rama dan Sinta bergantian. Sembari mengguncang pundak mereka. 


Enggak.

Ini gak benar.

Ini pasti salah.

Gak mungkin…

Gak mungkin ibuku berparas seperti Dayang Sumbi…

Gak mungkin!

Gak mungkin kak Rama dan Kak Sinta…

Gak mungkin mereka bohong pada Sangku kan?

Gak mungkin…

Kak Rama dan Kak Sinta tidak pernah berbohong pada Sangku…

Ujar Sangkuriang dalam hati.


Diamnya Rama dan Sinta bagaikan vonis hukuman mati bagi Sangkuriang. Orang yang selama ini merawatnya, berani membohonginya sekejam ini. 


Tapi kenapa…

Kenapa mereka membohongi Sangku yang ingin menikahi dayang sumbi?

Padahal… kak Rama dan kak Sinta begitu baik padaku...

Merawatku…

Lalu kenapa..

Kenapa mereka membohonginya dengan dusta yang akan membuat Dewa marah?

Karena tidak mungkin mereka mau merawat Sangku, jika tahu bahwa ibunya masih hidup.

Tidak mungkin.

Lihat selengkapnya