Sinta memegang dadanya. Rasa sakit tatapan benci terakhir Sangkuriang begitu membekas di benaknya. Dia masih terisak dalam pelukan Rama.
"Kita melakukan hal yang benar Sin, kita melakukan yang benar. Kita menjauhkan Sangkuriang dari dosa besar jika dia melanjutkan pernikahan itu." Isak tangis Rama memeluknya.
Sinta hanya bisa mengangguk. Karena hatinya begitu hancur. Tak pernah ada yang memberitahunya bahwa rasa sakit karena melakukan hal benar itu sesakit ini. Dia terus bergulat, apakah sakit hatinya sepadan dengan kebenaran yang mereka lakukan? Atau mungkin… mungkin seharusnya dia menutup mata dan membiarkan pernikahan itu terjadi?
Mereka tahu jawaban yang benar. Dan mereka tahu jawaban mana yang akan menyenangkan hati mereka dalam kesemuan.
Rama terus mengusap punggung Sinta. Dia berusaha menenangkannya bahkan dengan lembut menyeka air mata Sinta, saat dia sendiri berderai air mata. Hati Rama tidak kalah pedihnya dengan Sinta. Karena dialah yang pertama menemukan Sangkuriang, dialah yang mengusulkan pada Sinta untuk merawatnya sembari mereka mencari jalan keluar. Seluruh sakit hati ini adalah tanggung jawabnya, batin Rama.
“It’s okay, it’s okay.” Ujar Rama terus berusaha menenangkan Sinta. Namun berapa banyak kalimat yang keluar, Sinta tak pernah bisa membalasnya. Hatinya terlalu sakit bahkan untuk mengatakan sebuah kata.
Setelah tangisan itu mengering. Yang tersisa hanyalah isakan mereka berdua tanpa air mata lagi.
Rama mengusap wajahnya lembut, berusaha menenangkan dirinya juga. Mereka saling memandang untuk waktu yang lama. Rama bahkan melepaskan kacamata Sinta serta mengelapnya dengan ujung kemeja seragamnya. Lalu menghapus jejak air mata Sinta di wajahnya, dan memasangkan kacamata Sinta kembali padanya.
“Ini masih hujan deras, biarkan aku mengantarmu.” ujar Rama mengusap punggung Sinta. “Tolong Sinta, aku memaksa.”
Sinta mengangguk lemas. Seluruh tenaganya sudah habis menangisi kepergian Sangkuriang.
Rama segera mengambil handphone untuk menelpon ibunya. Ibu dan ayahnya menjemput mereka.
Di mobil. Rama dan Sinta hanya bisa terdiam dalam. Mereka tak saling bicara apapun. Saat tiba di gang rumah Sinta. Rama berjalan memayungi Sinta sampai gadis itu masuk ke rumahnya. Disitulah, untuk pertama kalinya lagi, mereka berpisah. Tak lagi tinggal di gubuk Kuri bersama. Namun kembali ke dunia masing-masing.
Langkah Rama terasa berat melihat pintu Rumah Sinta yang tertutup di depannya. Dia menyusuri gang itu berjalan pelan. Setiap langkahnya bagaikan cabikan-cabikan di hatinya.
Rama sudah sering berpacaran. Lalu putus.
Tapi malam ini, hatinya hancur melebihi semua sakit hati yang dulu dia pernah rasakan.
Rama masuk kembali ke mobilnya.
“Rama.” Sahut ibunya, sembari ayahnya menyopiri mereka.
“Ya, mama.”
“Mama senang kau baik dengan gadis miskin seperti Sinta, kita tak boleh pandang bulu saat berteman dengan seseorang.”
Bagi Rama, Sinta bukan lagi gadis miskin ambisius. Ibunya tak tahu, bahwa anaknya dan Sinta sudah melalui sakit hati terbesar dalam hidup mereka. Tak mungkin Rama membiarkan Sinta bergelut sendirian. Bahkan jika bisa, Rama ingin sekali tetap di sisi Sinta. Walau dia juga tak yakin apa yang bisa dia lakukan.
Rama mengibaskan rambutnya yang basah. “Ya, mama.”
Pintu rumah Sinta terbuka. Ibunya yang sedang menyetrika seragam Sinta untuk besok, terkejut melihat anaknya pulang. Namun melihat wajah Sinta, ibunya mematikan setrikaan itu. Berdiri. Dan memeluknya. Tanpa Sinta mengatakan apapun.
Tangis Sinta yang sudah mengering kembali mengalir deras. Dia memeluk ibunya erat-erat.
Ibunya tak memahami apa yang barusan terjadi. Dia berpikir anaknya baru saja melewati patah hati terbesarnya. Dan dia benar.
Jadi dia bertindak sebagai seorang ibu yang mencintai anaknya. Memeluknyam mengusap rambutnya. Ibunya tak tahu bahwa sentuhan ibunya selalu membawa kenangan apa yang Sinta lakukan pada Sangkuriang, dan setiap sentuhan itu bagaikan pisau yang terus menggores hati Sinta.
Sinta terus berpikir apa yang dia lakukan selama belasan tahun di cerita itu hanyalah sia-sia. Tak ada gunanya.
Namun semakin Sinta menyesali semua perbuatannya, wajah Sangkuriang terus muncul dalam benaknya.
Sinta tak bisa terlelap.
Jadi dia bangkit dari ranjangnya. Mengambil pena dan kertas folionya. Dan menuliskan sebuah kalimat besar-besar.
"ANOTHER SIDE OF SANGKURIANG"
Sinta menulis semua kenangan yang dia ingat bersama Sangkuriang. Bagaimana pertama kali mereka bertemu, bagaimana Sangkuriang memanggil dia kakak pertama kali, Bagaimana Sangkuriang terus membawakan buah kecapi untuknya, Bagaimana Sangkuriang perlahan-lahan semakin bertambah dewasa.
Sinta menuliskannya.
Detail.
Karena tak ada lagi yang bisa dia lakukan, selain menulis semua kenangannya menjadi surat cinta untuk Sangkuriang.
Paginya, dia menyerahkan itu ke Rama di sekolah. Rama membacanya sekilas, “Ini luar biasa, Sin. Kita pakai ini saja untuk pementasan kita ya, aku akan membaginya menjadi scene untuk pementasan kita setelah berdiskusi dengan Pak Roger.”
Setelah mengantongi restu dari Pak Roger untuk membuat kisah retelling ini, Rama mulai mengetikan tulisan Sinta di komputernya.
Dia mengubah nama tokoh dari naskah Sinta mereka berdua dengan nama lain sebagai Joko dan Ani.
Scene demi scene Rama ketikan di laptopnya. Namun setiap menyelesaikan sebuah scene, air mata itu selalu berhasil menemukan cara untuk keluar dari mata Rama.
Tok. Tok. Tok.
Rama buru-buru mengusap wajahnya. Pintu itu terbuka, seorang anak sepinggang Rama membuka pintunya. Arjuna. Adik Rama.
“Kak Rama gak makan malam?” Tanya Arjuna padanya.
Rama memandangnya lama. Alasan dulu kenapa Rama mau membantu Sangkuriang, adalah karena dirinya. Karena Sangkuriang mengingatkannta pada adiknya Arjuna. Dan kini, Arjuna yang mengingatkan dirinya akan Sangkuriang.
Betapa takdir telah membolak balikan hati manusia ini.
“Kakak akan menyusul, kau bisa duluan makan dengan papa dan mama.” Jawab Rama padanya sembari memulas senyum terbaiknya.