Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang
Hutan, gunung, sawah, lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa
“Ibu Pertiwi” oleh Ismail Marzuki
Aku—Erwin sedang duduk di kursiku menonton televisi seperti biasa, melihat berita mengenai pengeboman yang terjadi malam ini beserta keributan diskusi setengah debat antara pembawa acara berita, pakar, anggota kepolisian, dan pemuka agama. Seperti biasa, pemuka agama kembali dipojokkan. Media memang selalu seperti itu sejak kejadian pesawat yang menabrak gedung WTC pada 11 September 2001 lalu dan maraknya kejadian terorisme oleh kaum fundamentalis.
Hanya saja kali ini bom yang meledak bukanlah kesalahan kaum fundamentalis, melainkan konspirasi yang dibuat oleh sebuah partai. Anakku dan teman-temannya di divisi siber sudah mendapatkan kumpulan rencana busuk partai yang sekarang berkuasa, tetapi aku khawatir.
Tidak, aku tidak hanya khawatir mengenai nasib anakku. Aku khawatir mengenai nasib mereka yang turut serta berjuang bersamaku dan anakku. Lodewijk sudah berhasil mereka jebak, dan hingga saat ini aku belum mendapat kabar dari anakku. Aku hanya mendapat kabar seputar perkembangan kondisi di lapangan berdasarkan laporan para anak buahku yang menurutku hanyalah formalitas belaka, padahal sebagian dari kami sudah mengetahui siapa dalang di balik semua ini.
Aku membuka smartphone dan menulis pesan kepada Hare Hoogheid Sofia untuk meminta teman peretasnya menyebarluaskan rencana busuk partai yang anakku telah berikan padanya dalam bentuk file yang disimpan di dalam hard disk tempo hari.