Arsyad mengusap layar ponselnya, melihat-lihat kembali konten yang sering ia buat bersama sahabatnya. Selain aktif mengisi kajian dan ceramah, Arsyad memang gemar membuat konten bernyanyi lagu religi atau selawat untuk diunggah ke media sosial miliknya.
Suaranya yang merdu dan lembut menjadi ciri khas tersendiri, membuat tak sedikit kaum hawa yang mengaguminya.
"Kangen bikin konten, ya?" tanya Yusuf.
"Iya," jawab Arsyad singkat.
"Ayo bikin konten lagi! Udah berapa bulan kita gak upload video," sahut Yusuf bersemangat.
"Lagi malas."
"Malas terus. Coba lihat di IG ana, udah banyak yang nanya kapan kita bakal nyanyi lagi. Pada kangen tuh."
"Nanti."
"Nantinya kapan, Mar?" Yusuf memang lebih akrab memanggil Arsyad dengan sebutan Ammar, nama depan Arsyad—Muhammar.
"Gak tahu."
"Nunggu mood," lanjut Arsyad.
"Udah kayak cewek aja pakai mood-mood-an segala."
"Lama-lama dirimu yang ana mood-in," canda Yusuf.
Mendengar ucapan sahabatnya, Arsyad langsung menoleh ke arah Yusuf dengan tatapan datar dan tidak bersahabat.
"Hehe, canda, Mar. Gitu aja marah."
Arsyad memilih diam tanpa berniat membalas ucapan Yusuf. Matanya kembali menatap layar ponsel yang menampilkan videonya saat sedang bernyanyi.
•••
Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB. Nazella telah menyelesaikan tiga mata kuliahnya hari ini.
Nazella dan Siska berjalan keluar kelas menuju kantin fakultas. Suasana kantin pada siang hari seperti ini biasanya sangat ramai.
"Rame banget, gila," ujar Nazella.
"Iya. Eh, duduk di sana aja! Itu kosong," tunjuk Siska ke bangku di bawah pohon mangga.
"Ya udah, yuk ke situ."
Mereka berdua berjalan ke arah bangku tersebut. Setelah memesan makanan dan menyampaikannya kepada petugas kantin, Siska beranjak dari tempat duduknya.