Dua mata ini … kupikir adalah kutukan yang akan terus menyiksa sepanjang hidupku. Indera penglihatan yang harusnya jadi alat untuk melihat keindahan dunia, justru membuatku melihat sesuatu yang tak bisa dilihat kebanyakan manusia.
Tak cukup hanya dengan melihat makhluk gaib, mata ini … membuatku melihat sisi kelam manusia—warna jiwa mereka. Semakin banyak aku bertemu manusia, aku mulai kehilangan kepercayaan pada mereka. Di balik wajah yang alim dan lembut, aku melihat jiwa yang gelap. Di balik doa dan pujian, aku melihat kemunafikan.
Aku nyaris kehilangan kepercayaan pada manusia, sampai aku bertemu denganmu. Kamu dan warna jiwamu yang nyaris putih, menumbuhkan kembali harapan kecil di hatiku—sebuah harapan bahwa di luar sana, masih ada seseorang yang tulus dan memiliki kebaikan di hatinya.
Ironisnya, mata yang aku benci ini … justru adalah jalanku untuk menemukanmu.