ANTARCHAYA

mahes.varaa
Chapter #2

WARNA JIWA

Nurantara, 16 Mei 2025 

Pintu mobil tertutup pelan, menyisakan bunyi klik yang tenggelam dalam desir angin pagi. Arka diam sejenak. Matanya menatap rumah bercat putih yang berdiri di ujung halaman. Bangunan itu tak pernah berubah sejak ia kecil. Catnya selalu tampak baru. Halamannya selalu bersih. Bahkan pohon sawo tua di sudut pekarangan seolah enggan menua. 

Rumah itu terlihat biasa. Terlalu biasa. Padahal, hampir setiap hari selalu ada orang yang datang dengan wajah penuh harap … lalu pulang dengan mata sembab, tubuh lemas, atau sesekali membawa senyum yang terasa lebih ringan daripada ketika mereka datang. 

Arka mengembuskan napas panjang. 

Biasanya ia baru menginjakkan kaki di rumah itu setiap akhir pekan. Hari Jumat adalah hari yang biasanya sunyi tanpa pengunjung karena sang kakek sengaja menutup pintu bagi tamu. Hari itu hanya diperuntukkan bagi keluarga, ibadah, dan beristirahat dari begitu banyak beban yang dititipkan orang lain. 

Namun hari ini berbeda. Ada urusan yang membuatnya harus datang lebih awal. Cukup penting hingga ia mengambil cuti kerja tanpa pikir panjang. 

“Assalamualaikum, Ra Arka.” 

Suara itu itu membuyarkan lamunannya. 

Prasetya bergegas turun dari teras. Kemeja koko krem yang dikenakannya berkibar pelan diterpa angin. Wajahnya tampak teduh seperti biasa, tapi kerutan di dahinya memberi tahu Arka bahwa hari ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. 

Lora, atau biasa disingkat Ra, merupakan gelar kehormatan bagi seorang putra kiai atau tokoh agama yang disegani di lingkungan pondok pesantren. 

“Waalaikumsalam, Pak Pras.” 

Arka menurunkan sedikit kacamata hitamnya. Sorot matanya langsung jatuh pada lima orang yang duduk berjajar di teras. Dalam sekejap, warna-warna yang tak kasatmata muncul tepat di dada mereka. Abu-abu pekat. Tak satupun memancarkan warna yang jernih. 

Ia kembali menaikkan kacamatanya, seolah apa yang baru saja dilihat hanyalah pemandangan biasa. Padahal, warna jiwa tak pernah benar-benar berbohong. Semakin gelap warnanya, semakin buruk jiwanya. 

Seorang perempuan duduk menggenggam tas di pangkuannya begitu erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, pria berusia sekitar lima puluhan terus mengusap tengkuk seolah udara sedang sangat panas, padahal angin berembus cukup kencang. Yang lain hanya menunduk, sesekali melirik ke arah pintu rumah. 

Wajah-wajah seperti itu sudah terlalu sering dilihat Arka—wajah orang yang kehilangan pegangan. Pasien. Begitulah ia menyebut mereka. Bukan karena mereka sakit secara fisik. Melainkan karena mereka datang membawa sesuatu yang tak bisa diselesaikan dokter, polisi, ataupun pengacara. 

“Seingatku …” Arka kembali menaikkan kacamatanya. “Kakek enggak nerima tamu di hari Jumat.” 

“Iya, Ra.” Prasetya mengangguk pelan. “Saya sudah jelaskan berkali-kali. Tapi mereka tetap ngeyel mau ketemu Pak Kiai Sepuh.” 

“Enggak ada yang mau pulang?” 

Prasetya menggeleng. “Enggak.” 

Arka menghela napas lagi. 

Entah sejak kapan manusia menjadi begitu yakin bahwa masalah mereka selalu lebih penting daripada batas yang dimiliki orang lain. Atau mungkin … rasa putus asa memang selalu membuat orang lupa cara menghormati penolakan. 

“Biar aku yang urus.” 

Kalimat itu meluncur pelan. Namun cukup untuk membuat Prasetya menoleh cepat. 

“Ra …?” 

Arka tak menjawab. 

Ia memasang kembali kacamata hitamnya hingga menutupi sorot mata yang semula tampak lelah. Kalau harus jadi orang jahat agar mereka menyerah, ia tak keberatan. Lagipula, bukan satu dua kali ia melakukannya. 

Tas kertas di tangan kirinya, bergoyang mengikuti langkah. Kemeja hitam dengan lengan tergulung hingga siku, celana kain dengan warna senada, serta satu tangan yang santai berada di dalam saku membuatnya tampak seperti pria muda yang arogan. Sulit membayangkan bahwa lelaki dengan penampilan seperti itu tumbuh di lingkungan pesantren dan merupakan cucu tunggal dari seorang kiai besar yang dihormati banyak orang. 

Padahal aku sedang buru-buru … 

Ia mendecak dalam hati. Hari ini pikirannya dipenuhi urusan lain. Sayangnya, untuk masuk ke dalam rumah, ia harus melewati mereka lebih dulu. Artinya … sekalian lewat, sekalian dibereskan. 

Begitu melewati para tamu dan hendak melangkah masuk ke dalam rumah sang kakek, langkah Arka mendadak terhenti. 

“Tunggu sebentar!” 

Seorang pria bertubuh tambun berdiri menghadang jalannya. Perutnya yang membuncit nyaris menekan ikat pinggang kulit bermerek yang melingkar di pinggang. Jam tangan berwarna emas berkilau di pergelangan tangan. Cincin-cincin besar menghiasi jemarinya, sementara rantai emas tebal menggantung mencolok di leher. Hampir setiap benda yang melekat di tubuhnya seolah berteriak tentang kekayaan pemiliknya. Sayangnya, uang tidak pernah cukup untuk membeli sopan santun. 

“Pak Pras!” serunya kepada Prasetya yang berdiri di belakang Arka. Tatapannya tajam, dipenuhi rasa tak terima. “Kenapa orang ini boleh ketemu Pak Kiai Sepuh?”

Prasetya refleks melangkah maju. Ia hendak menjelaskan siapa Arka sebenarnya. Namun sebelum sempat membuka mulut, Arka mengangkat tangan yang sejak tadi diam di dalam saku. Isyarat sederhana: diam dan biarkan dulu. 

“Apa dia lebih kaya dari saya?” lanjut pria gemuk itu. 

Kini tatapannya beralih kepada Arka. Dari ujung rambut hingga sepatu, ia menilai tanpa sungkan. Seolah sedang menghitung harga setiap barang yang dikenakan pria muda di hadapannya. 

Sesaat kemudian, sudut bibirnya terangkat tipis. Barangkali ia merasa senang. Setelan hitam yang dikenakan Arka memang tampak sederhana. Semua barang yang melekat di tubuhnya tidak menunjukkan kemewahan apapun. Jauh dari kesan seseorang yang datang membawa uang dalam jumlah besar. 

“Pak Pras tadi bilang Pak Kiai Sepuh enggak menerima tamu setiap hari Jumat.” Nada suaranya semakin meninggi. “Lalu kenapa orang ini bisa masuk begitu saja?” 

Prasetya hanya mengangguk pelan. 

“Jangan-jangan … “Pria itu menyipitkan mata. “Orang ini ngasih sedekah lebih banyak daripada saya?” 

Pandangannya jatuh pada tas kertas di tangan kanan Arka. Barangkali ia mengira isi tas itu adalah tumpukan uang. Padahal, isinya hanya beberapa bungkus roti kesukaan sang kakek. 

“Orang di depan saya ini—” 

Sekali lagi Arka mengangkat tangan, menghentikan Prasetya yang kembali hendak memberi penjelasan. 

Baru kali ini ia membuka suara. “Pria tua di dalam …” 

Nada bicaranya begitu santai, seolah yang sedang dibahas bukan seorang kiai besar yang dihormati banyak orang. 

Prasetya hanya bisa memijat pelipis. 

Arka memang kadang menyebut kakeknya dengan panggilan itu. Bukan karena tidak hormat, melainkan karena jarak usia mereka terpaut terlalu jauh. Saat usianya bahkan belum genap tiga puluh tahun, sang kakek telah mendekati satu abad. 

“... enggak pernah sembarangan menerima pemberian atau sedekah dari siapapun,” lanjut Arka. “Mau aku kasih tahu syarat supaya pemberian Bapak diterima?” 

Perubahan di wajah pria gemuk itu terjadi begitu cepat. Raut angkuhnya memudar, digantikan sorot penuh harap. Ia bahkan melangkah mendekat hingga merendahkan suara, seolah takut orang lain ikut mendengarnya. 

“Apa syaratnya?” tanyanya hampir berbisik. 

Lihat selengkapnya