Langit yang sejak pagi diselimuti mendung perlahan mulai terbuka. Embusan angin menghalau awan kelabu, membawa pergi gerimis yang sejak subuh membasahi kota Nurantara. Sedikit demi sedikit, sinar matahari akhirnya berhasil menembus langit, menghangatkan bumi yang sempat muram.
Bersamaan dengan itu, prosesi pemakaman Gina yang sempat tertunda akhirnya dapat dilanjutkan. Usai salat jenazah, sekitar pukul setengah sembilan pagi, keranda mulai diusung menuju pemakaman.
Awalnya, Arka dan beberapa rekannya berniat langsung kembali ke kantor setelah menyampaikan belasungkawa. Namun niat itu berubah ketika mendengar bahwa di keluarga tersebut hanya ada seorang laki-laki yang dapat mengurus seluruh prosesi pemakaman—Nanda.
Tanpa banyak bicara, Arka memutuskan tetap tinggal. Setidaknya sampai seluruh rangkaian pemakaman selesai. Siapa tahu Nanda membutuhkan bantuan.
Iring-iringan jenazah mulai bergerak perlahan. Lantunan tahlil mengalun lirih, mengiringi setiap langkah para pelayat menuju tempat peristirahatan terakhir Gina.
Di barisan paling depan, Nanda berjalan sambil memegang payung yang menaungi keranda dari terik matahari yang mulai terasa menyengat. Sementara itu, ibunya dan sang kakak sulung, Nara, berjalan di barisan belakang bersama para pelayat perempuan.
Pemandangan itu menimbulkan satu pertanyaan dalam benak Arka.
Di mana ayah mereka? Apa beliau sudah meninggal?
Jawaban atas pertanyaan itu rupanya datang lebih cepat dari yang ia duga.
Arka berjalan beberapa langkah di belakang rombongan perempuan. Perhatiannya tertuju pada empat yang sedang berbincang pelan. Dua di antaranya tampak masih muda, barangkali teman lama Nanda. Sementara dua lainnya adalah perempuan paruh baya yang kemungkinan besar merupakan tetangga keluarga itu.
“Ayahnya Nanda enggak ikut?” bisik salah seorang perempuan muda. “Dari tadi aku enggak lihat.”
“Hus …” temannya segera menegur sambil menoleh ke kanan dan kiri. “Kamu lupa?? Orang tua Nanda sudah lama cerai.”
Perempuan bertubuh mungil itu mengernyit. “Serius?? Aku malah enggak tahu.”
“Kamu lupa,ya?? Waktu sekolah Nanda sering bilang kalau dia anak yatim pasif.”
“Yatim pasif?”
“Iya. Ayahnya masih hidup, tapi enggak ada fungsinya.”
Perempuan bertubuh mungil itu terdiam beberapa saat. Matanya melirik Nanda di depan. “Memangnya kenapa mereka bisa cerai?”
Temannya hanya mengangkat bahu. “Mana aku tahu.”
Percakapan mereka seharusnya berakhir di sana. Namun dua perempuan paruh baya yang berjalan di samping mereka rupanya ikut mendengar. Salah satunya mendekat sambil mengecilkan suara.
“Ibunya Nanda—Widayu, dan ayahnya—Saeful, memang sudah lama pisah.”
Rambutnya dipotong pendek menyerupai gaya laki-laki dan dicat pirang kekuningan. Meski usianya tak lagi muda, ia tampak percaya diri dengan penampilannya yang mencolok.
“Kalau enggak salah …” lanjutnya, “waktu Nara masih kelas dua SMP. Umurnya sekitar empat belas tahun.”
“Iya, bener,” sahut perempuan berhijab di sampingnya. “Aku juga masih ingat.”
Ia melirik sekilas ke arah Ibu Nanda—Widayu yang berjalan beberapa meter di depan, memastikan perempuan itu tidak mendengar.
“Waktu itu satu perumahan heboh. Padahal sebelumnya keluarga mereka selalu kelihatan harmonis,” sambungnya pelan. “Banyak yang iri sama mereka. Lah kok tiba-tiba saja …”
Ia menggeleng pelan.
“Widayu mendadak bawa ketiga anaknya keluar dari rumah itu. Kabarnya mereka balik ke rumah orang tuanya.”
Tak seorang pun benar-benar tahu apa yang terjadi. Yang diingat warga hanya satu. Dalam semalam, sebuah keluarga selama bertahun-tahun tampak baik-baik saja … mendadak terpecah.
Tiga bulan setelah Widayu pergi, Saeful menyusul istri dan ketiga anaknya. Banyak orang mengira pria itu hendak menjemput keluarganya pulang atau memperbaiki rumah tangga yang retak.
Setelah itu … tak ada lagi kabar tentang mereka.
Di antara para tetangga, desas-desus bermunculan. Ada yang mengatakan mereka memulai hidup baru di kota lain. Ada pula yang percaya usaha Saeful sedang berada di ambang kebangkrutan sehingga Widayu memilih membawa anak-anaknya pergi untuk menghindari para penagih hutang.
Saat itu, hampir semua orang meyakini keluarga itu akan kembali utuh. Tapi nyatanya … lima tahun kemudian, Widayu benar-benar pulang ke rumah itu. Namun ia hanya datang bersama tiga anaknya—Nara, Gina, dan Nanda. Saeful tidak pernah kembali.
Tak butuh waktu lama hingga kabar itu menyebar ke seluruh perumahan. Widayu pulang bukan lagi sebagai seorang istri, melainkan seorang janda.
“Sampai sekarang orang-orang masih bertanya-tanya,” ujar perempuan paruh baya itu sambil mengecilkan suara. “Sebenarnya apa yang buat Ibunya Nanda memilih berpisah? Karena masalah harta? Atau ada alasan lain?”
Ia menggeleng pelan.
“Enggak ada yang tahu.”
“Oalah … gitu,” gumam kedua perempuan muda itu nyaris bersamaan.
“Berarti sampai sekarang enggak ada yang tahu siapa yang salah, ya, Bu?” tanya perempuan bertubuh mungil.
“Enggak ada.” Perempuan berambut pirang menghela napas. “Ibunya Nanda enggak pernah cerita. Ayahnya juga enggak pernah kembali lagi ke sini.”
“Tapi …” sela perempuan berhijab di sampingnya. Tatapannya beralih kepada Widayu dan kedua anaknya yang berjalan beberapa meter di depan. “Hari ini kita akhirnya dapat sedikit jawaban.”
“Maksudnya?”
Perempuan itu menarik napas panjang.
“Dulu semua orang tahu, Gina adalah anak kesayangan ayahnya.” Ia berhenti sejenak, seolah sedang memilih kata-kata. “Memang siapa yang enggak sayang sama anak seperti Gina?”
Gina tumbuh menjadi gadis yang mewarisi kecantikan ibunya. Parasnya lembut, senyumnya hangat, dan tutur katanya selalu sopan. Orang-orang mudah menyukainya.
Berbeda dengan Nara. Wajah putri sulung itu lebih banyak mewarisi garis tegas sang ayah. Ia pendiam, dingin, dan jarang membuka percakapan dengan orang lain. Tak sedikit tetangga yang merasa segan untuk sekadar menyapanya.
“Kalau benar Ayahnya Nanda begitu menyayangi Gina …” lanjut perempuan berhijab itu lirih, “kenapa selama Gina sakit dia enggak pernah muncul?”
Keempat perempuan itu terdiam.