Keesokan harinya.
Arka kembali mendatangi rumah Nanda. Tujuannya masih sama—-menyampaikan belasungkawa. Jika sehari sebelumnya ia datang bersama para kepala departemen, kali ini ia datang bersama seluruh anggota departemen desain yang dipimpinnya.
Sebenarnya mereka sudah berencana datang sejak kemarin sore, sepulang kerja. Namun selepas jam makan siang, sebuah masalah di kantor memaksa seluruh tim lembur hingga malam. Tak ingin mengganggu keluarga yang sedang berduka pada larut hari, mereka sepakat menunda kunjungan hingga keesokan harinya.
Mereka memilih datang saat jam istirahat makan siang.
Kedatangan rombongan itu disambut hangat oleh Nanda dan ibunya. Sementara itu, Nara tampak sibuk keluar-masuk dapur, menyiapkan minuman hangat dan beberapa piring berisi makanan ringan untuk para tamu.
Suasana rumah masih sama seperti kemarin. Sunyi. Hangat. Namun dipenuhi kesedihan yang belum juga reda. Bedanya, tamu yang datang tidak lagi sebanyak hari sebelumnya. Siang itu, hanya ada rombongan Arka bersama timnya serta beberapa sahabat lama Gina yang datang dari luar kota. Mereka duduk melingkar di ruang tamu dengan beralaskan tikar dan karpet.
Awalnya percakapan berlangsung pelan, sekadar mengingat sosok Gina semasa hidupnya. Lalu, tanpa sadar, pembicaraan beralih pada penyakit yang merenggut nyawanya.
“Awalnya kami kira cuma sakit perut biasa,” tutur Widayu lirih. “Enggak ada yang menyangka ternyata kanker.”
Ruangan mendadak hening.
“Gina divonis kanker usus besar tahun lalu,” lanjutnya. “Waktu ketahuan … sudah stadium tiga.”
Beberapa rekan kerja Arka saling berpandangan. Tak seorang pun menyela.
“Dokter langsung menyarankan operasi.”
Setelah operasi pertama untuk mengeluarkan semua isi perut yang tertahan, Gina harus menjalani operasi kedua karena penyumbatan pada ususnya karena sel kanker yang sudah membesar seukuran bola tenis.
Sesudah tubuhnya pulih, ia mulai menjalani kemoterapi. Setiap tiga minggu sekali, ia harus kembali ke rumah sakit. Pulang dengan tubuh yang semakin lemah bersama dengan obat-obatan yang harus diminum setiap hari.
“Nafsu makannya hilang,” ujar Nanda pelan, melanjutkan cerita sang ibu. “Kadang cuma mencium aroma masakan saja sudah muntah.”
Ia tersenyum pahit.
“Sering juga enggak kuat bangun dari tempat tidur beberapa hari setelah kemoterapi.”
Tak seorang pun di ruangan itu mengeluarkan suara. Mereka hanya mendengarkan.
Setelah beberapa kali menjalani kemoterapi, Gina kembali menjalani pemeriksaan. Semua orang berharap hasilnya membaik. Namun harapan itu tak pernah benar-benar datang. Sebagian sel kanker masih tertinggal. Dalam waktu singkat, penyakit itu justru menyebar ke bagian lain. Gina harus menjalani operasi untuk ketiga kalinya.
Dan sejak saat itu … harapan hidupnya semakin kecil.
“Dua bulan setelah operasi terakhir …” suara Widayu bergetar. “Gina akhirnya pergi.”
Kalimat itu menutup seluruh percakapan. Tak ada lagi yang mampu berkata-kata.
Arka hanya mengembuskan napas pelan.
Baru sekarang ia memahami mengapa selama setahun terakhir Nanda selalu tampak kelelahan, tetapi tak pernah sekalipun mengeluh. Selama itu pula, pria muda itu bekerja di siang hari, lalu pulang menemani kakaknya berjuang melawan penyakit yang sejak awal peluang sembuhnya sudah sangat kecil.
Arka tak mampu membayangkan betapa bertanya satu tahun yang telah dilalui keluarga itu. Mereka pasti sudah berkali-kali berharap. Dan berkali-kali pula dipaksa menerima kenyataan bahwa harapan itu perlahan menghilang.
“Terus … ayahnya ke mana?”
Pertanyaan itu meluncur pelan dari salah seorang teman perempuan Gina.
Ruangan yang semula dipenuhi percakapan lirih seketika hening. Sejak tadi mereka mendengar cerita tentang perjuangan Gina melawan kanker. Berkali-kali nama Widayu, Nara dan Nanda disebut sebagai orang-orang yang selalu berada di sisinya. Namun, tak sekalipun sosok ayah muncul dalam cerita.
“Hush …,” bisik teman yang duduk di sampingnya sambil menyenggol lengannya. “Kamu lupa?? Orang tua Gina kan sudah lama cerai.”
“Aku tahu.” Perempuan itu mengangguk pelan. “Tapi … masa selama Mbak Gina sakit, ayahnya enggak pernah datang? Dulu Mbak Gina sering cerita kalau dia anak kesayangan ayahnya.”
Tak ada yang segera menjawab. Keheningan kembali menggantung di ruangan. Beruntung saat itu Widayu sedang berada ruangan lain bersama bersama dengan tamu lain yang baru saja datang, sehingga tak mendengar percakapan tersebut.