Suasana perlahan kembali mencair. Para tamu melanjutkan percakapan mereka. Mengenang Gina semasa hidupnya—keramahannya, tawanya, juga perjuangannya melawan penyakit selama setahun terakhir.
Namun perhatian Arka sudah tak lagi berada di dalam ruangan. Karena duduk paling dekat dengan pintu dan jendela depan, pandangannya tanpa sadar terus mengarah ke luar rumah. Ia melihat Nanda yang sedang berjalan bersama ayahnya menuju sepeda motor.
Untuk beberapa saat, matanya terus mengikuti sosok pria bernama Saeful itu. Kini Arka benar-benar memahami mengapa wajah pria itu terasa begitu akrab. Ia sangat mirip dengan Nara. Garis wajah, bentuk mata, hingga rahangnya hampir sama persis. Andaikan Nara terlahir sebagai laki-laki, mungkin wajahnya akan benar-benar menyerupai sang ayah.
Namun hanya sampai di situ saja letak kemiripan mereka.
Aura keduanya bertolak belakang. Nara memancarkan kesan dingin dan sulit didekati. Sedangkan Saeful justru terlihat ramah, tenang, dan mudah mengakrabkan diri dengan siapa saja. Sayangnya … warna jiwa tak pernah bisa berbohong.
Di dada kiri pria itu, Arka melihat warna yang membuat tubuhnya sedikit bergidik. Hitam. Bukan abu-abu tua. Bukan hitam yang pudar. Melainkan hitam pekat, sedalam jurang yang tak mampu ditembus cahaya. Belum pernah Arka melihat warna jiwa segelap itu pada manusia.
Ucapan para tetangga yang diam-diam ia dengar kemarin kembali terngiang.
“Hari ini kita akhirnya dapat sedikit jawaban … Kalau benar Ayahnya Nanda begitu menyayangi Gina …kenapa selama Gina sakit dia enggak pernah muncul?”
Mungkin … batin Arka. Warna jiwa itu … memang bukan tanpa alasan. Pria ini mungkin enggak sebaik yang selama ini diperlihatkannya kepada orang lain.
Tak lama kemudian, Nanda membonceng ayahnya menuju pemakaman. Motor itu melaju perlahan meninggalkan halaman rumah.
Arka masih memperhatikannya.
Namun sesuatu yang terjadi beberapa detik kemudian membuatnya napasnya terhenti. Makhluk-makhluk yang sejak dua hari terakhir berdiri mengelilingi rumah Nanda … serempak bergerak. Bukan berpindah tempat. Hanya memutar kepala mereka.
Puluhan wajah rusak itu perlahan mengalihkan tatapan. Tak lagi menghadap rumah. Kini … semuanya menatap ke arah Saeful yang semakin menjauh. Tak satupun tertinggal. Tak satupun terlambat. Seolah ada sesuatu dalam diri pria itu yang menarik perhatian mereka secara bersamaan.
Arka merasakan hawa dingin merayap sepanjang punggungnya. Ia hanya mampu diam, menyaksikan puluhan makhluk itu terus mengikuti kepergian Saeful dengan tatapan kosong mereka.
Hingga motor itu lenyap di tikungan, barulah … secara bersamaan, puluhan kepala itu kembali berputar menghadap ke rumah Nanda seperti semula.
Arka menelan ludah. Dadanya mendadak terasa sesak.
Apa yang sebenarnya baru saja kulihat?
Kenapa mereka mengalihkan perhatian kepada Ayah Nanda? Apa mereka tertarik dengan warna jiwa hitam pekat itu … atau justru mereka sedang menunggunya?
Sepanjang hidupnya, Arka telah melihat banyak hal yang tak mampu dijelaskan orang kebanyakan. Makhluk gaib. Arwah yang belum pergi. Dan warna jiwa manusia. Namun selama bertahun-tahun hidup dengan bakat itu, tak sekalipun ia menemukan anomali seperti yang terjadi di depan matanya.
Makhluk gaib memang terkadang mengikuti manusia. Biasanya karena ada ikatan semasa hidup, dendam yang belum selesai, penyesalan yang belum sempat ditebus, atau alasan lain yang bahkan Arka sendiri tak selalu mampu memahaminya.
Tapi … puluhan makhluk gaib yang serentak mengalihkan perhatian kepada satu orang? Itu belum pernah ia saksikan. Apalagi orang itu Saeful—seorang manusia dengan warna jiwa hitam pekat.
Apa artinya semua ini? Apa hubungan pria itu dengan makhluk-makhluk di luar sana?
Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di dalam benaknya.
“Permisi …”
Suara itu membuyarkan lamunannya. Arka tersentak. Beberapa sahabat Gina yang sejak tadi duduk di bagian dalam berpamitan pulang dan meminta jalan untuk lewat.
“Oh, silakan.”
Arka menggeser posisi duduknya agar mereka bisa keluar.
Setelah rombongan kecil itu melewati pintu, refleksi ia kembali melirik ke halaman. Dan saat itulah … tatapannya bertemu dengan salah satu makhluk di luar.
Untuk sesaat … tak ada yang bergerak.
Lalu … makhluk itu melangkah. Perlahan. Tanpa suara. Dalam sekejap, sosok yang tadi berdiri beberapa meter dari rumah kini telah berada tepat di depan pintu.
Jaraknya hanya beberapa langkah dari Arka.
Dadanya langsung mengencang. Jantungnya berdetak begitu keras hingga gema detaknya sendiri memenuhi telinganya.