“Crustvale …” gumam Arka pelan.
Pagi ini, sebelum pulang ke kediaman orang tuanya di pinggiran kota Nurantara, ia menyempatkan diri mampir ke sebuah\ toko roti yang letaknya tidak jauh dari kantornya Crustvale. Sebuah toko roti yang dikenal tidak menyediakan layanan dine in, tetapi selalu ramai dikunjungi karena pilihan rotinya yang beragam dan sulit ditemukan di toko roti lain. Produk andalannya adalah roti berbahan gandum, yang dikenal lebih sehat dibandingkan roti berbahan tepung terigu.
Jadi … ini yang namanya Crustvale, batinnya.
Ia benar-benar tak menyangka toko roti yang tersembunyi di dalam sebuah gang itu akan seramai ini. Bahkan ketika matahari baru saja menampakkan sinarnya, antrian pelanggan sudah mulai terbentuk.
Arka melangkah perlahan memasuki toko yang didominasi perpaduan warna putih tulang dan cokelat hangat, menciptakan kesan klasik sekaligus nyaman. Begitu jemarinya menyentuh gagang pintu, ingatannya langsung melayang pada percakapan kemarin sore.
Sepulang kerja, Arka sempat bertanya kepada beberapa anggota timnya mengenai rekomendasi toko roti di Nurantara. Setelah bertahun-tahun tinggal di luar kota, banyak hal di Nurantara yang kini terasa asing baginya. Pusat kota yang dulu tenang dan nyaris bebas kemacetan telah berubah menjadi kawasan yang ramai dan dinamis. Perusahaan, perumahan, hingga universitas baru bermunculan, menarik banyak orang untuk datang, bekerja, lalu menetap.
Yang nyaris tak berubah hanyalah kawasan pinggiran kota. Tempat itu tetap tenang, damai, dan jauh hiruk-pikuk pusat kota. Barangkali karena banyak pondok pesantren berdiri di sana, kawasan tersebut seolah tak tersentuh laju perkembangan jaman. Julukan Kota Serambi Santri pun melekat pada Nurantara karena sebagian besar pondok pesantrennya memang berada di wilayah pinggiran.
“Ada banyak, Pak,” jawab Lala, salah satu anggota timnya. “Bapak nyarinya yang gimana? Toko roti gandum, toko roti jadul, atau yang lain?”
Arka mengingat kembali beberapa toko roti yang pernah didatanginya selama setahun terakhir. Ada lima tempat yang rutin ia kunjungi untuk membeli oleh-oleh bagi sang kakek.
Hampir setiap akhir pekan, ia selalu pulang ke kediaman orang tuanya yang berada di kompleks pondok pesantren milik sang kakek. Karena waktu tempuh dari sana ke kantornya mencapai lebih dari satu jam sekali jalan, Arka memilih menyewa apartemen di pusat kota dan hanya pulang setiap akhir pekan.
Kalau pekerjaannya selesai lebih cepat, ia akan pulang pada Jumat sore. Namun jika harus lembur, ia baru berangkat pada Sabtu pagi.
“Gimana kalau Crustvale, Pak?” usul Lala.
“Crus … apa?” Arka berusaha mengulang. Ia tidak menangkap nama toko itu dengan jelas.
“Crustvale, Pak,” ulang Lala sambil mengeja. Ia lalu melirik ke arah Nanda. “Itu toko roti tempat Mbaknya Nanda kerja, Pak.”
“Hah?”
Arka seketika diam. Matanya beralih kepada Nanda, seolah meminta konfirmasi. Pria muda yang baru saja kehilangan kakak keduanya itu hanya mengangguk pelan.
Kebetulan sekali, batin Arka girang.
Ia sempat terkejut. Namun, rasa terkejut itu segera berganti menjadi tak percaya. Doa kecilnya beberapa hari lalu untuk bisa bertemu Nara rupanya benar-benar terkabul.
Lala tersenyum penuh keyakinan. “Percaya sama saya, Pak,” ujarnya mantap. “Crustvale memang terkenal. Rotinya enak-enak. Bapak pasti enggak bakal kecewa beli roti di sana.”
Harum roti yang langsung menyergap indra penciuman Arka begitu ia melangkah masuk ke Crustvale seolah membuktikan ucapan Lala. Aroma roti yang baru keluar dari oven itu begitu menggoda, sampai-sampai ia merasa sedang berada di dalam kerajaan yang dipenuhi aneka roti hangat.
“Selamat datang,” sapa ramah seorang pelayan di balik meja kasir.
Crustvale menggunakan sistem self-service. Berbagai jenis roti ditata rapi di dalam kotak-kotak yang berjajar di atas meja dan rak, lengkap dengan nama serta harganya. Setiap pelanggan mengambil sendiri nampan dan penjepit roti, lalu bebas memilih roti yang diinginkan. Setelah selesai, nampan dibawa ke kasir untuk dihitung, sementara roti yang dipilih akan dikemas ke dalam kotak.
Pilihan rotinya sangat beragam. Ada roti manis, asin, gurih, hingga perpaduan ketiganya. Jumlahnya mungkin lebih dari tiga puluh jenis, belum termasuk aneka cake dan kue yang dipajang di etalase terpisah.
Pagi itu belum banyak pelanggan. Di dalam toko hanya ada sekitar lima belas orang, termasuk Arka yang masih sibuk memilih. Namun, di antara mereka semua pelanggan, tampaknya hanya dialah yang kebingungan. Sudah dua kali ia mengitari rak-rak roti, tetapi nampannya masih kosong. Ia benar-benar belum tahu roti mana yang paling cocok untuk sang kakek.
“Mana yang harus aku—”
Arka baru saja hendak mengeluh ketika seseorang berdiri di sampingnya.
“Ada yang bisa dibantu, Pak?”
Spontan Arka menoleh. Ia mengira suara itu berasal dari salah seorang pelayan yang sedang berkeliling atau baru saja mengantarkan roti hangat dari dapur. Namun dugaannya meleset.
Yang berdiri di sampingnya bukan pelayan toko, melainkan Nara—kakak Nanda.
Arka sedikit terkejut. Setahunya, Nara tidak bertugas di bagian depan. Saat datang melayat beberapa hari lalu, ia sempat mendengar bahwa perempuan itu bekerja di bagian keuangan dan persediaan bahan baku toko roti.
Eh? Kebetulan sekali! batin Arka girang, nyaris tak percaya.
“Pak?” panggil Nara sekali lagi.
“I-itu … aku …” jawab Arka spontan. Suaranya sedikit bergetar.
Ia masih belum bisa sepenuhnya mencerna kebetulan yang baru saja terjadi. Memang, ia berharap bisa bertemu Nara lagi. Namun, ia sama sekali tak menyangka pertemuan itu akan datang semudah ini. Bahkan sebelum berangkat tadi, ia sudah menyiapkan berbagai kemungkinan kalau-kalau mereka benar-benar bertemu. Namun, ketika momen itu benar-benar terjadi, ia tetap saja gugup.
“A-aku bingung mau pilih yang mana,” lanjutnya sambil membenarkan kacamata hitam yang bertengger di batang hidungnya. “Bisa tolong kasih rekomendasi?”
“Baru pertama kali ke sini, Pak?” tanya Nara ramah.
Senyumnya hari ini terasa begitu hangat hingga menghapus kesan dingin yang biasanya melekat padanya. Seragam Crustvale yang dikenakannya—kemeja krem, kerudung senada, serta celemek cokelat tua yang serasi dengan celananya—semakin memperkuat kesan hangat itu. Sulit membayangkan perempuan yang berdiri di hadapan Arka adalah sosok yang beberapa hari lalu tampak begitu dingin dan tegas.
“I-iya,” jawab Arka singkat.
“Kalo boleh tahu, Bapak lebih suka roti yang seperti apa? Manis, asin, gurih, atau perpaduan di antara ketiga rasa tadi?”
Jantung Arka sempat berdetak lebih cepat. Harapan kecil perlahan tumbuh di dalam dadanya. Jika Nara mengenalinya, mungkin semuanya akan lebih mudah. Mungkin ia bisa menemukan alasan untuk berbincang lebih lama dengannya, lalu perlahan mencari jawaban tentang berbagai keanehan yang mengelilingi rumahnya—dan tentang Nara sendiri.
Namun, setelah beberapa kalimat terucap, ia sadar harapan itu keliru. Nara sama sekali tidak mengingatnya.
Arka mengembuskan napas pendek sebelum menjawab, “Jangan yang terlalu manis dan asin.”