ANTARCHAYA

mahes.varaa
Chapter #7

PERTEMUAN YANG DIHARAPKAN PART 2

Enam hari kemudian. 

Pertemuan keempat Arka dengan Nara terjadi di alun-alun pusat kota Nurantara. Sama seperti tiga pertemuan sebelumnya, semuanya terjadi karena kebetulan. Bukan sesuatu yang sengaja direncanakan. 

Pada Kamis malam itu, Arka diminta ibunya menggantikan sang ayah menghadiri sebuah acara dakwah. Ayah Arka—Ali—mendapat undangan dari Gus Slamet, putra salah satu dari pengasuh pondok pesantren di Nurantara. Sayangnya, pada hari itu kedua orang tuanya berhalangan hadir karena urusan mendadak. Undangan itu pun akhirnya berpindah ke tangan Arka. 

Gus adalah panggilan kehormatan dalam budaya Jawa, terutama di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Sebutan ini berasal dari kata bagus, yang dahulu digunakan untuk memanggil anak laki-laki dari kalangan bangsawan atau keluarga terpandang. 

Awalnya, Prasetya—tangan kanan sang kakek diminta menemani Arka. Namun, ia menolak dengan tegas. Menurutnya, datang bersama Prasetya hanya akan semakin menegaskan bahwa dirinya adalah cucu tunggal sang kakek. Ia juga tak ingin menjadi pusat perhatian hanya karena cara berpakaiannya yang lebih modern dibandingkan dengan rata-rata orang yang tinggal di pondok pesantren—setelan kemeja hitam dipadukan dengan celana hitam. 

Ramai sekali … 

Tepat pada pukul 19.00 WIB, Arka tiba di gerbang masuk lokasi dakwah. Acara itu digelar di alun-alun kota karena terbuka untuk umum. Para peserta duduk di atas tikar yang dialasi terpal, sementara sebuah tenda besar membentang di atas mereka sebagai antisipasi jika hujan turun. 

Arka mengamati sejenak lautan manusia yang terus berdatangan sebelum akhirnya bersiap masuk. Sejujurnya, ia enggan berada di tempat seperti ini. Keramaian berarti lebih banyak warna jiwa yang harus ia lihat, sesuatu yang selalu membuatnya lelah. Namun, ia tak bisa menolak permintaan ibunya. 

Ia pun melepaskan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya, menggantungkannya di kerah kemeja, lalu melangkah. 

“Assalamualaikum, Pak Arka.” 

Langkahnya langsung terhenti. Suara itu terdengar begitu akrab di telinganya. Begitu menoleh, dugaannya pun terbukti. 

“Waalaikumsalam, Nan-da,” balasnya ramah. 

Tatapan Arka segera menyapu rombongan kecil di belakang bawahannya. Ada seorang pria sebaya Nanda dan dua perempuan. Salah satunya adalah Nara—perempuan yang diam-diam ingin ia temui lagi. 

“Kamu juga datang ke sini?” tanya Arka. 

Senyum tipis tak mampu ia sembunyikan. Entah mengapa, akhir-akhir ini ia merasa Tuhan sedang mengabulkan doa-doa kecilnya. Sudah dua kali ia berharap bisa bertemu Nara, dan dua kali pula harapan itu terwujud. 

“Iya, Pak,” jawab Nanda sambil mengangguk kecil. “Saya diajak teman-teman. Sekalian ngajak Mbak bisa enggak bosan terus di rumah.” 

“Terus ibu kamu gimana?” tanya Arka spontan. Ia teringat bahwa kini hanya tersisa tiga orang dalam keluarga itu. “Beliau sendirian di rumah?” 

Nanda mengangguk lagi. 

“Ibu saya memang enggak suka keramaian seperti ini,” jelasnya sambil sedikit merendahkan suara. Ia mendekat ke arah Arka. “Sebenarnya Mbak juga enggak terlalu suka. Tapi kasihan pacar teman saya kalau sendirian di bagian perempuan, jadi Mbak akhirnya ikut juga.” 

Arka mengangguk pelan. Dalam acara dakwah nanti, jamaah laki-laki dan perempuan akan duduk di area yang terpisah sebagai bentuk menaati aturan sekaligus menjaga kenyamanan bersama. 

“Bapak datang sendiri?” tanya Nanda. Matanya melirik ke kanan dan kiri Arka, memastikan tak ada orang yang menyertainya. 

Arka terkekeh kecil. 

“Iya, aku datang sendiri. Gantikan temanku yang batal datang,” jawabnya, sedikit berbohong. 

“Mau gabung sama kami, Pak?” 

Tawaran itu terdengar menggiurkan. Namun, Arka tidak langsung mengiyakan. Ia masih memikirkan anggota rombongan Nanda yang lain. 

“Kalo teman-temanmu enggak keberatan.” 

Pria muda yang berdiri di samping Nanda langsung mengangguk sambil tersenyum ramah sebagai tanda setuju. 

Melihat itu, Nanda mulai memperkenalkan satu persatu teman yang datang bersamanya. Dimulai dari Faruq, sahabatnya; kemudian Andini, kekasih Faruq; dan terakhir kakak tertuanya, Nara. 

“Bapak sudah kenal sama Mbak saya, kan?” tanya Nanda sambil menunjuk sang kakak. 

Arka menggaruk kecil sembari mencuri pandang ke arah Nara. Harapan itu kembali tumbuh di dadanya. Setelah tiga kali bertemu, apalagi pertemuan terakhir di Crustvale cukup panjang, ia berharap Nara akan mengingatnya. 

“Ta-hu,” jawab Arka pelan. 

Namun, sesaat kemudian harapan itu kembali mengendur. Wajah Nara tetap datar, tanpa tanda-tanda sedang mengingat sesuatu. 

“Atasanmu ini …” sela Nara tenang. “Pernah datang ke Crustvale. Waktu itu dia  beli banyak roti.” 

Dia ingat aku … Dia ingat aku … batin Arka girang. 

“Iya, yang waktu itu di toko …” Arka buru-buru menyambung. Senyum kecil kembali menghiasi bibirnya. “Terima kasih banyak. Kakekku suka sekali sama roti yang Mbak rekomendasikan.” 

Lihat selengkapnya