ANTARCHAYA

mahes.varaa
Chapter #8

CALON ISTRI

Dua hari kemudian. 

Seperti jadwal rutinnya setiap pekan, Arka pulang ke kediaman orang tuanya di pondok pesantren milik sang kakek. Pondok pesantren itu terletak di pinggiran kota Nurantara, sekitar satu jam lebih perjalanan dari pusat kota. Setahun lalu—saat sang ibu jatuh sakit dan memintanya pulang—Arka memutuskan bekerja di pusat kota, menyewa tempat tinggal di dekat kantor, lalu pulang setiap akhir pekan. Jika pekerjaannya sedang padat, ia baru bisa pulang dua minggu sekali. 

Dibandingkan pusat kota yang terus berubah mengikuti perkembangan jaman, kawasan pinggiran Nurantara masih terasa asri. Mungkin karena sebagian besar wilayahnya dikelilingi pondok-pondok pesantren dengan lahan yang luas. Justru karena keasrian itulah Arka masih menyukai Nurantara. Setelah sang kakek, satu-satunya hal yang membuatnya betah di kota ini adalah suasana pinggirannya—terutama pada pagi hari, ketikaa kabut masih menggantung tipis dan udara terasa begitu segar. 

“Assalamualaikum, Kakek Tua,” sapa Arka setengah bercanda saat tiba di kediaman sang kakek. 

Seperti kebiasaannya selama setahun terakhir, orang pertama yang selalu ia temui begitu pulang adalah sang kakek. 

“Waalaikumsalam,” balas sang kakek datar. “Mau sampai kapan kamu manggil Kakek dengan sebutan Kakek Tua, hah? Kamu sekarang sudah dewasa! Sudah seharusnya kamu manggil Kakek dengan benar!” 

Arka terkekeh mendengar omelan yang sudah menjadi santapan rutin setiap kali ia pulang. 

Ada alasan sederhana kenapa ia memanggil sang kakek bukan dengan panggilan yang benar, Jaddi, melainkan “Kakek Tua”. Semuanya bermula ketika ia mengetahui bahwa usia mereka terpaut hampir tujuh puluh tahun. Selisih usia itu membuat sang kakek terasa lebih pantas disebut kakek buyut daripada sekadar kakek.

Jaddi berasal dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti kakekku. Kata itu merupakan gabungan dari jadd (kakek) dan akhiran -i  yang menunjukkan kepemilikan, berarti -ku. 

Beruntung, wajah sang kakek masih tampak awet muda—jauh lebih muda daripada usia sebenarnya. Berkat itu, orang-orang yang baru bertemu dengannya hampir tak pernah menyangka bahwa usianya sudah mendekati satu abab. 

“Ini oleh-oleh buat Kakek,” ujar Arka sambil menyerahkan sebuah tas berisi roti dari Crustvale. 

Ia duduk tak jauh dari pria tua itu setelah dengan santai menyela antrian panjang para tamu di depan kediaman sang kakek. 

Ruang tamu sang kakek tidak memiliki sofa seperti rumah orang tuanya. Ruangan itu dialihfungsikan sebagai tempat menerima para pasien yang datang dari berbagai penjuru. Alih-alih menyediakan sofa, sang kakek memilih menggelar karpet agar semua orang bisa duduk lesehan. 

Bukan tanpa alasan ia memilih cara itu. Sebagian besar tamu yang datang bukan hanya satu atau dua orang, melainkan satu keluarga sekaligus. Sementara itu, untuk tamu perempuan, telah disediakan area khusus yang dipisahkan oleh tirai kain putih agar mereka tidak berhadapan langsung dengan sang kakek. 

Duduk tak jauh dari sang kakek membuat Arka teringat pada masa kecilnya. Dulu, ia lebih sering menghabiskan waktu bersama pria tua  itu, duduk menemani saat menerima tamu dan mendengarkan kisah-kisah mereka. Kedua orang tuanya jauh lebih sibuk mengurus pondok pesantren, sehingga sang kakek-lah yang paling sering menghabiskan waktu bersamanya. 

“Kenapa memang dengan panggilan Kakek Tua?” lanjut Arka sambil terkekeh kecil. “Kakek memang sudah tua, kan? Apa aku salah?” 

Sang kakek mengembuskan napas pendek. Tangan kanannya masih terus memutar butir-butir tasbih, sementara tangan kirinya perlahan meraih tongkat yang tergeletak tak jauh dari tempat duduknya. 

Spontan, Arka menggeser tubuhnya menjauh sedikit. Ia tahu, tongkat milik sang kakek bukanlah benda biasa—dan justru itulah yang harus diwaspadainya. 

Sejauh yang bisa diingat Arka, tongkat itu selalu berada di sisi sang kakek. Meski terbuat dari kayu—entah kayu apa—benda itu tak pernah tampak rapuh dimakan usia. Sebaliknya, tongkat itu tetap kokoh, mampu menopang tubuh sang kakek setiap kali berjalan. Bahkan setelah berkali-kali digunakan untuk memukul beberapa “pasien” yang sangat bermasalah, tongkat itu tak menunjukkan sedikit pun tanda kerusakan. 

Ya, tongkat itu  bukan benda biasa. 

Ada sesuatu yang menyelubunginya—sesuatu yang bahkan tak mampu Arka jelaskan. Ia bisa melihat keberadaan energi aneh pada tongkat itu, tetapi tak pernah benar-benar memahami apa sebenarnya yang bersemayam di dalamnya. 

“Kakek!” seru Arka sambil bersiap kabur. “Tolong jangan sembarangan pakai tongkat itu. Sekali dipukul saja, kaki orang bisa lumpuh, Kek.” 

Seringai tipis muncul di bibir sang kakek. “Jadi kamu masih ingat kalau benda ini melakukan itu?” 

Arka langsung mengangguk cepat. “Jelas masih ingat, Kek. Korbannya bukan satu dua orang.” 

“Kalau begitu …” ujar sang kakek. Seringainya semakin lebar. “Bagaimana kalau sekarang kamu saja yang jadi korban berikutnya, cucuku tersayang?” 

“Enggak mau, Kek!” Arka buru-buru melompat menjauh sambil mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat menyerah. “Hati-hati sama tongkat itu, Kek!” 

Melihat reaksi panik cucunya, sang kakek justru tertawa kecil. 

Arka pun memanfaatkan kesempatan itu untuk segera kabur menuju rumah orang tuanya. Namun, tepat sebelum melewati pintu depan, suara sang kakek kembali menghentikan langkahnya. 

“Arka …” Kali ini nada suaranya jauh lebih serius. 

“Ya, Kek?” Arka berhenti, lalu berbalik menatap sang kakek. 

“Sore nanti, kemari.” Nada bicara pria tua  itu tetap datar, tetapi ada tekanan halus yang membuat Arka langsung mengerti bahwa ini bukan sekedar ajakan biasa. “Ada yang ingin Kakek bicarakan.” 

Arka menangkap makna di balik kalimat itu. Ia tahu, sore nanti pasti ada pembicaraan penting yang telah menunggunya. 

“Baik, Kek.” 

Setelah itu, ia berpamitan. Arka keluar dari kediaman sang kakek, lalu menyapa Prasetya yang sedang berbincang dengan beberapa tamu sebelum melanjutkan langkah menuju rumah orang tuanya. 

Rumah kediaman orang tuanya berjarak sekitar dua ratus meter dari rumah sang kakek. Ukuran rumah kedua orang tuanya hampir sama besar dengan rumah sang kakek. Bedanya, desain rumah itu tampak lebih modern. 

“Assalamualaikum,” sapa Arka begitu menginjakkan kaki di halaman rumah. 

Sesampainya di teras, pandangannya tertuju pada dua sepeda yang terparkir rapi. Satu milik sang ibu, dan satu lagi miliknya. Sepeda milik sang ayah tak terlihat. Itu berarti pria itu sudah berangkat ke pondok pesantren sejak pagi. 

“Waalaikumsalam,” balas sang ibu. 

Perempuan bernama Wardah itu buru-buru keluar dari dapur. Sejak pagi, ia sibuk memasak berbagai hidangan untuk menyambut kepulangan putra tunggalnya. 

“Kamu baru datang, Arka?” 

Arka mengangguk pelan. “Iya, Umi. Tadi sempat mampir sebentar ke tempat Kakek.” 

Wardah, yang tahun ini berusia lima puluh enam tahun, mengenakan gamis dan kerudung berwarna sage—warna kesukaannya. Begitu tiba di hadapan putranya, ia langsung memeluk Arka erat. Seperti biasa. 

Setiap kali Arka pulang, perempuan itu selalu melakukan hal yang sama. Seolah ingin menebus waktu-waktu yang terlewati saat mereka terpisah oleh jarak karena Arka tinggal di luar kota. 

“Belum makan, kan?” tanyanya dengan senyum hangat. “Umi masak rendang. Makanan kesukaanmu.” 

“Belum, Umi.” 

Arka dan ibunya kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Mereka melewati ruang tamu, ruang keluarga, lalu tiba di ruang makan yang menyatu dengan dapur. Di atas meja sudah tersaji sepanci rendang yang masih mengepulkan uap hangat—pertanda hidangan itu baru saja matang. 

“Ayo makan sama Umi,” ajak Wardah. “Umi juga belum sarapan.” 

Arka hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. 

Mereka pun makan bersama. Keheningan yang akrab mengisi ruangan, hanya sesekali dipecahkan oleh bunyi sendok dan piring yang saling beradu. 

Masakan Umi memang enggak pernah gagal, puji Arka dalam hati. 

Masakan sang ibu memang selalu menjadi favoritnya. Wardah dikenal pandai memasak, dan hampir semua orang yang mengenalnya sepakat akan hal itu. Sebagai satu-satunya menantu pemilik pondok pesantren, ia juga dikenal sebagai perempuan yang nyaris sempurna. Tak hanya cantik, ia juga cakap dalam banyak hal. Selain mengurus rumah tangga, ia ikut mengelola pondok pesantren bersama sang suami. Dalam urusan ilmu agama pun, kemampuannya tak kalah dari Ali. Di mata banyak orang, Ali dan Wardah adalah pasangan yang serasi, hebat, dan saling melengkapi. 

Sebagai anak, Arka pun mengakui penilaian itu. 

Lihat selengkapnya