Nara … bukan perempuan biasa.
Itulah kesimpulan yang diam-diam dibuat Arka tentang perempuan yang belakangan ini terus memenuhi pikirannya. Nara terlihat mandiri, tegas, berani, dan pantang menyerah. Perempuan seperti itu bukan seseorang yang bisa didekati dengan cara sembarangan.
Beberapa pertemuan mereka sudah cukup jadi pelajaran bagi Arka. Karena itu, alih-alih langsung berusaha mendekati Nara, ia memilih mendekati adiknya lebih dulu—Nanda. Cara itu terasa lebih aman sekaligus lebih wajar.
Kesempatan itu akhirnya datang dua hari setelah percakapannya dengan sang kakek. Kebetulan, pagi itu Arka mendapat tugas lapangan bersama Nanda.
Sejak pukul sepuluh pagi, keduanya sudah berada di lokasi konstruksi. Mereka berkeliling meninjau hasil pekerjaan para pekerja, mencatat beberapa temuan, lalu melakukan evaluasi. Sekitar satu jam kemudian, mereka berkumpul di ruang mandor untuk membahas hasil peninjauan, mendengarkan berbagai kendala di lapangan, dan mencari solusi bersama.
Kunjungan lapangan berakhir tepat pukul dua belas siang.
Seharusnya Arka dan Nanda langsung kembali ke kantor untuk makan siang di sana. Namun, kali ini Arka mengajak bawahannya makan di luar. Alasannya sederhana—bosan dengan menu kantin. Padahal, ia hanya ingin berbicara berdua dengan Nanda.
Pilihan mereka jatuh pada sebuah rumah makan Padang.
Baru setelah beberapa suap nasi dan rendang masuk ke perutnya, Arka akhirnya memberanikan diri membuka pembicaraan.
“M-mbakmu … Nara …” ucapnya sedikit gugup.
“Mbak saya kenapa, Pak?” tanya Nanda santai. Tangannya masih sibuk menyendok nasi.
Arka menarik napas panjang. Ia mengumpulkan seluruh keberanian yang dimilikinya.
Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar tertarik pada seorang perempuan. Selama ini, Arka selalu mengabaikan siapapun yang mencoba mendekatinya. Baru sekarang ia merasakan sendiri bagaimana gugupnya seseorang ketika hendak menanyakan status orang yang disukainya.
Jantungnya berdetak tak karuan. Rasanya seperti hendak melompat keluar dari dadanya. Telapak tangannya mulai berkeringat, sementara tenggorokannya terasa kering.
Cuma menanyakan status seorang perempuan saja … kenapa sesulit ini?
“Mbakmu … Nara …” ulangnya pelan, berusaha terdengar biasa. “Dia … sudah punya pacar atau calon suami?”
Gerakan tangan Nanda mendadak berhenti. Sendok yang semula hendak menyuap nasi tertahan di udara. Perlahan ia mengangkat kepala, lalu menatap lurus ke arah atasannya. Sorot matanya berubah. Tak lagi santai seperti beberapa detik sebelumnya. Tatapan itu menyipit, seolah sedang mengukur maksud di balik pertanyaan Arka.
Dalam sekejap, Nanda bukan lagi bawahan Arka. Ia berubah menjadi seorang adik yang sedang menjaga kakak perempuannya.
“Kenapa Bapak tanya itu?” tanyanya langsung, tanpa berputar-putar. Nada suaranya terdengar lebih dingin dari biasanya.
Tatapannya tak bergeser sedikit pun.
“Bapak … suka sama Mbak saya?”
Arka menelan ludah sebelum menjawab.
Ia sadar, saat ini ia sedang berhadapan dengan satu-satunya laki-laki dalam keluarga Nara. Meski Nanda adalah anak paling bungsu, ia tetap seorang laki-laki—seseorang yang merasa bertanggung jawab melindungi ibu dan kakak perempuannya.
“A-aku tertarik sama Mbakmu,” jawab Arka masih terdengar gugup. “Kalo Mbakmu belum punya pacar atau calon suami … aku mau mau menjalin hubungan serius dengannya.”
“Hubungan seperti apa yang Bapak maksud?” tanya Nanda.
Nada suaranya berubah. Dingin dan tajam, seperti seorang penyidik yang sedang menginterogasi tersangka.
“Pernikahan,” jawab Arka mantap.
Mata Nanda semakin menyipit. “Bapak yakin?”
Di detik itu, rasa gugup yang sejak tadi menguasai Arka mendadak menghilang. Detak jantungnya kembali normal. Pertanyaan Nanda terdengar begitu aneh di telinganya, seolah ketertarikan dan keseriusannya terhadap Nara adalah sesuatu yang keliru.
“Kenapa kamu tanya gitu?” balas Arka. “Apa aku enggak boleh suka sama Mbakmu?”
Nanda menggeleng pelan. Ia meraih gelas di samping piringnya, meneguk air hingga habis, sebelum kembali membuka suara.
“Ada beberapa alasan kenapa saya nanya begitu ke Bapak.”
Arka mengernyit. “Alasan apa?”
Nanda menarik napas pelan sebelum mulai bercerita.
Ia menjelaskan sedikit tentang keluarganya. Tentang kejadian pada hari kedua setelah kematian Gina, ketika Nara meluapkan amarahnya kepada sang ayah di depan semua orang. Lalu ia menceritakan bagaimana kedua orang tuanya berpisah dengan cara yang tidak baik. Tentang hubungan kedua kakaknya dengan sang ayah yang bertolak belakang—Nara memilih menjaga jarak, sementara Gina tetap berusaha mempertahankan kedekatan. Hingga kini, Nanda sendiri masih tidak mengetahui alasan sebenarnya di balik perceraian kedua orangnya.
Tak hanya itu.
Ayah mereka, Saeful, telah menikah lagi.
Nanda tidak tahu pasti kapan pernikahan itu terjadi. Yang ia ingat, kabar itu sudah lebih dari sepuluh tahun lalu disampaikan Gina kepadanya.
Ayah mereka memang tidak memiliki anak lagi. Namun, sampai hari ini, pria itu tak pernah sekalipun memberi tahu langsung kepada Nanda dan Nara tentang pernikahan keduanya. Jangankan memperkenalkan istri barunya, mengabarkan kabar bahagia itu pun tidak pernah.