09 Mei 2025.
Pagi itu, Arka berencana mengunjungi lokasi konstruksi bersama Nanda. Sebuah laporan baru saja masuk mengenai material yang digunakan di lapangan tidak sesuai dengan desain yang telah disepakati bersama klien. Sebagai perancang desain, Arka dan Nanda harus datang langsung untuk memeriksa sekaligus mencari solusinya.
Tepat pada pukul 09.00 WIB, mobil Arka meninggalkan area kantor. Perjalanan menuju lokasi konstruksi diperkirakan memakan waktu sekitar dua puluh menit. Namun, baru lima menit mobil melaju, ponsel Nanda berdering. Nama sang ibu muncul di layar.
“Assalamualaikum, Bu,” sapa Nanda pelan sambil mengangkat panggilan.
“Waalaikumsalam, Nanda,” balas sang ibu dari seberang. Napasnya terdengar memburu, suaranya bergetar antara panik dan gugup. “Nan, kamu di mana? Di kantor?”
“Enggak, Bu,” jawab Nanda tenang, berusaha menenangkan kepanikan ibunya. “Lagi di luar. Memangnya kenapa?”
“Mbakmu, Nara … dia lagi ribut sama tetangga,” ujar Widayu tergesa-gesa. “Tadi dia mendadak pulang dari tempat kerja tanpa jelasin apa-apa. Dia cuma bilang orang dari dinas lingkungan mau datang.”
“Eh??” seru Nanda kaget. Nadanya meninggi tanpa sadar. “Yang benar, Bu?”
“Benar, Nan!” balas sang ibu semakin panik. “Kamu bisa pulang sebentar, enggak? Ibu takut Mbakmu—”
“Bisa, Bu,” potong Nanda cepat tanpa berpikir panjang. “Aku langsung pulang.”
Panggilan pun berakhir.
Arka yang sejak tadi menyetir melirik sekilas ke arah Nanda. Wajah bawahannya itu sudah berubah pucat, jelas diliputi kepanikan.
“Tadi telepon dari rumah, kan?” tanyanya, menebak dari panggilan “Bu” yang sempat didengarnya. “Ada apa?”
“Pak …” suara Nanda terdengar memohon. “Boleh saya pulang sebentar?”
“Ada masalah apa?”
“Di rumah, Pak. Mbak Nara—”
Nanda bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Arka sudah menyalakan lampu sein, lalu memutar balik mobil di persimpangan terdekat.
Dalam waktu kurang dari satu menit, tujuan mereka berubah. Bukan lagi menuju lokasi konstruksi, melainkan rumah Nara.
“Hubungi mandornya,” ujar Arka tegas tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Kasih tahu kalo kita akan datang terlambat.”
“Baik, Pak.”
Selagi mobil melaju menuju rumahnya, Nanda buru-buru menghubungi mandor untuk memberitahu bahwa kedatangan mereka akan sedikit terlambat.
“Ada apa sebenarnya di rumah?” tanya Arka setelah memastikan urusan dengan mandor sudah selesai.
“Begini, Pak …”
Nanda kemudian menjelaskan masalah yang belakangan terjadi di lingkungan rumahnya. Sekitar dua bulan lalu, Pemerintah Kota Nurantara mengeluarkan kebijakan baru mengenai pengelolaan sampah. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tidak lagi menerima sampah organik maupun sampah yang masih bisa didaur ulang. Masyarakat diminta mengelolanya secara mandiri.
Sampah yang masih dapat didaur ulang disalurkan ke bank sampah yang bekerja sampah dengan berbagai tempat pengolahan. Sementara itu, sampah organik harus diolah sendiri oleh masing-masing rumah tangga. Ada yang memilihnya menguburnya di pekarangan, ada pula yang membuat tempat pengolahan sederhana di sekitar rumah.
Namun, RT tempat Nanda tinggal mengambil kebijakan yang berbeda. Sampah organik dari seluruh warga dikumpulkan di satu lokasi untuk diolah menjadi pakan ternak lele. Gagasan itu muncul karena salah seorang warga membutuhkan pakan ternak lele berbiaya murah dan bersedia memanfaatkan limbah organik dari lingkungan sekitar.
Sebenarnya, ide itu cukup baik. Sampah yang semula menjadi limbah bisa dimanfaatkan kembali. Masalahnya muncul ketika proses pelaksanaannya dimulai. Karena lingkungan tempat tinggal Nanda merupakan kawasan perumahan yang padat, tidak ada lahan kosong yang bisa digunakan sebagai lokasi pengolahan. Akhirnya, Pak RT bersama beberapa warna yang terlibat memutuskan untuk menggunakan halaman sebuah rumah kosong yang letaknya hanya sekitar lima blok dari rumah Nanda—tanpa lebih dulu meminta persetujuan seluruh warga.
Sejak awal, mengolah sampah organik memang bukan perkara mudah. Bahkan pemerintah mengeluarkan kebijakan baru itu karena banyak daerah gagal mengelola sampah organik dengan baik sehingga justru menimbulkan persoalan baru. Hal serupa terjadi di lingkungan Nanda.
Selama kurang lebih sebulan terakhir, proyek pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak lele berkali-kali mengalami kegagalan. Limbah hasil pengolahannya dibuang begitu saja ke saluran pembuangan tanpa melalui proses yang benar. Akibatnya, tanah dan air di sekitar lokasi mulai tercemar. Bukan hanya itu, limbah tersebut mengundang tikus, memicu munculnya lalat dalam jumlah besar, dan menimbulkan bau menyengat yang menyebar ke pemukiman warga.
Rumah-rumah di sekitar lokasi sudah berkali-kali mengajukan keluhan. Namun, Pak RT dan beberapa warga yang mengelola proyek itu hanya diam, bahkan terkesan mengabaikannya.
“Terus … gimana Dinas Lingkungan bisa tahu?” sela Arka.
Ia tetap fokus menyetir sambil mendengarkan penjelasan Nanda. Jalan masuk menuju perumahan sudah terlihat. Rumah Nanda tinggal beberapa menit lagi.