ANTARCHAYA

mahes.varaa
Chapter #12

TERUS BERGERAK PART 1

Sejak tanggal 10 sampai dengan 13 Mei, Arka mendapat libur panjang. Empat hari itu biasanya ia manfaatkan untuk bepergian ke luar kota seorang diri. Namun, sejak mengenal Nara, rencana itu berubah. Kali ini, sebagian besar waktu liburnya justru ingin ia habiskan bersama perempuan yang mulai memenuhi pikirannya. 

Meski begitu, Arka tidak serta-merta menghabiskan seluruh liburannya di rumah Nara. Pada tanggal 10 dan 11 Mei, ia tetap pulang ke kediaman orang tuanya seperti biasa. Sebelumnya, ia memang sempat melewatkan jadwal pulang demi bertemu Nara. Kali ini, selain melepas rindu, ia juga ingin berkonsultasi dengan sang kakek mengenai perempuan yang berhasil menarik hatinya. 

Ia pulang ke rumahnya setelah mengantar Nara bekerja di Crustvale. Sebelum pulang, ia sempat membeli beberapa roti sebagai oleh-oleh untuk sang kakek. 

Seperti biasa, orang pertama yang dikunjunginya begitu tiba di rumah adalah sang kakek. 

“Assalamualaikum,” sapa Arka. 

Seperti kebiasaannya, ia langsung menuju kediaman sang kakek, menyela antrian panjang para tamu yang sedang menunggu giliran. 

“Waalaikumsalam,” jawab sang kakek lembut.

“Seperti biasa …” ujar Arka sambil duduk bersila di samping sang kakek. Ia menyodorkan sebuah tas berisi beberapa roti. “Ini oleh-oleh buat Kakekku tersayang.” 

Sang kakek terkekeh pelan. Ia mengenal cucu tunggalnya terlalu baik. 

“Jangan sok manis sama Kakek,” ucapnya datar. “Mau minta apa?” 

“Aku mau konsultasi, Kek,” jawab Arka sambil tersenyum kecil. 

“Nanti sore saja …” balas sang kakek cepat. Ia melirik ke arah deretan tamu yang masih menunggu di depan rumah. “Sekarang … Kakek masih banyak tamu.” 

Arka mengangguk mengerti. “Ya, Kek. Arka enggak buru-buru, kok.” 

Karena maksud kedatangannya sudah tersampaikan, ia segera berpamitan. Setelah itu, ia berjalan menuju kediaman orang tuanya, membiarkan antrian tamu yang tadi sempat ia sela kembali berjalan seperti semula. 

Hari-hari Arka di rumah orang tuanya sebenarnya tidak terlalu ramai. Ia memang selalu menyempatkan diri bertemu dan menyapa kedua orang tuanya setiap pagi. Namun setelah itu, keduanya akan kembali sibuk dengan aktivitas di pondok pesantren hingga menjelang sore. 

Karena tak banyak yang bisa dilakukan di rumah, Arka biasanya mengisi waktunya dengan membersihkan seluruh bagian rumah orang tuanya. Ia memeriksa bagian-bagian yang rusak, lalu memperbaikinya sendiri jika memungkinkan. 

Sesudah itu, ia sering berkeliling pondok untuk menemui beberapa teman lamanya yang kini mengajar di sana. Kadang mereka hanya berbincang sebentar, sekadar melepas rindu. Di lain waktu, Arka ikut bermain layang-layang bersama para santri yang masih belasan tahun. Jika kebetulan sedang musim panen di lahan milik kakek dan orang tuanya, ia pun tak segan turun langsung membantu. 

Namun, ketika semua kegiatan itu mulai terasa membosankan, ada satu tempat yang selalu menjadi pelariannya: kediaman sang kakek. 

Di sana, Arka tak perlu melakukan apapun. Ia hanya duduk diam di samping sang kakek sambil mendengarkan kisah demi kisah dari pasien yang datang meminta pertolongan. Dan entah mengapa, cerita-cerita itulah yang selalu berhasil membuatnya betah berlama-lama di sana. 

Setelah salat asar, Arka mengunjungi kediaman sang kakek. 

Di sana, pria tua itu sudah menunggunya di teras belakang. Jemari tangan kanannya terus memutar butiran tasbih, sementara tatapannya mengarah ke langit sore yang mulai memerah. 

Usai mengucapkan salam, Arka langsung duduk tidak jauh dari sang kakek. Ia bersandar santai, menatap ke arah yang sama. 

“Mau konsultasi soal apa?” tanya Kakek langsung ke intinya. 

Tanpa banyak basa-basi, Arka segera menceritakan semua yang terjadi. Mulai dari pertemuannya dengan Nara, alasan yang membuatnya tertarik pada perempuan itu, keanehan-keanehan yang terjadi di rumah Nara, hingga kejadian kemarin. 

Perubahan pada bayangan hitam di belakang Nara membuatnya gelisah. Namun kegelisahan itu tak bisa ia ungkapkan langsung kepada perempuan itu, karena hanya dirinya yang mampu melihatnya. 

Begitu Arka selesai bercerita, jemari sang kakek yang sejak tadi memutar tasbih mendadak terhenti. Pria itu terdiam beberapa saat, seolah sedang menimbang sesuatu. Untuk pertama kalinya, Arka melihat ekspresi sang kakek yang tampak ragu. 

“Kamu ingin pastikan bayangan hitam di belakang Nara bukan sesuatu yang buruk, kan?” tanya sang kakek. Suaranya yang tenang memecah keheningan. 

Arka mengangguk pelan. 

Lihat selengkapnya