Setelah pembicaraan tentang makhluk-makhluk di luar rumah selesai, Arka berniat menanyakan sesuatu yang dititipkan sang kakek—nama lengkap dan tanggal lahir seluruh anggota keluarga Nara.
Namun sebelum sempat membuka mulut, suara keributan terdengar dari ruang depan.
Arka refleks hendak keluar untuk melihat apa yang terjadi, tetapi Nanda segera menghentikannya.
“Yang datang itu saudara-saudaranya Ibu,” ujar Nanda. Hanya dari suara mereka, ia langsung mengenali para tamu. Ada Paman, Bibi, sama anak mereka.”
Dari balik dinding kamar yang berbatasan langsung dengan ruang tamu, percakapan mereka terdengar cukup jelas.
Awalnya, ketiga tamu itu menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Gina.
Menurut Nanda, seminggu setelah Gina meninggal, mereka juga sempat datang bersama rombongan keluarga besar. Baik ayah dan ibu Nanda sebenarnya bukan penduduk asli kota Nurantara. Keduanya adalah perantau yang menetap di kota itu setelah menikah karena alasan pekerjaan. Widayu berasal dari kota Purwadipa, sedangkan Saeful berasal dari kota Maghrantara.
Tak lama kemudian, pembicaraan beralih pada kondisi nenek mereka.
Suara satu-satunya perempuan dalam rombongan itu terdengar angkuh dan cenderung ingin menang sendiri. Ia tampak tidak suka dipotong ataupun dibantah. Sementara pria yang lebih tua berbicara dengan nada tenang, tetapi berkesan tak memiliki pendirian. Ia hanya mengikuti apa yang dikatakan kakak tertuanya. Adapun suara pria yang lebih muda—sepupu Nara dan Nanda—terdengar sangat mirip dengan ibunya. Nada bicaranya sama-sama angkuh dan selalu condong membenarkan sang ibu.
Hanya dengan mendengarkan percakapan dari balik dinding, Arka sudah bisa menangkap bahwa saudara-saudara Widayu memiliki sifat yang sangat berbeda dengannya.
Semakin lama ia mendengarkan, semakin ia merasa bahwa Widayu justru menjadi orang yang paling lembut di antara saudara-saudaranya.
“Ibu sakit, Wid,” ujar sang bibi. Nada suaranya terdengar angkuh, sama sekali tak menunjukkan rasa prihatin. “Aku sudah capek ngerawatnya. Sekarang giliran kamu.”
“Aku ndak masalah kalau Ibu mau tinggal sama aku,” jawab Widayu tenang. “Tapi Ibu sendiri yang ndak mau, Mbak. Ibu ndak kerasan di sini.”
“Pokoknya, aku sudah enggak sanggup ngurus Ibu. Aku, Yono, sama anakku juga sudah enggak sanggup,” balas sang bibi. Nadanya lebih terdengar seperti orang tak mau menerima beban daripada seseorang yang benar-benar kelelahan merawat orang sakit.
Di samping Arka, Nanda kembali memberi penjelasan dengan suara lirih.
Sejak sang kakek meninggal setahun lalu, kondisi nenek mereka terus menurun. Kesehatannya semakin memburuk setelah mendengar kabar kematian Gina.
Di Purwadipa, tempat sang nenek tinggal, hampir semua saudara Widayu juga menetap di sana. Ada banyak saudara, termasuk paman dan bibi yang datang hari ini. Seharusnya, merawat satu orang tua yang sakit bukanlah hal yang terlalu berat jika dilakukan bersama-sama. Buktinya, Widayu bersama dua anaknya mampu merawat Gina tanpa bergantung pada orang lain.
Masalahnya, menurut Nanda, saudara-saudara ibunya terlalu mementingkan diri sendiri. Mereka selalu ingin menang sendiri, sangat berbeda dengan Widayu.
“Aku ndak keberatan merawat Ibu,” ujar Widayu lagi. “Tapi, Mbak … tolong biarkan aku berduka dulu. Gina pergi belum genap empat puluh hari.”
“Yang sudah pergi, biarkan pergi, Tante,” sahut putra sang bibi. “Sekarang yang masih hidup itu Nenek. Prioritasnya ya yang masih hidup.”
Arka hendak bertanya lagi kepada Nanda. Namun niat itu langsung terhenti. Bulu kuduknya berdiri. Hawa dingin kembali merambat, bahkan terasa jauh lebih menusuk daripada sebelumnya.
“Enak saja kalian melempar tanggung jawab!”
Suara itu terdengar begitu jelas. Arka mengenalnya. Suara itu … sangat mirip dengan suara Nara. Namun ada sesuatu yang berbeda. Lebih dingin. Lebih berat.
Gawat …
Tanpa berpikir panjang, Arka langsung bangkit dan berlari keluar kamar. Baru beberapa langkah, sebuah jeritan keras memecah rumah.
“Arghhh!!”
“Na–”
Arka hendak memanggil Nara. Ia yakin bayangan hitam di belakang perempuan itu kembali bergerak seperti kejadian sebelumnya. Suara yang baru saja didengarnya adalah pertanda yang sama.
Namun sesaat setelah tiba di ruang tamu, langkahnya terhenti. Tubuhnya membeku.