ANTARCHAYA

mahes.varaa
Chapter #14

SEMAKIN TAK TERKENDALI

15 Mei 2025. 

Sejak kejadian itu, Nara menolak bertemu dengan Arka. Mungkin ia merasa bersalah karena telah memperlihatkan sisi terburuk dirinya. Mungkin juga, ia terlalu malu dengan latar belakang keluarganya yang penuh masalah. Yang jelas, sejak hari itu Nara meminta waktu untuk menyendiri. Ia bahkan menghentikan pesan-pesan yang biasanya mereka saling kirim. 

Alasan seperti itu mungkin cukup untuk membuat pria lain mundur. Namun, Arka bukan pria kebanyakan. 

Dengan mata istimewanya yang mampu melihat warna jiwa dan makhluk gaib, ia tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Warna jiwa Nara masih nyaris putih. Baginya, amarah yang meledak hari itu bukanlah cerminan sifat asli Nara, melainkan luapan emosi yang telah dipendam selama bertahun-tahun. 

Arka juga tak mampu menganggap Nara sebagai perempuan yang jahat atau kejam. Justru sebaliknya. Warna jiwa perempuan itu jauh lebih bersih dibandingkan kebanyakan orang yang pernah ditemuinya. 

Di sisi lain, Arka sadar masih banyak hal yang belum ia ketahui tentang masa lalu keluarga Nara. Ia ingin bertanya, ingin meminta penjelasan. Namun pada akhirnya ia memilih menunggu sampai Nara sendiri yang bersedia membuka cerita itu. 

Satu-satunya yang terus mengusik pikiran Arka adalah bayangan hitam di belakang Nara. Kejadian kemarin menjadi pertanda bahwa bayangan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang selama ini kira. Namun, sekali lagi, tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu. 

Di benaknya sempat muncul sebuah dugaan. Selama Nara tidak terpancing emosi, mungkin bayangan hitam itu juga tidak akan bergerak. 

Namun kenyataan itu runtuh sore ini. 

Tepat setelah jam kerja berakhir, Nanda tiba-tiba meminta waktu untuk berbicara empat mata dengannya. Mereka berbincang di ruang kerja Arka setelah seluruh karyawan di departemen desain berpamitan pulang. 

“Ada apa?” tanya Arka, sedikit cemas. “Apa terjadi sesuatu sama Nara?” 

Nanda terdiam beberapa saat. Ia tampak ragu sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Aku enggak yakin, Mas …” 

“Memangnya ada apa?” 

Nanda pun mulai menceritakan apa yang terjadi beberapa hari terakhir, sejak Nara menolak bertemu Arka. 

Awalnya, sang kakak memang sengaja menjaga jarak karena ingin menenangkan diri. Ia ingin memikirkan cara menjelaskan semuanya kepada Arka, termasuk sejarah keluarganya yang penuh konflik dan alasan di balik amarah yang sempat membuatnya kehilangan kendali. 

Sebenarnya … kemarin Nara sudah berniat menemui Arka dan menceritakan semuanya. 

Namun, sesuatu terjadi pagi itu. 

Persediaan bahan makanan di rumah habis. Seperti biasa, Nara pergi ke pasar sekitar pukul 05.00 WIB untuk berbelanja. Tak ada yang terlihat aneh. Wajahnya bahkan tampak lebih cerah dibanding beberapa hari sebelumnya. Seolah luapan emosi yang sempat keluar telah ikut mengangkat beban yang selama ini dipendamnya.

“Biar aku temani, Mbak,” tawar Nanda. “Kakiku sudah enggak terlalu sakit, kok.” 

Namun, Nara menolaknya. Kaki Nanda memang belum benar-benar pulih akibat kecelakaan beberapa hari lalu. Jalannya masih sedikit pincang. Nara khawatir memaksanya ikut justru akan memperparah kondisinya. 

Nara pergi sekitar satu jam. Ia kembali sekitar pukul 06.10 WIB. 

Namun, ada sesuatu yang berbeda. 

Begitu tiba di rumah, ia hanya memasukkan sepeda motornya ke garasi, lalu berlari masuk tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ia langsung mengurung dirinya di kamar. 

Melihat gelagat aneh itu, Nanda dan Widayu berusaha mengetuk pintu kamar dan mengajaknya bicara. Namun, tak satupun panggilan mereka dijawab. Seolah Nara benar-benar menolak bertemu siapapun. 

Sejak hari itu, ia mengajukan cuti dari pekerjaannya dan terus mengurung diri di kamar. Bahkan sampai hari ini … Nara masih belum mau keluar. 

Tak butuh waktu lama bagi Nanda dan ibunya untuk mengetahui penyebab perubahan sikap itu. Pagi tadi, salah seorang pedagang sayur yang biasa berbelanja di pasar yang sama dengan Nara, kebetulan lewat ke rumah mereka. 

Pria berusia sekitar empat puluh tahun itu ternyata melihat langsung apa yang terjadi kemarin pagi. Bahkan … awalnya ia sempat berniat menyapa Nara, sampai kejadian itu terjadi. 

Motor Nara yang terparkir di dekat salah satu lapak pasar mendadak ditabrak dari belakang oleh seorang penjual sayur. 

Perempuan berusia sekitar lima puluh tahun itu memang dikenal memiliki tabiat buruk. Bicaranya kasar, selalu ingin menang sendiri, dan gemar menawar hingga kelewatan. Hampir semua pedagang di pasar mengenalnya. Sebisa mungkin, mereka memilih untuk tidak berurusan dengannya. 

Brak! 

Motor Nara terguncang cukup keras hingga kehilangan keseimbnangan dan roboh ke samping. Nahasnya, di atas dek kaki motor terdapat tas belanja bersama sekitar dua kilogram telur. Tas itu ikut terjatuh. Satu persatu telur pecah di atas aspal. Tak ada lagi yang bisa diselamatkan. 

Dalam situasi itu, seharusnya Nara yang berhak marah. Dialah pihak yang dirugikan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih meminta maaf atau mengakui kesalahannya, perempuan itu malah menyalahkan Nara karena dianggap memarkir motor sembarangan. 

Nara memilih diam. 

Tanpa membalas, ia berjongkok dan memunguti barang-barang belanjaannya yang berserakan. Beberapa pedagang yang mengenalnya segera datang membantu. Bahkan, tak sedikit yang terang-terangan membela Nara karena mereka melihat sendiri siapa yang sebenarnya bersalah. 

Namun, perempuan itu benar-benar tak tahu malu. Meski dikelilingi banyak saksi, ia tetap bersikeras menganggap dirinya korban. 

Kesabaran Nara akhirnya habis. Bukan karena telur yang pecah. Melainkan karena perempuan itu terus mencemoohnya, bahkan ketika orang-orang lain sedang berusaha membelanya. 

“Ibu sendiri yang bilang kalau aku salah, kan?” ucap Nara dingin. Tatapannya tajam, tak lagi berusaha menyembunyikan amarah. “Kalau nanti Ibu yang ditabrak dari belakang, apa Ibu juga bakal nyalahin diri sendiri?”

Kalimat itu sebenarnya tidak mengandung makian. Tak ada kata-kata kasar. Tak ada ancaman. Hanya sebuah pertanyaan yang lahir dari rasa tidak adil. Namun … apa yang terjadi setelahnya membuat ucapan itu terasa mengerikan. 

Tak lama setelah adu mulut berakhir, perempuan itu pergi begitu saja tanpa mengganti kerugian Nara. Ia mengendarai sepeda motornya yang dipenuhi keranjang besar berisi dagangan. Baru beberapa meter keluar dari area pasar … 

Brakkkk!! 

Sebuah truk yang melaju dari belakang menabrak motornya. 

Deg! 

Hanya mendengar cerita itu, Arka langsung merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi. Bayangan hitam di belakang Nara pasti kembali bergerak. Semakin besar. Semakin kuat. Seolah merespons setiap amarah yang lahir dari hati perempuan itu. 

Namun … cerita Nanda belum selesai. Masih ada hal lain yang jauh lebih mengusik. 

Pagi tadi, Nanda menerima pesan dari bibir termuda dari pihak ibunya. Pesan itu berisi kabar buruk yang menimpa keluarga mereka setelah kunjungan mereka ke rumah Nara beberapa hari lalu. 

Setibanya di Purwadipa, sepupu Nara yang ikut datang hari itu mendadak jatuh sakit. Pria berusia akhir tiga puluhan itu langsung dilarikan ke rumah sakit dan didiagnosa mengalami gagal ginjal stadium tiga. 

Belum selesai sampai di situ. 

Anak tiri dari paman Nanda dinyatakan hilang semalaman. Keluarga dan warga melakukan pencarian besar-besaran.

Baru pagi tadi … gadis berusia tujuh belas tahun itu ditemukan tak bernyawa. Ia menjadi korban begal. Motornya raib, nyawanya melayang. 

Lihat selengkapnya