Sial!!
Setelah memacu mobilnya hingga nyaris 100 km/jam, Arka akhirnya tiba di depan rumah Nara.
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Tentang peringatan sang kakek bahwa ia tak boleh menolong Nara setengah-setengah. Tentang takdir keluarga Nara yang menjadi akar dari semua kemalangan itu. Tentang bakat yang pernah diambil darinya. Dan tentang makhluk-makhluk yang selama ini berkeliaran di sekitar rumah itu.
Ada terlalu banyak hal yang belum ia pahami. Sekeras apapun ia mencoba menyusu semuanya, tak satupun jawaban yang terasa benar. Namun semua pertanyaan itu lenyap begitu saja saat mobilnya berhenti di depan rumah Nara.
Arka bahkan belum sempat turun ketika matanya, yang terlindung di balik kacamata hitam, menangkap pemandangan yang membuat dadanya menegang.
Apa-apaan ini …? Makhluk-makhluk itu—
“Mas!!”
Teriakan Nanda memotong pikirannya.
Pria muda itu bergegas membuka pintu rumah begitu mendengar suara mobil Arka. Sebelum berangkat dari kediaman kakeknya, Arka memang sudah meminta Nanda untuk ijin pulang lebih awal. Ia membutuhkan bantuan pria muda itu untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi kepada Nara dan Widayu.
Arka segera keluar dari mobil. Namun langkahnya melambat ketika hendak memasuki halaman rumah.
Makhluk-makhluk berbalut kain putih kusam itu tak lagi berdiri terpencar seperti sebelumnya. Kini mereka semua berkumpul di satu titik. Mereka semua menghadap ke arah yang sama—sebuah jendela di sisi rumah. Jendela kamar Nara.
Arka mempercepat langkahnya, lalu berbisik begitu berada di dekat Nanda. “Sejak kapan mereka kayak gini?”
“Mulai kemarin, Mas,” jawab Nanda lirih.
“Kenapa kamu enggak bilang?”
“Kemarin sebenarnya saya mau bilang.” Nanda menundukkan kepala sesaat. “Tapi karena Mas bilang untuk menunggu. Jadi saya putuskan nunggu kabar dari Mas dulu.”
Di titik itu, Arka akhirnya menyadari asal firasat buruk yang terus mengusiknya sejak terakhir kali bertemu Nara. Pemandangan inilah yang sejak awal ia takutkan.
Nanda kemudian menjelaskan bahwa makhluk-makhluk itu tidak berpindah sekaligus. Mereka bergerak sedikit demi sedikit, seperti sebelumnya. Awalnya Nanda tidak menyadarinya. Baru sepulang kerja kemarin, ia melihat beberapa sosok sudah berdiri tepat di luar jendela kamar Nara. Dan pagi ini, hampir semuanya telah berkumpul di sana.
Pemandangan itu membuktikan bahwa perkataan sang kakek memang benar. Makhluk-makhluk itu selama ini bukan sekadar berkeliaran di sekitar rumah. Mereka sedang mengawasi. Menunggu. Dan sekarang … mereka telah menemukan targetnya.
Arka mengembuskan napas pelan, lalu memberi isyarat agar mereka masuk ke dalam rumah terlebih dulu. Keduanya berhenti sejenak di dekat pintu depan, memastikan tak ada yang mendengar sebelum membicarakan langkah berikutnya.
“Kamu tahu kenapa aku minta kamu pulang lebih awal, kan?” ujar Arka pelan. “Aku butuh bantuanmu buat bicara sama Ibu. Kalo cuma aku yang jelaskan, Ibumu mungkin enggak akan percaya.”
Nanda mengangguk pelan.
“Aku tahu, Mas.” Suaranya terdengar berat. “Sekarang … apa yang harus kita lakukan buat nyelametin Mbak Nara?”
Arka menarik napas panjang sebelum menjawab. “Nara harus keluar dari rumah ini.”
“Keluar??” ulang Nanda, bingung. “Bukannya di dalam rumah justru aman, Mas? Makhluk-makhluk itu kan enggak bisa masuk.”
“Untuk sekarang, iya,” jawab Arka. “Tapi sampai kapan?”