“I-ibu …” panggil Arka lirih. Kepalanya masih dipenuhi begitu banyak informasi yang harus ia cerna. “Apa mungkin Ibu tahu bakat apa yang mungkin diwariskan keluarga Ibu kepada Nara? Kakek bilang, Nara mewarisi sesuatu dari garis keturunan Ibu.”
Widayu terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab.
“Kakek Ibu punya mata batin istimewa,” ujarnya pelan. “Di keluarga ini, yang bisa lihat makhluk gaib cuma Nanda dan Gina. Sementara Nenek … katanya memang punya sesuatu yang lebih istimewa. Tapi apa itu, Ibu ndak tahu. Nenek meninggal waktu Ibu masih terlalu kecil.”
Hanya sebatas ini … batin Arka. Kalo hanya kemampuan melihat makhluk gaib … itu jelas bukan “sesuatu” yang dimaksud sang kakek.
Arka menoleh ke arah Nanda. Ia menatap pria muda itu beberapa saat. Kemampuan melihat makhluk gaib bukan sesuatu yang langka. Selama hidupnya, Arka pernah bertemu banyak orang yang memiliki kemampuan serupa.
Kalo memang itu yang diincar … seharusnya setelah Gina, target berikutnya adalah Nanda, bukan Nara, pikirnya. Pasti ada yang lain.
Ada sesuatu tentang Nara yang masih tersembunyi. Sesuatu yang belum berhasil mereka temukan. Sesuatu yang mungkin berkaitan dengan kemunculan bayangan hitam di belakangnya, padahal warna jiwanya nyaris putih bersih.
Namun sekarang bukan waktunya menyelidiki semua itu. Yang terpenting sekarang adalah membawa Nara keluar dari rumah ini secepat mungkin. Sebelum apapun yang sedang menunggunya mengambil langkah lebih dulu.
“Maaf, Bu,” ujar Arka penuh penyesalan. “Seperti yang Nanda bilang tadi, Nara sudah enggak aman tinggal di sini. Aku ingin membawanya ke tempat yang lebih aman, sejauh mungkin dari rumah ini.”
Widayu tidak langsung menjawab. Raut wajahnya dipenuhi keraguan. Luka karena kehilangan Gina bahkan belum sempat mengering. Kini, bayang-bayang kehilangan putri yang tersisa kembali menghantuinya. Ia baru saja kehilangan putri keduanya. Kini, bayang-bayang kehilangan kembali menghantuinya.
“Apa … Ibu masih bisa ketemu Nara nanti?” tanyanya lirih.
“Tentu bisa, Bu,” jawab Arka dengan senyum tipis.
Ia memahami ketakutan seorang ibu yang baru saja kehilangan seorang anak. Hal terakhir yang diinginkan Widayu adalah kembali berpisah dengan putri yang masih dimilikinya.
“Aku sendiri yang akan mengantar Ibu kalo ingin menemuinya.”
Widayu mengembuskan napas panjang.
“Kalau gitu … silakan bawa Nara,” ujarnya akhirnya. “Ibu titip Nara sama kamu, Nak Arka.”
“Insyaallah, Bu.”
Begitu mendapat ijin, Arka dan Nanda segera menuju kamar Nara. Namun seperti yang sudah diduga, Nara tetap menolak membuka pintu. Ia memilih mengurung di balik kamarnya.
“Nara … “ panggil Arka lembut. Ia sudah meminta Nanda membiarkan dirinya berbicara sendiri dengan Nara. “Tolong buka pintunya. Kamu harus segera pergi dari rumah ini.”
Tak ada jawaban. Tak ada suara langkah kaki. Bahkan bunyi kunci yang diputar pun tidak terdengar.
Arka mengembuskan napas pelan. Perlahan, ia duduk bersandar pada pintu kamar itu, membelakanginya. Sesekali ia melirik ke belakang, seolah yakin Nara berada tepat di sisi lain pintu, melakukan hal yang sama—duduk bersandar sambil mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan.
“Dengarkan aku, Nara …” ucapnya pelan. “Aku selama ini enggak jujur soal latar belakang keluargaku.”
Ia memilih memulai semuanya dengan kejujuran. Sebuah kejujuran yang sebelumnya sengaja ia tunda karena ingin melihat apakah Nara bisa menerimanya apa adanya.
Namun sekarang … kepercayaan jauh lebih penting daripada rahasia.
Arka teringat ucapan sang kakek. Nara kehilangan kepercayaan pada manusia.