ANTARCHAYA

mahes.varaa
Chapter #17

APA INI AKHIRNYA? PART 1

“Kita pergi sekarang!!” ujar Arka cepat. 

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung melangkah masuk ke kamar Nara. Pandangannya menyapu ruangan sejenak sebelum berhenti pada sebuah tas ransel besar yang tergantung di balik pintu. Tas itu spontan diambilnya. 

“Masukkan beberapa pakaian sama barang-barang yang penting saja,” ujarnya tanpa memberi jeda. “Yang lain nanti bisa nyusul.” 

“M-mau ke mana?” tanya Nara bingung. Wajahnya masih basah oleh air mata, bahkan ia belum sempat menghapus bekas tangisnya. “Ke-kenapa kita harus pergi?” 

“Aku jelasin di mobil nanti.” 

Sambil menunggu Nara bersiap, Arka tanpa sadar mengamati kamar itu. 

Kamar berukuran empat kali empat meter itu jauh lebih sederhana daripada yang ia bayangkan. Memang ada sentuhan khas perempuan, tetapi tidak terlalu mencolok. Dindingnya dicat hijau dan broken white, sementara hampir seluruh perabotnya didominasi warna coklat muda. 

Di atas meja hanya ada beberapa perlengkapan rias. Jumlahnya sedikit—jauh lebih sedikit dibanding kebanyakan perempuan seusianya yang bahkan berdandan hanya untuk membeli makanan di depan gang. Tak ada boneka yang menghiasi ruangan. Sebaliknya, satu sisi kamar dipenuhi rak buku dan berbagai puzzle tiga dimensi, seolah menjadi cerminan bahwa pemiliknya menyukai sesuatu rumit, logis, dan menantang. 

Sementara itu, Nara yang belum benar-benar memahami situasi, buru-buru membuka lemari pakaiannya. Ia mengambil beberapa potong pakaian seperlunya, lalu berpindah ke meja kerja untuk memasukkan laptop, ponsel, serta pengisi dayanya ke dalam tas. Setelah itu, ia meraih dompet dan jaket panjang yang biasa dipakainya bepergian. 

“Sudah semua?” tanya Arka memastikan. 

“S-sudah,” jawab Nara sambil mengangguk pelan. “Baju, laptop, ponsel buat kerja, sama dompet.” 

“Oke. Kita berangkat sekarang.” 

Arka mengambil tas milik Nara, lalu berjalan lebih dulu keluar kamar. 

Di ruang keluarga, Widayu dan Nanda telah menunggu. Begitu melihat Nara keluar, keduanya langsung memeluknya erat. 

“Se-sebenarnya ada apa?” tanya Nara bingung sambil menatap ibu dan adiknya bergantian. “Kenapa aku harus—” 

“Nanti Mas Arka yang jelasin, Mbak,” potong Nanda pelan. 

Nara menoleh ke arah ibunya. “Kalau gitu, kenapa Ibu sama Nanda enggak ikut juga?” tanya Nara tidak menyerah. 

Widayu tersenyum tipis, meski sorot matanya tak mampu menyembunyikan kegelisahannya. “Nanti biar Nak Arka yang jelasin.” 

Tak mendapat jawaban lain, Nara akhirnya mengangguk pelan. 

Setelah pelukan singkat itu berakhir, ia berjalan masuk menuju mobil. Sementara itu, Arka menyimpan tasnya di kursi belakang sebelum kembali menghampiri Widayu.

“Bu, kami pamit dulu.” 

“Titip Nara ya, Nak Arka,” ujar Widayu. Matanya mulai berkaca-kaca. Sebisa mungkin ia menahan keengganannya berpisah dengan putri terakhir yang masih berada di sisinya. 

“Insyaallah, Bu,” jawab Arka mantap. “Begitu keadaan Nara sudah aman, aku sendiri yang akan mengantar Ibu buat menemuinya.” 

Widayu mengangguk pelan. 

“Terima kasih banyak, Nak Arka.” 

Arka membalas dengan anggukan hormat, lalu berbalik menuju mobil. 

Namun, langkahnya mendadak terhenti. Tatapannya jatuh pada makhluk-makhluk berbalut kain putih kusam yang berkumpul di halaman rumah. 

Beberapa saat yang lalu, seluruh makhluk itu hanya berdiri menghadap jendela kamar Nara. Sekarang … tubuh mereka bergetar bersamaan. Perlahan. Lalu serempak memutar tubuh. Puluhan wajah rusak itu kini menghadap tepat ke arah mobil Arka. 

Jantung Arka seolah berhenti berdetak. 

Gawat … mereka tahu, batinnya. Mereka tahu Nara hendak dibawa pergi. 

Perlahan, seringai mengerikan merekah di wajah-wajah mereka yang hancur. Senyum itu seolah berkata bahwa kemanapun Arka membawa Nara, mereka akan tetap mengikuti. 

Tanpa membuat waktu sedetik pun, Arka segera masuk ke balik kemudi, menyalakan mesin, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam. 

Mobil hitam itu melesat meninggalkan rumah. 

Sesaat sebelum berbelok keluar dari gang, Arka kembali melirik kaca spion. Makhluk-makhluk itu … kepala mereka masih terus bergerak, mengikuti arah laju mobil yang membawa Nara pergi. 

Cepat. Aku harus cepat bawa Nara pergi dari sini … batinnya. 

Arka tak punya pilihan selain terus menambah kecepatan. Ia harus membawa Nara sejauh mungkin dari rumah itu—dan dari makhluk-makhluk yang terus mengawasi mereka. 

“Sebenarnya … apa yang terjadi?” 

Begitu rumahnya tak lagi terlihat di kaca spion, Nara akhirnya memecah keheningan. Tatapannya beralih kepada Arka, dipenuhi kebingungan. 

Namun, sebelum menjawab, Arka lebih dulu menghubungi satu orang—Prasetya, tangan kanan sang kakek. Ia perlu memberi kabar bahwa dirinya telah berhasil membawa Nara pergi dan kini sedang dalam perjalanan kembali. 

“Ya, Ra Arka,” jawab Prasetya dari seberang telepon. “Saya sudah minta para santri membersihkan rumah Ra Arka. Apa ada yang lain?” 

“Enggak ada.” 

“Ra Arka baru berangkat, kan?” tanya Prasetya memastikan. 

“Ya. Memangnya kenapa?” 

Lihat selengkapnya