ANTARCHAYA

mahes.varaa
Chapter #18

APA INI AKHIRNYA? PART 2

“Arka??” seru Nara saat menyadari ada yang tidak beres. 

“Mereka … nangkap tangan sama kakiku,” jawab Arka dengan suara bergetar. 

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Nara, berusaha untuk tetap tenang sembari terus memperhatikan jalan di depan. “A-apa yang bisa aku bantu?” 

“Lihat jalannya saja,” ujar Arka, berbohong. “Aku masih bisa ngatasin makhluk-makhluk ini.” 

Padahal ia hampir tak mampu melawan. Puluhan lidah masih melilit tangan dan kakinya, sementara gigi hitam itu terus menancap, mengisap tenaganya tanpa henti. 

Setiap detik yang berlalu membuat tubuh Arka terasa semakin berat, seolah kehidupan di dalam dirinya sedang direnggut sedikit demi sedikit. Pandangannya mulai berkunang-kunang, sementara napasnya kian berat. Namun, ia memaksa dirinya tetap bertahan. Ia belum bisa tumbang. Belum sebelum membawa Nara pergi dari tempat itu. 

Ya Allah, apa ini akhirnya?

Doa itu baru saja terucap di dalam hati ketika ponselnya tiba-tiba bergetar. 

Drrrt …. 

Nama Prasetya muncul di layar. 

Arka berusaha mengangkat tangannya untuk menerima panggilan itu. Namun cengkeraman makhluk-makhluk itu terlalu kuat. 

“Nara … tolong angkat.” 

Tanpa membuang waktu, Nara segera menerima panggilan itu lalu mengaktifkan pengeras suara. 

“Assalamualaikum, Ra Arka,” suara Prasetya terdengar dari ujung sambungan. “Ra Arka sudah sampai mana?” 

Arka melirik layar GPS. 

“Kecamatan Tirtajaya, Pak,” jawabnya cepat. 

“Kalau begitu, sebentar lagi kita papasan, Ra. Se—” 

Ucapan Prasetya mendadak terputus. 

Arka sempat mengira sambungannya terputus. Namun sedetik kemudian, suara pria itu kembali terdengar. 

“Astaghfirullah … Ra Arka!!” serunya dengan nada yang jauh lebih tinggi. “Mobil Ra Arka …” 

Arka tak perlu melihat wajah Prasetya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Mereka pasti baru saja berpapasan. Dan Prasetya …baru saja melihat puluhan makhluk berbalut kain putih kusam yang menempel di seluruh badan mobil Arka. 

“Pak Pras …” ujar Arka lirih.

Tubuhnya mulai terasa semakin lemah. Makhluk-makhluk itu terus menghisap tenaganya, perlahan-lahan berusaha merenggut nyawanya. 

“Cepat kejar mobilku,” lanjutnya dengan napas memburu. “Mereka berusaha mengambil alih kemudi … dan menyedot tenagaku.” 

“Ya, Ra Arka!” 

Sambungan telepon terputus. 

Dengan adanya Prasetya, Arka berharap akan ada seseorang yang membantunya menghentikan makhluk-makhluk yang mengerumuni mobilnya. Sendirian, ia tak mungkin mampu melawan semuanya. Yang perlu ia lakukan hanyalah bertahan sampai Prasetya berhasil menyusul. 

Namun, sebelum pria itu sempat mengejar, makhluk-makhluk itu seolah menyadari harapan Arka. 

Kaki Arka kembali dipaksa menginjak pedal gas lebih dalam. Pada saat yang sama, kedua tangannya digerakkan untuk membelokkan setir keluar jalur. 

“Arka!” 

Teriakan Nara menggema di dalam mobil. 

Arka tak mampu melakukan apapun selain menggeleng pelan. Isyarat itu sudah cukup membuat Nara mengerti bahwa Arka telah kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. 

Lihat selengkapnya