ANTARCHAYA

mahes.varaa
Chapter #19

DUNIA LAIN

D-di mana ini? 

Perlahan, Arka membuka mata. 

Tempat pertama yang terlintas di benaknya seharusnya adalah rumah sakit. Namun saat penglihatannya mulai fokus, ia sadar bahwa dirinya sama sekali tidak berada di sana. Ia justru berdiri di sebuah tempat asing. 

Kabut putih yang sangat tebal membentang ke segala arah, membatasi pandangannya. Sejauh mata memandang, tak ada apapun selain hamparan kabut. Tak ada jalan. Tak ada pepohonan. Tak ada bangunan. Tak ada tanda apapun yang bisa menunjukkan di mana ia berada. 

Di mana ini? Kenapa aku ada di sini? 

Kening Arka mengernyit. Ia berusaha mengingat kejadian terakhir sebelum kehilangan kesadaran. 

Dalam sekejap, ingatannya berputar kembali. Dimulai dari kedatangannya ke rumah Nara, pengakuannya tentang latar belakang keluarganya, usahanya membawa perempuan itu pergi, hingga kecelakaan yang disebabkan oleh makhluk-makhluk berbalut kain putih kusam yang mengejar mereka. 

“Halooo!!” teriak Arka sekuat tenaga. “Ada orang?” 

Tak ada jawaban. 

Ia kembali berteriak. “Nara! Di mana kamu?” 

Suara itu hanya memantul di antara kabut, lalu menghilang begitu saja tanpa balasan. 

“Sial …” 

Arka mengepalkan tangannya. Sebenarnya aku di mana? 

Ia kembali memperhatikan sekelilingnya. Tubuhnya berputar perlahan, memastikan setiap arah. Namun kemanapun ia memandang, yang terlihat hanya kabut putih yang tak berujung. Tak ada makhluk hidup. Tak ada benda mati. Tak ada apapun. 

Tiba-tiba sebuah pikiran melintas di benaknya. 

Apa … aku sudah mati? 

Seketika tubuh Arka kehilangan tenaga. Ia jatuh terduduk dengan kepala tertunduk. Sesak memenuhi dadanya. Matanya mulai memanas, sementara sesuatu memaksa keluar dari sana. 

Di titik itu, Arka merasa begitu terpukul. Bukan karena ia tak akan bisa melihat Nara lagi. Bukan pula karena ia menyesali pilihan yang membawanya ke ambang kematian. Melainkan … karena ia tak mampu menepati janjinya. 

Ingatannya kembali pada ucapan yang pernah ia berikan kepada Nara. “Meski dunia beri aku seribu alasan untuk pergi, aku akan tetap tinggal di sisimu.” 

Ternyata … cuma segini yang bisa aku lakukan kamu, Nara, batinnya penuh rasa bersalah. 

Mendadak … woosh!! Angin kencang berembus. Embusannya tajam, seperti bilah pedang yang membelah udara dalam satu tebasan. Dalam hitungan detik, kabut putih yang menutupi pandangan tersibak ke segala arah. 

Pemandangan di hadapan Arka pun berubah. 

Sebuah jalan setapak membentang lurus di depannya, diapit pepohonan yang menjulang tinggi di kedua sisi. Kicauan burung terdengar bersahut-sahutan. Dedaunan bergesekan pelan diterpa angin. Tempat yang semula terasa kosong dan hampa kini berubah menjadi begitu damai. 

Arka hanya bisa terpaku. 

Sebenarnya … aku ada di mana? 

Tak memiliki pilihan lain, ia mulai melangkah menyusuri jalan setapak itu. 

Semakin jauh ia berjalan, semakin kuat perasaan aneh yang memenuhi dadanya. Tempat ini terasa berbeda. Udara yang sejuk. Kicauan burung. Embusan angin. Suara dedaunan. Semuanya menghadirkan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. 

Beberapa menit kemudian, telinganya menangkap suara lain. Cip … cip … byur … Suara gemericik air. Namun bukan suara aliran sungai. Melainkan suara sesuatu yang terus jatuh ke permukaan air secara berulang-ulang. 

Arka mempercepat langkahnya. 

Di ujung jalan setapak itu, ia tiba di tepi sebuah danau yang sangat luas. Airnya begitu jernih hingga tak perlu menunduk untuk melihat dasarnya. Permukaan danau yang tenang tampak sebening kaca, memperlihatkan bebatuan dan tumbuhan air yang terhampar jauh di dasar. 

Barulah Arka menyadari asal suara gemericik yang sejak tadi didengarnya. Suara itu berasal dari ikan-ikan yang terus melompat keluar dari permukaan air sebelum kembali menyelam ke dalam danau. 

Namun, bukan gerakan mereka yang paling menarik perhatian Arka. Melainkan warna tubuh mereka. 

Semua ikan di danau itu hanya memiliki dua warna. Emas … dan perak. Anehnya, kedua warna itu bukan warna biasa. Tubuh mereka tampak tembus pandang, seolah terbuat dari cahaya yang membentuk sisik-sisik berkilau. 

“Apa-apaan ikan ini …!” gumam Arka lirih. “Kenapa warnanya kayak gini?” 

Selama hidupnya, Arka telah melihat banyak hal yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Namun, ikan-ikan seperti ini … belum pernah sekalipun ia lihat. 

“Assalamualaikum, anak muda.” 

Suara itu membuat Arka tersentak. Ia refleks menoleh. 

“Wa-waalaikumsalam,” balasnya sedikit gugup. 

Beberapa langkah di sampingnya, seorang pria duduk tenang di tepi danau sambil memegang sebuah pancing. 

“Tolong duduk di sini,” ujar pria itu tanpa menoleh. 

Arka menurut. Ia duduk tak jauh dari pria tersebut sambil diam-diam mengamatinya. 

Pria itu mengenakan jubah serba putih dengan sorban putih melilit kepalanya. Sekilas usianya tampak sekitar pertengahan empat puluhan. Rambut pendek dan janggut tipisnya masih hitam pekat tanpa sehelai uban. Kulit wajahnya pun nyaris tanpa kerutan, membuat sulit menebak usia sebenarnya. 

“Ayo kita bicara sambil memancing,” ucap pria itu dengan nada tenang. “Kalau kamu berhasil menangkap seekor ikan di danau ini, keberuntungan akan datang kepadamu, anak muda.” 

Pria itu lalu menyerahkan sebuah pancing kepada Arka. 

Arka menerimanya sambil memperhatikan bentuknya. Pancing itu sangat sederhana. Hanya sebatang kayu panjang dengan seutas senar yang diikat langsung di ujungnya. Di ujung senar itu hanya terdapat sebuah kail kecil. Tak lebih. 

“Aku kita enggak perlu umpan, Pak?” tanya Arka heran. 

Ia sudah cukup terkejut melihat pancing kayu model lama seperti itu. Terakhir kali melihat pancing serupa adalah ketika masih kecil. Namun, sesederhana apapun pancingnya … bukankah memancing tetap membutuhkan umpan? 

“Kamu ndak perlu umpan, anak muda,” jawab pria itu santai. 

Arka masih ragu. 

Meski begitu, ia tetap melemparkan kailnya ke tengah danau. Belum sempat ia bertanya lagi … senar milik pria itu mendadak menegang. 

Pria itu menarik pancingnya perlahan. Seekor ikan raksasa muncul dari permukaan air. Tubuhnya berwarna emas bening yang berkilau diterpa cahaya. 

“Wuahhh …” 

Lihat selengkapnya