ANTARCHAYA

mahes.varaa
Chapter #20

RAMALAN YANG SEDANG BERJALAN PART 1

Tak lama setelah mendengar ramalan itu, Subrata kehilangan istrinya karena sakit keras. Kepergian perempuan yang telah menemaninya selama puluhan tahun itu datang begitu tiba-tiba hingga meninggalkan luka yang sangat dalam. 

Kesedihan itu membuat Subrata perlahan menarik diri dari urusan dunia. Ia memilih menghabiskan hari-harinya dalam ibadah dan menyendiri, berusaha menerima kehilangan yang tak pernah benar-benar siap dihadapinya. 

Seluruh urusan keluarga dan usaha kemudian diserahkan kepada anak-anaknya. 

Warung milik almarhum istrinya yang selalu ramai pembeli diwariskan kepada putri bungsunya—ibu Widayu. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Selama sang istri terbaring sakit, putri bungsu-nyalah yang paling setia merawat dan mendampinginya hingga akhir hayat. Sementara itu, sawah-sawah milik Subrata dibagi untuk dikelola oleh anak-anak laki-lakinya. 

Meski memilih hidup menyendiri, Subrata tidak sepenuhnya memutus hubungan dengan keluarganya. 

Sebulan sekali, ia keluar dari tempat ibadahnya untuk mengunjungi anak-anak dan cucunya. Jika ada persoalan, ia akan membantu mencarikan jalan keluar. Namun jika semuanya baik-baik saja, ia akan turun ke sawah, ikut memanen padi bersama para pekerja seperti hari-hari sebelum ia kehilangan istrinya. 

Hari-hari berlalu. Tahun demi tahun berganti. 

Sampai akhirnya satu persatu cucu Subrata memasuki usia pernikahan. Saat itulah ia mengakhiri masa penyendiriannya dan mulai kembali mengawasi kehidupan keluarganya. Dan di saat itulah … ramalan sang biksu kembali terlintas di benaknya. 

Subrata menoleh ke arah Arka. 

“Kakekmu dan kamu …” ujarnya pelan. “Kalian punya anugerah yang unik. Kalian bisa melihat warna jiwa manusia. Benar, kan?” 

Arka mengangguk. 

“Benar, Kek. Aku dan Kakek memang bisa melihat warna jiwa manusia lain. “Ia tersenyum tipis. “Termasuk warna jiwa Kakek.” 

Sejak awal pertemuan mereka, Arka sudah melihatnya. Warna jiwa Subrata sama seperti milik sang kakek—putih bersih dan memancarkan cahaya yang menenangkan. 

Itulah sebabnya Arka tak pernah sekalipun merasa curiga kepada pria tua itu. 

“Kalau kamu terus mengasah batinmu,” ujar Subrata lembut, “mungkin suatu hari Yang Maha Kuasa akan memberimu anugerah lain sama seperti kakekmu. Mungkin kamu juga mampu mengintip masa lalu atau masa depan seseorang.” 

Arka buru-buru menggeleng. 

Baginya, anugerah yang dimiliki sekarang saja sudah terasa begitu berat. Ia tak sanggup membayangkan harus memikul beban lain sebesar yang dimiliki sang kakek. 

“Anugerah itu …” ucapnya lirih. Suaranya sedikit bergetar. “Terlalu berat buat aku tanggung.” 

Senyum tipis kembali menghiasi wajah Subrata. Ada kehangatan di balik sorot matanya. Kehangatan yang seolah mengatakan bahwa ia memahami perasaan Arka tanpa perlu mendengar penjelasan lebih jauh. 

“Kamu benar,” katanya lembut. “Anugerah seperti itu memang sangat berat.” 

Ia terdiam sesaat. 

“Aku juga pernah merasakan hal yang sama.” 

Perlahan, Subrata mengangkat tongkat kayunya. Tok. Tok. Ujung tongkat itu kembali mengetuk tanah. Dalam sekejap, pemandangan di hadapan mereka berubah lagi. 

Widayu—ibu Nara yang sebelumnya berusia lima tahun—kini telah beranjak dewasa. Usianya mungkin baru menginjak dua puluhan. 

Parasnya begitu cantik. Kecantikan yang sederhana dan alami, kecenatikan kini terasa semakin langka ditemukan. Sekilas, wajah itu mengingatkan Arka pada Gina dan Nanda. Garis wajah mereka begitu mirip. 

Namun, ada satu hal yang tak berubah. 

Widayu masih menyukai kebiasaan masa kecilnya. Ia tetap gemar memungut buah-buahan jatuh di halaman, lalu duduk tenang di tepi kolam ikan mas milik sang kakek, Subrata, sambil memperhatikan ikan-ikan yang berenang di dalamnya. 

“Tahun ini …” ujar Subrata memecah keheningan, “adalah tahun ketika Widayu memperkenalkan calon suaminya, Saeful.” 

***

Purwadipa, pertengahan tahun 1991. 

Setelah lulus SMA, Widayu memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. 

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Saat itu, kondisi keuangan keluarganya sedang memburuk. Usaha sang ibu terus mengalami kemunduran hingga nyaris bangkrut. Kakak perempuannya yang kuliah di luar kota tak kunjung lulus. Bahkan, di tengah masa kuliahnya, kakaknya memutuskan untuk menikah sehingga kebutuhan biaya keluarga semakin bertambah. 

Selama ini, ibu Widayu telah mengorbankan hampir seluruh tabungannya demi anak sulungnya. Harapannya sederhana. Setelah lulus kuliah, putrinya bisa membantu mengangkat perekonomian keluarga. 

Namun harapan itu tak kunjung terwujud. 

Alih-alih segera menyelesaikan kuliahnya, sang kakak justru terus meminta biaya untuk berbagai keperluan hingga kelulusannya semakin tertunda. 

Melihat keadaan keluarganya yang semakin sulit, ditambah kedua adiknya yang masih kecil, Widayu akhirnya mengorbankan masa depannya sendiri. 

Sebenarnya, pamannya telah menawarkan bantuan biaya kuliah. Namun Widayu menolaknya. Ia memilih bekerja agar dapat meringankan beban kedua orang tuanya. Dan pilihan itulah yang akhirnya mempertemukannya dengan Saeful. 

Suatu hari, ibu Widayu datang menemui Subrata seperti biasanya. Ia membawakan makanan dan pakaian ganti untuk sang ayah. Selagi Subrata menikmati hidangan yang dibawanya, ia mulai menceritakan rencana pernikahan Widayu. 

“Ada dua pria yang sedang mendekati Widayu dengan tujuan serius,” ujarnya. 

Keduanya benar-benar bertolak belakang. Mulai dari usia, penampilan, latar belakang keluarga, pendidikan, hingga kondisi ekonomi. 

Pria pertama berusia sekitar dua belas tahun lebih tua daripada Widayu. 

Wajahnya tampan dengan garis keturunan Tionghoa yang kuat. Di usianya yang telah melewati kepala tiga, kehidupannya sudah mapan. Ia memiliki usaha yang besar, rumah yang megah, berasal dari keluarga terpandang, dan berpendidikan tinggi. 

Namun ada satu hal yang membuat Widayu ragu: keyakinan mereka berbeda. 

Meski pria itu berjanji akan berpindah keyakinan mengikuti Widayu, perempuan itu tetap tidak bisa menerimanya begitu saja. Terlebih lagi, perbedaan latar belakang keluarga mereka terasa terlalu jauh. Dari sikap keluarga pria itu, Widayu juga menangkap adanya penolakan, meski belum diungkapkan secara terang-terangan. Baginya, hal kecil seperti itu bisa berubah menjadi duri yang terus melukai kehidupan rumah tangga di kemudian hari. 

Sementara pria kedua adalah Saeful. 

Lihat selengkapnya