ANTARCHAYA

mahes.varaa
Chapter #21

RAMALAN YANG SEDANG BERJALAN PART 2

Masa depan yang diintip oleh Subrata. 

Nara lahir dengan membawa dua anugerah dari garis keturunan ibunya. Anugerah pertama adalah mata batin yang telah terbuka sejak lahir. 

Sejak membuka mata untuk pertama kalinya di dunia, Nara tak hanya melihat manusia. Ia juga melihat makhluk-makhluk gaib yang hidup berdampingan dengan mereka. Sebagian hanya datang untuk mengamati. Sebagian lagi seolah ingin meminta pertolongan. Namun, jauh lebih banyak yang mendekatinya dengan niat buruk. 

Di antara semua makhluk itu, selalu ada satu sosok yang tak pernah meninggalkannya. Sosok yang sama dengan bayangan yang pernah dilihat Subrata di belakang Saeful—iblis yang mengikat perjanjian dengan pria itu. 

Entah karena alasan apa, sejak Nara masih bayi, iblis itu telah menjadikannya sebagai pusat perhatian. Ia selalu berada di dekat Nara, mengawasi setiap langkahnya, lalu perlahan merusak cara berpikir gadis kecil itu, bahkan ketika Widayu berusaha menanamkan nilai-nilai kebaikan. 

“Nara kan kakaknya Gina,” ujar Widayu lembut. “Sebagai kakak, Nara harus menjaga adikmu.”

Namun setiap kali nasihat itu terdengar, selalu ada suara lain yang berbisik di telinga Nara. 

“Tugas anak hanyalah bermain. Yang seharusnya menjaga Gina adalah ibumu, bukan kamu.” 

Sedikit demi sedikit … bisikan itu mulai terdengar lebih masuk akal daripada suara manusia yang benar-benar ada di hadapannya. 

Di sisi lain, Nara menjadi anak yang paling disayangi Saeful. Namun, kasih sayang itu bukan lahir dari cinta seorang ayah semata. 

Sejak tugas memuja iblis diwariskan kepadanya, Saeful telah memilih putri sulungnya sebagai penerus perjanjian yang diwariskan keluarganya. iblis yang mengikat perjanjian dengannya juga menunjukkan ketertarikan yang begitu besar kepada Nara. Karena itulah, hampir tak ada keinginan Nara yang ditolak. Apapun yang dimintanya selalu dipenuhi. 

Perlahan, iblis itu mulai menanamkan cara pandang yang baru. 

“Manusia adalah makhluk yang tidak bisa dipercaya …” bisiknya. “Mereka suka berbohong. Mereka curang. Bahkan mereka lebih kejam dari aku. Lihatlah mereka. Demi kepentingan sendiri, mereka sanggup menyakiti bahkan membunuh sesamanya.” 

Iblis tersenyum tipis. 

“Sementara aku … aku tidak pernah menyakiti kaumku sendiri.”

Perlahan, tanpa disadari siapapun, Nara dibentuk menjadi sosok yang diinginkan makhluk itu. Seseorang yang kehilangan belas kasih. kehilangan empat. Dan perlahan kehilangan sisi kemanusiaannya.

Rencana itu … berhasil. 

Semakin dewasa, Nara lebih mempercayai bisikan makhluk-makhluk di sekitarnya daripada ucapan manusia. Ia berhenti mencoba memahami pikiran dan perasaan orang lain. 

Bagi Nara, siapapun yang menghalangi keinginannya hanyalah pengganggu yang harus disingkirkan. 

Lihat selengkapnya