ANTARCHAYA

mahes.varaa
Chapter #22

PELUANG, WAKTU, DAN HARAPAN PART 1

Air mata Arka jatuh tanpa ia sadari. Ia tak pernah menyangka bahwa ada masa lain di mana Nara tumbuh menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Sosok yang dingin, kelam, dan seolah kehilangan hati. Bukan Nara yang selama ini ia kenal. 

Sebuah pertanyaan muncul di benaknya. 

Apa Nara yang kukenal juga akan berubah seperti itu jika benar-benar ditelan kegelapan? Apa masa depan benar-benar enggak bisa diubah? 

Arka tak tahu jawabannya. Ia hanya bisa berharap bahwa semua yang dilihatnya hanyalah kemungkinan, bukan kenyataan yang kelak harus terjadi. 

Namun, semakin jauh ia menyaksikan potongan masa depan itu, semakin ia memahami bahwa peringatan sang kakek tentang menyelamatkan Nara bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele. Jika Nara benar-benar jatuh ke dalam kegelapan, kemungkinan terburuknya adalah mereka akan saling berhadapan sebagai musuh. Atau … salah satu dari mereka kehilangan nyawa di tangan yang lain. 

Namun, gambaran masa depan itu belum berakhir. 

Perlahan, bayangan itu kembali bergerak. 

Pengorbanan Widayu ternyata tidak sia-sia. Meski gagal menyelamatkan putrinya, kematiannya menjadi peristiwa pertama yang mengguncang hati Nara. 

Sebelumnya, tak pernah ada orang yang meregang nyawa tepat di tangannya sendiri. Semua korban kehilangan hidup ketika berada jauh darinya. Namun kali ini berbeda. Widayu mengembuskan napas terakhir di hadapan putrinya. 

Dan pada saat itulah … hati Nara untuk pertama kalinya bergetar. 

Widayu mungkin bukan ibu yang sempruna. Namun, ada satu hal yang selalu membuat Nara menghormatinya—kepercayaan. 

Meski banyak orang datang membawa cerita buruk tentang Nara, Widayu tak pernah begitu saja mempercayainya. Ia selalu memilih mempercayai putrinya sendiri, juga apa yang dilihat dan dirasakannya, daripada penilaian orang lain.

Kepergian Widayu membangkitkan sesuatu yang telah lama hilang dari dalam diri Nara—rasa kemanusiaan. 

Kematian kedua adiknya dan sang ibu, membuatnya menyadari bahwa kebersamaan jauh lebih berharga daripada kesendirian. Untuk pertama kalinya, ia mulai menolak bisikan iblis yang selama ini menguasai hidupnya. Ia mencoba melawan. 

Namun … semuanya telah terlambat. 

Ia telah kehilangan hampir semua orang yang dicintainya. Hatinya terasa hampa, dan bersama kehampaan itu, lenyap pula keinginannya untuk terus hidup. 

Beberapa kali Nara mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Namun setiap kali itu pula, iblis beserta para pengikutnya selalu menggagalkan usahanya. Seolah-olah mereka sedang mengatakan bahwa sekali seseorang mengikat perjanjian dengan iblis, tak akan pernah ada jalan untuk kembali. 

Berkat begitu banyak korban yang tanpa sadar telah dipersembahkan Nara, iblis itu kini telah menjelma dalam wujud manusia. Nara menjadi sumber tumbal sekaligus pengikut baginya. Karena itulah, makhluk itu tak akan membiarkan Nara mati sebelum semua yang diinginkannya tercapai. 

Di tengah keputusasaan itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, Nara berpaling dari makhluk yang selama ini terus membisikkan kegelapan di telinganya. 

Ia menengadah. “Ya Allah …” lirihnya. 

Suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Setiap kata yang keluar membawa beban yang tak terlukiskan—rasa bersalah, penyesalan, kehilangan, keputusasaan, dan kelelahan yang telah dipikulnya selama bertahun-tahun. 

Untuk pertama kalinya, Nara mencoba menelusuri kembali awal dari semua kemalangan yang menimpanya. Pikirannya berhenti pada satu hal: anugerah yang dibawanya sejak lahir. 

Air mata kembali mengalir tanpa henti ketika ia mengangkat wajahnya. 

“Anugerah ini …” suaranya bergetar. “Harusnya membawa kebaikan untuk semua orang. Tapi kenapa yang terjadi justru sebaliknya?” 

Lihat selengkapnya