Ketukan dari tongkat milik Subrata kembali terdengar. Tok … Tok! Seketika, pemandangan masa lalu di hadapan Arka membeku.
“Cukup sampai di sini yang perlu aku perlihatkan,” ujar Subrata pelan. “Harusnya sampai di titik ini, kamu sudah menemukan jawaban untuk banyak pertanyaanmu, Nak.”
Arka mengangguk lirih.
Hampir semua pertanyaan yang memenuhi benaknya sejak bertemu Nara akhirnya terjawab. Bahkan asal-usul bayangan hitam yang selama ini terus berusaha menelan jiwa perempuan itu kini telah dipahaminya. Namun, justru setelah mengetahui semuanya, ia tak sanggung mengucapkan sepatah kata pun.
Dadanya terasa sesak. Air mata terus mengalir tanpa mampu dibendung.
Pemandangan masa lalu dan kemungkinan masa depan yang diperlihatkan Subrata membuat Arka melihat sisi lain Nara—sisi yang selama ini tak pernah ia kenal.
Kini ia mulai memahami setiap ucapan bayangan hitam yang selalu berdiri di belakang perempuan itu. Kata-katanya selalu terdengar logis. Namun, dibalik logika itu, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Tak ada simpati. Tak ada empati. Hanya cara berpikir dingin dan memandang manusia sebagai alat atau penghalang.
Semua itu lahir dari luka yang terus menumpuk di dalam hati Nara. Pengkhianatan demi pengkhianatan yang diterimanya membuat kepercayaannya kepada manusia perlahan runtuh. Mungkin sejak jiwanya terbelah, Nara tak pernah lagi benar-benar menggantungkan harapan kepada siapapun selain Allah … dan dirinya sendiri.
Tiba-tiba wajah Nara muncul di dalam benaknya. Senyumnya. Senyum yang selalu tampak tenang. Entah kenapa, bayangan itu justru membuat dada Arka semakin sesak.
“Setelah semua itu …” gumamnya lirih. “Nara masih bisa tersenyum.”
Kenangannya bersama Nara berputar satu demi satu. Ia teringat saat dirinya ketakutan menghadapi makhluk-makhluk berbalut kain putih kusam di sekitar rumah perempuan itu. Di tengah rasa takutnya, Nara justru menenangkan suasana dengan candaan yang terdengar konyol.
“Nara bahkan masih bisa bercanda denganku …”
Tok … Tok!
Tongkat Subrata kembali mengetuk tanah. Dalam sekejap, seluruh pemandangan menghilang.
Arka kembali duduk di tepi danau yang tenang. Angin berembus pelan, tetapi air matanya masih terus mengalir. Semua yang baru saja dilihatnya terasa begitu nyata, seolah ia benar-benar ikut menjalani setiap luka, kehilangan, dan keputusasaan yang pernah dirasakan Nara.
Sebuah tepukan hangat mendarat di bahu kanannya.
Arka menoleh. Subrata menatapnya dengan senyum tipis yang dipenuhi belas kasih.
“Maaf sudah membuatmu ikut bersedih, anak muda,” ucapnya pelan. “Tapi semua ini memang harus kamu ketahui.”
Arka menggeleng sambil mengusap air matanya.
“E-enggak apa-apa, Kek,” jawabnya dengan suara bergetar. “Aku … cuma enggak pernah menyangka … hidup Nara seberat itu.”
“Ya,” sahut Subrata pelan.
Ia mengembuskan napas panjang sebelum kembali menatap permukaan danau.
“Di masa manapun, hidup Nara memang ndak akan pernah mudah. Anugerah itu akan selalu menjadi ujian baginya, sementara darah ayahnya akan terus menjadi celah yang ingin dimanfaatkan iblis.” Ia terdiam sesaat. “Itulah takdir yang harus dihadapinya.”
Arka terdiam cukup lama. Ia berusaha menghentikan tangisnya. Berkali-kali telapak tangannya mengusap wajah yang basah, tetapi air mata itu seolah tak mau berhenti mengalir.
Di saat yang sama, benaknya mulai menyusun kembali semua informasi yang baru diterimanya. Satu demi satu peristiwa ditarik menjadi benang merah, mencari asal mula keanehan yang selama ini menyelimuti hidup Nara.
Keputusan Subrata memindahkan anugerah Nara bukanlah tindakan yang dilakukan karena keyakinan bahwa masa depan pasti akan berubah. Semua itu lahir dari sebuah harapan yang bahkan ia sendiri tak tahu apakah akan terwujud. Ia hanya ingin memberi cicitnya sedikit waktu, sedikit kesempatan, agar Nara dapat mengenal kehidupan, belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah, sebelum menjadi sasaran utama iblis.
Namun, Subrata tak pernah menduga bahwa tindakan kecil itu akan memicu begitu banyak perubahan.
Dimulai ketika ikan mas—wadah sementara anugerah Nara—tanpa sengaja dimakan Widayu. Anugerah itu pun berpindah kepada Gina yang masih berada di dalam kandungan. Seolah memberi pertanda bahwa anugerah itu tak pernah benar-benar bisa menjauh dari pemiliknya. Ia hanya menunggu waktunya untuk kembali.
Bersamaan dengan berpindahnya anugerah itu, seluruh perhatian yang seharusnya tertuju kepada Nara ikut beralih kepada Gina.
Nara tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya. Ia juga tak lagi menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya. Bahkan ketika diperlakukan tidak adil oleh teman-temannya, ia hanya mampu diam dan menerimanya.
Namun, justru karena hidup dalam bayang-bayang sang adik, Nara luput dari perhatian iblis yang dipuja Saeful.
Semakin terang cahaya Gina, semakin tersembunyi Nara di dalam kegelapan—tempat yang bagi kebanyakan orang tampak mengerikan. Padahal, tanpa disadari, tempat itulah yang justru menjadi perlindungan paling aman baginya.
Di sisi lain, meskipun Gina menerima anugerah milik Nara, ia tidak mewarisi keberanian sang kakak. Setiap kali melihat makhluk gaib, Gina selalu diliputi ketakutan. Ia memilih menjauh dan menghindar.
Karena itulah, Saeful tak pernah benar-benar bisa menjadikannya sebagai penerus perjanjian. Ia hanya bisa menunggu, terus mendekati Gina, memenuhi keinginannya, dan perlahan meracuni cara berpikirnya. Sementara itu, hubungan Nara dengan sang ayah justru semakin memburuk.
Suatu hari, ketika tak sengaja melihat Saeful pergi secara mencurigakan, Nara memutuskan membuntutinya. Keputusan itulah yang akhirnya membuka rahasia besar mengenai persekutuan ayahnya dengan iblis. Tak lama kemudian, Widayu pun mengetahui kebenaran yang sama.
Penemuan itu terjadi jauh lebih cepat dibandingkan masa depan yang pernah diintip Subrata. Peluang baru pun tercipta. Widayu memiliki lebih banyak waktu untuk menyelamatkan ketiga anaknya.
Namun, bersamaan dengan itu, ketakutan lain mulai menghantuinya. Ia sadar salah satu anaknya mungkin telah dipersiapkan sebagai penerus perjanjian iblis oleh Saeful. Dan semua tanda mengarah kepada Gina—anak yang paling dekat dengan ayahnya.
Karena itulah, Widayu terus berusaha memenuhi keinginan Gina. Tujuannya hanya satu: memastikan putri keduanya tidak kembali berpihak kepada Saeful.
Kini … Arka memahami semuanya.
Satu tindakan kecil yang dilakukan Subrata di masa lalu ternyata melahirkan begitu banyak perubahan. Nara yang seharusnya tumbuh menjadi penerus iblis berubah menjadi orang yang paling membenci ayahnya. Kesempatan dan waktu yang diberikan Subrata membuat cicitnya mampu bertahan hingga hari ini. Dan yang terpenting … keputusan kecil itu telah menyelamatkan begitu banyak nyawa, yang dalam masa depan lain, seharusnya menjadi korban Nara.
Namun, meski begitu … ada satu hal yang tetap tidak berubah. Sisi gelap Nara tetap lahir, hanya sumbernya yang berbeda.
Dalam masa depan yang diintip Subrata, sisi gelap itu tumbuh karena hasutan iblis yang sejak kecil terus meracuni hati dan pikirannya, hingga perlahan menelan hampir seluruh jiwanya. Cahaya kecil dalam dirinya baru muncul ketika Widayu kehilangan nyawa di depan matanya.
Sementara dalam kenyataan yang sedang dijalani sekarang, sisi gelap itu lahir dari luka yang ditinggalkan manusia. Pengkhianatan, penolakan, dan ketidakadilan yang terus-menerus diterimanya membentuk kegelapan yang berbeda.
Namun, ada satu hal yang berubah. Satu hal yang mungkin tak pernah diduga Subrata: kepercayaan Nara.