ANTARCHAYA

mahes.varaa
Chapter #25

KE MANA MEREKA PERGI?

Dua hari kemudian. 

18 Mei 2025. 

“Arka …” 

Suara lembut itu terdengar sama memanggil namanya. 

Perlahan, Arka membuka kedua matanya. Sesaat, ia mengira dirinya masih berada di dunia lain, tempat ia bertemu dengan Subrata. Namun aroma desinfektan yang samar, suara panggilan ibunya, cahaya lampu putih di langit-langit membuatnya kembali memejamkan mata. 

Beberapa detik kemudian, kesadarannya pulih. 

Ia bukan lagi berada di dunia lain, melainkan telah kembali ke dunia nyata. Kini, ia terbaring di atas ranjang rumah sakit. 

“Arka, Nak… kamu dengar Umi?” panggil ibunya lagi. 

Wajah perempuan itu dipenuhi kecemasan dan ketakutan. Dari raut wajahnya saja, Arka bisa menebak bahwa dirinya pasti sempat berada dalam kondisi yang cukup buruk. 

“A-aku dengar, Umi,” jawabnya lirih. 

Tak lama kemudian, dokter bersama perawat memasuki ruang rawat setelah menerima panggilan dari kedua orang tuanya. Dokter segera memeriksa kondisi Arka—mulai dari memeriksa luka di kepalanya, mendengarkan detak jantungnya, memeriksa respons matanya, menanyakan beberapa keluhan yang dirasakan, hingga mencocokkan semuanya dengan hasil pemeriksaan darah yang dilakukan pagi itu. 

Setelah pemeriksaan selesai, dokter menjelaskan bahwa Arka masih harus menjalani perawatan selama dua atau tiga hari lagi. Jika kondisinya terus membaik, ia sudah diperbolehkan pulang. Sebagai langkah memastikan semuanya benar-benar aman, keesokan harinya Arka dijadwalkan menjalani beberapa pemeriksaan ulang. 

“Nara …” ujar Arka cepat begitu dokter dan perawat meninggalkan ruang rawat. “Gimana keadaannya?” 

Ayah dan ibunya saling berpandangan sejenak. Ada keraguan yang jelas terlihat di wajah mereka. Arka lalu mengalihkan pandangannya kepada Prasetya yang sejak tadi berdiri diam di dekat pintu. 

“Pak Pras,” panggilnya. Suaranya kini terdengar lebih berat. “Gimana keadaan Nara?” 

“Mbak Nara baik-baik saja, Ra Arka,” jawab Prasetya pelan. “Hari ini … sudah diperbolehkan pulang.” 

“Lukanya …” tanya Arka cepat. Nada suaranya dipenuhi kecemasan. “Apa dia terluka parah?” 

Prasetya menggeleng. “Ndak, Ra. Memang ada beberapa luka di tubuhnya. Tapi setelah diperiksa dokter, semuanya hanya luka luar.” 

Helaan napas lega lolos dari bibir Arka. Dalam hati, ia mengucap syukur kepada Allah karena telah menjaga Nara. 

“Alhamdulillah …” 

Ia memejamkan mata sejenak sebelum kembali menatap Prasetya. 

“Sebelum dia pulang … bisa bawa dia ke sini?” pintanya. “Aku harus melihatnya. Ada satu hal yang harus kupastikan, Pak Pras. Bapak tahu maksudku, kan?” 

Prasetya mengangguk pelan. “Ya, Ra. Saya paham.” 

Tanpa menunda lagi, pria itu segera meninggalkan ruang rawat menuju kamar Nara untuk menyampaikan permintaan Arka. 

“Perempuan itu …” ujar ibu Arka tiba-tiba. 

Nada suaranya datar, tetapi setiap katanya menyimpan kemarahan yang selama ini ditahan. 

“Apa kamu benar-benar ndak bisa memilih perempuan lain, Arka? Masih banyak perempuan yang lebih baik daripada dia. Kenapa justru dia yang kamu pilih?” 

“Umi …” sela ayah Arka pelan. 

Sorot matanya meminta sang istri menghentikan pembicaraan itu untuk sementara. 

“Ndak bisa, Abi,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari Arka. “Umi udah ndak sanggup menahannya lagi. Anak kita satu-satunya hampir kehilangan nyawa karena dia, Abi.” 

“Nara, Umi,” sela Arka tegas. 

Meski tubuhnya masih lemah, suaranya terdengar mantap. 

“Dia punya nama. Namanya Nara.” Tatapannya lurus ke arah sang ibu. “Tolong panggil dia dengan namanya.” 

“Lihat, Abi!” seru Ibu. Kali ini kemarahan, kekesalan, dan kecemasan yang selama ini ditahannya tak lagi disembunyikan. “Arka, anak kita, bahkan belum menikah dengan perempuan itu. Tapi sekarang dia sudah berani melawan kita, Abi.” 

“Umi, tolong …” Ayah berusaha menenangkan istrinya. “Arka masih belum pulih. Jangan bahas masalah ini sekarang.” 

“Abi … Umi …” ujar Arka. Suaranya datar, tetapi cukup untuk memutus pertengkaran kedua orang tuanya. 

Secara bergantian, ia menatap ayah dan ibunya. Tatapan itu bukan pemberontakan ataupun perlawanan. Ia hanya ingin mengingatkan bahwa sekali lagi, kedua orang tuanya sedang berusaha menentukan jalan hidupnya. 

“Umi ingat, kan?” ujarnya tenang. “Perjanjian kita belum berakhir. Aku masih punya waktu untuk memilih calon istriku.” 

Ia berhenti sejenak. 

“Dan pilihanku enggak akan berubah. Aku akan menikah dengan Nara, apapun yang terjadi.”

“Kenapa kamu ndak paham, Arka?” teriak ibunya. 

Untuk pertama kalinya, perempuan berusia lima puluh enam tahun itu meluapkan seluruh amarah yang selama ini dipendam kepada putra semata wayangnya. 

“Kamu belum menikah saja sudah hampir kehilangan nyawamu. Kalau kamu benar-benar menikah dengannya, kamu bisa kehilangan nyawamu, Arka!” 

“Aku paham konsekuensinya, Umi,” jawab Arka tenang. 

Sebelum kecelakaan itu terjadi, keputusannya sudah bulat. Setelah bertemu Subrata dan mengetahui seluruh kebenaran, keyakinan justru semakin teguh. 

“Aku tahu … aku bisa kehilangan nyawaku saat berusaha melindunginya,” lanjut pelan. “Tapi, Umi … harus ada seseorang yang meyakinkan Nara bahwa di dunia ini masih ada manusia yang bisa dipercaya.” 

“Orang itu ndak harus kamu!” bantah ibunya. “Masih banyak orang lain yang bisa melakukannya. Kenapa harus kamu?? Umi cuma punya satu anak … kamu!” 

Arka menggeleng pelan. 

“Maaf, Umi,” katanya lembut, tetapi tanpa sedikitpun keraguan. “Orang itu memang harus aku.” 

“Kenapa harus kamu?” teriak sang ibu. Amarahnya telah mencapai puncaknya. 

“Karena selain Kakek …” jawab Arka, “ … hanya aku yang bisa melihat harapan di hatinya, Umi.” 

Senyum tipis terukir di bibirnya. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum seseorang yang telah menerima segala resiko dari pilihannya. 

“Umi dan Abi mungkin hanya melihat makhluk-makhluk mengerikan yang terus mengejar Nara,” lanjutnya. “Tapi kalian enggak pernah bisa melihat satu hal yang kulihat … warna jiwanya jauh lebih bersih daripada milik kita.” 

Ibu Arka terdiam. Bibirnya bergetar, tapi tak satupun kata mampu keluar. 

“Warna jiwa itu adalah alasan kenapa aku harus tetap berada di sisinya, Umi,” sambung Arka. “Sejak lahir sampai sekarang, dia hampir selalu berjuang sendirian. Dan satu-satunya alasan dia masih mampu bertahan sampai hari ini cuma satu … karena dia percaya kepada Allah melebihi kepercayaan kita.” 

Tanpa disadari, air mata mengalir di pipinya. 

Kenangan saat bersama Subrata kembali berputar di benaknya. Satu demi satu penderitaan yang dialami Nara kembali terasa seolah ia mengalaminya sendiri. 

“Bukankah sejak kecil Umi dan Abi selalu bilang aku harus jadi seperti Kakek?” tanyanya pelan. “Kalian juga yang selalu mengajarkan kalo mata ini enggak boleh disia-siakan. Bahwa Allah memberikannya supaya aku bisa berbuat kebaikan.” 

Ia tersenyum, kali ini dengan kebanggaan yang tulus. 

“Sekarang … aku sedang menggunakan mata ini seperti yang Kakek lakukan.” 

Tatapannya beralih kepada kedua orang tuanya. 

“Dan orang pertama yang harus aku lindungi … adalah Nara.” 

Lihat selengkapnya