Seminggu kemudian, hubungan Nara dan Arka kembali seperti semula.
Selama tujuh hari itu, tak ada lagi hal buruk yang terjadi. Kehidupan mereka perlahan kembali ke rutinitas, seolah kecelakaan yang nyaris merenggut nyawa keduanya hanyalah mimpi buruk yang telah berlalu.
Nara pun tak lagi canggung bertemu dengan orang lain. Ia sudah kembali bekerja dan berinteraksi seperti biasanya.
Rumah tempatnya tinggal juga masih tampak aman. Makhluk-makhluk yang berbalut kain putih kusam tak pernah lagi terlihat di sekelilingnya. Nanda—satu-satunya penghuni rumah yang mampu melihat mereka—bahkan memastikan sendiri bahwa halaman rumah itu kini benar-benar kosong.
Setelah beberapa hari disibukkan dengan pekerjaan masing-masing—kembali bekerja setelah mengambil cuti karena kecelakaan—Arka dan Nara akhirnya kembali menghabiskan waktu bersama.
Dan seperti biasa, Nara kembali menjadi dirinya sendiri. Ia tampak tenang, sesekali tersenyum, bahkan melontarkan candaan ringan, seolah kecelakaan mengerikan itu tak pernah terjadi. Ia juga tak lagi menjaga jarak dari Arka.
Arka diam-diam percaya bahwa tekad dan janji yang pernah diucapkannya di rumah sakit akhirnya berhasil menyentuh hati perempuan itu.
“Anterin aku beli baju, ya,” pinta Nara tiba-tiba.
“Buat apa?” tanya Arka.
Pagi tadi, ia sudah lebih dulu mengantar Nara ke Crustvale, sekaligus membeli beberapa roti untuk tim desain. Sesuai janji, sore harinya ia kembali datang untuk menjemput perempuan itu pulang.
“Akhir minggu ini ada undangan nikahan,” jawab Nara tenang. “Teman kuliah.”
“Oke. Jadi aku cuma nganter kamu beli baju .. atau sekalian ikut beli baju juga?” goda Arka sambil tersenyum.
“Kamu ikut beli baju buat apa?” tanya Nara heran.
“Ya buat nemenin kamu, lah.”
Arka langsung menginjak pedal gas, mengarahkan mobil menuju salah satu pusat perbelanjaan di Nurantara. Di sana ada butik langganannya—tempat ia biasa membeli pakaian. Sudah lama ia ingin mengajak Nara ke sana. Menurutnya, beberapa model pakaian di butik itu akan sangat cocok dikenakan perempuan yang duduk di sampingnya.
“Tapi kamu ikut buat apa?” tanya Nara lagi. “Bukannya kamu harus pulang ke rumahmu?”
Arka melirik sekilas, lalu mengangkat tangan kirinya untuk menyentil pelan kening Nara yang kembali berkerut.
“Kamu ini nganggep aku apa, sih?” balasnya. “Aku ikut nemenin kamu ke nikahan temanmu, sekalian kenalan sama teman-temanmu. Lagian …”
Senyum jahil perlahan muncul di bibirnya.
“... enggak lama lagi kamu juga nikah.”
Nara tetap memasang wajah datar. “Sama siapa?” tanyanya tenang.
Tatapan Nara tak berubah sedikitpun. Justru sorot matanya menjadi semakin dalam.
“Kamu yakin benar-benar mau nikah sama aku?” tanyanya datar.
Arka mengangguk tanpa ragu.
“Kan sudah pernah kubilang,” jawabnya mantap. “Aku serius mau nikah sama kamu. Tinggal kamu bilang kapan. Besok? Ayo. Bulan depan? Ayo. Kapanpun kamu siap … aku juga siap.”
Nara mengembuskan napas pelan. Entah kenapa, ia masih sulit mempercayai setiap ucapan Arka. Kata-kata pria itu terdengar begitu tulus dan penuh keyakinan. Namun, di telinganya, semua itu terasa seperti candaan.
“Kenapa enteng sekali kamu bilang mau nikah sama aku?” tanyanya lagi. “Kamu enggak takut bakal nyesel nantinya?”
Arka kembali melirik perempuan yang duduk di sampingnya.
Pertanyaan itu membuatnya sadar bahwa Nara belum benar-benar percaya padanya. Luka yang selama ini dipendam perempuan itu terlalu dalam untuk hilang hanya dengan beberapa janji. Ia memang membutuhkan waktu. Dan Arka tak keberatan menunggu selama apapun.
Perlahan, ia mengangkat tangan kirinya, lalu membelai lembut kepala Nara. Di momen itu, ia hanya ingin perempuan itu merasakan keyakinannya.
“Nara …” ujarnya pelan. “Kamu mungkin bisa membohongi semua orang. Kamu bisa bilang apa saja supaya mereka percaya. Tapi itu enggak akan berhasil ke aku.”
Nara tetap diam. Ia juga tidak menepis tangan Arka yang membelai kepalanya.
“Tahu kenapa?” Arka menarik kembali tangannya dan kembali fokus mengemudi. “Karena mata ini enggak bisa kamu bohongi, Nara.”
Senyum tipis terukir di bibirnya. Sekilas ia melirik ke arah Nara dan mendapati pipi perempuan itu mulai memerah.
“Aku mungkin enggak tahu apa yang sedang kamu pikirkan,” lanjutnya. “Tapi hati kamu … aku bisa melihatnya. Selama di sana masih ada harapan, sekecil apapun, aku enggak akan berhenti berusaha melindungi kamu.”
Nara memalingkan wajah ke arah jendela. Ia berusaha menyembunyikan ekspresinya. Namun pantulan kaca justru memperlihatkan wajahnya dengan jelas kepada Arka.
“Kamu ini …” gumamnya pelan, bibirnya sedikit mengerucut. “Orang paling keras kepala yang pernah kutemui. Entah dosa apa yang pernah kulakukan sampai harus ketemu sama orang kayak kamu.”
Arka justru tertawa kecil.
Di telinganya, kalimat itu sama sekali tidak terdengar seperti keluhan. Justru terdengar seperti tanda bahwa Nara mulai menerima kehadirannya.
“Makasih pujiannya,” balasnya santai. “Berarti lain kali aku harus lebih keras kepala lagi kalo ngadepin kamu.”
“Cih.”
Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka tiba di pusat perbelanjaan. Tanpa mampir ke tempat lain, Arka langsung mengajak Nara menuju butik favoritnya.
Seperti yang sudah diduganya, begitu melangkah masuk, mata Nara langsung berbinar melihat deretan pakaian yang dipajang di dalam butik.
“Bagus, kan?” tanya Arka.
Nara mengangguk pelan. Senyum tipis akhirnya muncul di bibirnya.
“Iya, bagus.” Tatapannya masih sibuk menyapu setiap rak pakaian. “Kamu ternyata cukup perhatian. Tahu aja kalau aku akan suka tempat kayak gini.”