ANTARDIPA (ANTARCHAYA PART 2)

mahes.varaa
Chapter #4

ANUGERAH ATAU KUTUKAN PART 1

Tepat sebelum magrib, Nara akhirnya tiba di rumah.

Setelah berpamitan dengan Arka, ia masuk dan mengucap salam kepada ibu serta adiknya—Nanda. Tak lama kemudian, ia bergegas mandi karena waktu magrib sudah hampir tiba. 

Selesai salat magrib dan mengaji, Nara duduk diam di atas sajadahnya. Pikirannya kembali pada percakapan dengan Arka setelah kejadian di butik sore tadi. 

Begitu iblis dan pasukannya menghilang, mereka segera menyelesaikan pembayaran belanjaan, lalu bergegas menuju mobil. Namun, begitu berada di dalam mobil, keduanya justru terdiam. 

Arka dan Nada duduk berdampingan dalam keheningan. Mesin mobil belum dinyalakan, sementara ketegangan di antara mereka terasa begitu menyesakkan. Seharusnya Arka sudah mengantarkan Nara pulang sejak tadi. Namun, ada banyak pertanyaan yang mengganjal di benak mereka, dan tak satupun tahu harus memulai dari mana. 

Nara tahu Arka sudah tidak sabar menunggu penjelasan darinya. Karena itu, ia sengaja membiarkan pria itu bertanya lebih dahulu. 

“Sejak kapan …” Arka membuka suara pelan. “Kamu bisa lihat makhluk gaib?” 

Tanpa berpanjang lebar, Nara menceritakan semuanya. Ia memulai dari saat dirinya nyaris kehilangan Arka dalam kecelakaan mobil hari itu, keputusasaan yang sempat menguasainya, hingga genggaman tangan pria itu yang hangat dan erat—genggaman yang membuatnya kembali memiliki harapan. 

“Hari kita kecelakaan, aku mulai melihat makhluk-makhluk itu,” jelas Nara. “Jumlahnya memang enggak sebanyak yang muncul hari ini. Tapi sejak hari itu, aku sudah bisa lihat mereka dengan jelas.” 

Arka sama sekali tidak tampak terkejut. Seolah-olah ia memang sudah menduga jawaban yang akan keluar dari mulut Nara. 

“Sekarang giliranku yang tanya.” Nara langsung menatapnya. “Apa yang kamu tahu tentang aku, anugerah ini, dan hubunganku dengan iblis itu?” 

Perlahan, Arka menoleh ke arahnya.

Matanya berkaca-kaca. Namun, bukan karena kebahagiaan. Tatapannya justru menyiratkan kesedihan, seolah-olah ada sesuatu yang begitu menyakitkan yang harus ia sampaikan. 

“Sebenarnya, apa yang terjadi denganku?” desak Nara. “Apa yang diinginkan makhluk itu dariku?” 

Arka menarik napas panjang sebelum menjawab. Ia tahu dirinya tak akan bisa menghindari pertanyaan itu selamanya. Nara berhak mengetahui apa yang sedang terjadi pada dirinya dan kenapa semua ini harus menimpanya. Cepat atau lambat, ia akan mengetahui kebenarannya—baik dari mulut Arka maupun dari orang lain. 

“Dengarkan aku baik-baik, Nara,” ujar Arka pelan. “Ceritanya panjang, dan mungkin ada bagian yang sulit kamu percaya. Tapi aku minta satu hal. Percaya sama aku. Apa yang aku ceritakan, bukan karangan.” 

Nara mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang, mempersiapkan diri untuk mendengar jawaban atas segala pertanyaan yang selama ini menghantuinya. 

Arka pun mulai bercerita. 

Ia menjelaskan pertemuannya dengan Subrata, kakek buyut Nara. Ia menceritakan masa lalu Widayu, ramalan tentang pilihan penting yang akan menentukan jalan hidupnya, serta upaya Subrata mengintip masa depan Widayu dan Nara dengan memanfaatkan dua anugerah yang dimilikinya sejak lahir. 

Namun, cerita itu tidak berhenti sampai di sana. 

Arka juga mengungkapkan masa depan yang pernah dilihat Subrata: Nara pada akhirnya akan ditelan kegelapan akibat dua anugerah istimewa yang dimilikinya. Untuk memberinya kesempatan menghindari nasib tersebut, Subrata mengambil sebuah keputusan kecil. Ia memindahkan anugerah itu untuk sementara waktu, tanpa pernah mengetahui apa yang akan terjadi akibat pilihannya. Anugerah Nara dipindahkan ke seekor ikan mas di kolam milik Subrata. Tanpa disengaja, ikan itu kemudian dimakan oleh Widayu yang saat itu sedang mengandung Gina, adik Nara. 

Sejak saat itulah, anugerah tersebut berpindah kepada Gina. Peristiwa itu juga yang membuat iblis keliru mengira Gina adalah calon penerus perjanjian Saeful, bukan Nara. 

Nara mematung. Tatapannya kosong, tertuju pada jendela depan mobil. Selama beberapa menit setelah Arka selesai bercerita, ia tak mengucapkan sepatah katapun. 

“Gina …” Suaranya bergetar. Ada nada bersalah yang samar di balik panggilan itu. “Jadi, Gina sakit dan meninggal karena anugerah milikku berpindah ke dalam dirinya?” 

Tiba-tiba, bayangan hitam di belakang Nara kembali membesar. 

Bayangan yang sempat menghilang bersamaan dengan kepergian iblis itu kini muncul lagi, merayap dan meluas di belakang tubuhnya. Sesaat kemudian, suara yang begitu dikenalnya kembali terdengar. 

Lihat selengkapnya