“Assalamualaikum.”
Langit telah sepenuhnya gelap. Tak ada bintang. Tak ada juga bulan. Hanya hamparan malam kelam yang menggantung tanpa satupun cahaya menghiasinya.
Malam itu, Arka sebenarnya tidak berencana pulang ke pondok pesantren tempat orang tua dan kakeknya tinggal. Hari masih Selasa, bukan waktu biasanya ia pulang. Namun, ada sesuatu yang mendesak, sesuatu yang membuatnya merasa harus segera menemui sang kakek.
“Waalaikumsalam.”
Sang kakek keluar dari kediamannya dan menyambut Arka, seolah sudah mengetahui bahwa cucunya akan pulang malam itu.
“Kita bicarakan setelah salat Isya,” ujar pria tua itu.
Arka hanya mengangguk patuh. Urusan Nara memang mendesak, tetapi bukan berarti kewajibannya kepada Yang Mahakuasa boleh ditunda.
Tanpa banyak bicara, Arka membersihkan diri di rumah sang kakek, lalu berganti pakaian dengan baju pinjaman. Setelah itu, ia mengikuti sang kakek menuju masjid utama di lingkungan pondok pesantren untuk melaksanakan salat berjamaah.
Seperti biasa, sang kakek bertindak sebagai imam. Lantunan ayat-ayat suci dan bacaan salat yang keluar dari lisannya terdengar begitu tenang, menghadirkan ketentraman di tengah kegelisahan yang sejak tadi mengusik hati Arka.
Seusai salat dan berdoa, Arka sang kakek berniat kembali ke kediaman. Namun, ayah dan ibunya yang terkejut melihat kedatangan putra mereka, menyusul keduanya setelah melihat Arka berada di masjid bersama sang kakek.
“Kenapa kamu pulang sebelum waktunya, Arka?” tanya ayahnya. Suaranya terdengar tenang, tetapi kecemasan terselip di balik setiap kata.
Ibu Arka tak kalah khawatir. Namun, ia memilih diam. Sejak pertengkaran terakhir mereka, perempuan itu memang tak banyak bicara dengan putra semata wayangnya.
“Aku …” Arka melirik sang kakek sekilas. “Ada yang mau aku bicarakan sama Kakek.”
“Apa terjadi sesuatu lagi sama kamu?” tanya ayahnya.
Pertanyaan itu muncul setelah sang ibu berbisik kepadanya. Dari situlah Arka menyadari bahwa sebenarnya ibunyalah yang ingin menanyakan hal tersebut, tetapi memilih menyampaikannya melalui sang ayah.
“Enggak, Abi,” jawab Arka mantap. “Lihat, aku baik-baik saja, kan?”
Sang kakek, yang sejak tadi hanya diam mengamati, akhirnya berdehem pelan. Isyarat sederhana itu cukup bagi Arka untuk memahami bahwa sudah waktunya mereka berbicara.
“Kalau begitu, kami pamit dulu, Abi,” ujar ayah Arka, menangkap maksud sang kakek.
“Assalamualaikum,” ucap ayah dan ibu Arka hampir bersamaan.
Setelah melihat kedua orang tuanya beranjak pergi, Arka segera mengikuti sang kakek menuju kediamannya.
Tanpa banyak bicara, sang kakek langsung berjalan ke teras belakang, tempat favoritnya untuk berbincang dengan Arka. Begitu duduk di salah satu sofa rotan, pria tua itu menatap cucunya dengan serius.
“Kamu sudah bertemu dengan makhluk itu?”
Arka terdiam sesaat. Ingatannya kembali pada kejadian sore tadi, ketika sosok iblis itu menampakkan diri. Ia masih bisa merasakan ketakutan yang sempat mencengkeram hatinya.
“Y-ya,” jawabnya sedikit terbata.
“Takut?”
Arka mengangguk pelan. “Ta-takut.”