Keesokan harinya.
Pagi tadi, Nara berangkat ke Crustvale bersama Nanda. Ia datang lebih awal dari biasanya dan tidak membawa sepeda motornya. Semua itu atas permintaan Arka.
Sejak pulih dari kecelakaan, Arka memang terbiasa mengantar dan menjemput Nara. Namun, karena kemarin sore ia harus kembali ke kediamannya di lingkungan pondok pesantren, perjalanan yang ditempuhnya kini menjadi lebih jauh. Ia juga harus berangkat lebih pagi agar tidak terlambat bekerja. Karena itulah, Arka meminta Nanda mengantar Nara pagi tadi. Dengan begitu, ia bisa menjemput perempuan itu sepulang kerja dan mengantarkannya kembali ke rumah.
Hari berlalu begitu cepat. Langit yang semula cerah perlahan berubah menjadi semburat kuning, merah, dan oranye, pertanda malam sebentar lagi tiba. Tanpa terasa, waktu pulang kerja pun datang. Sesuai janjinya, Arka tiba untuk menjemput Nara.
“Kenapa harus repot-repot begini?” tanya Nara begitu masuk ke mobil sedan hitam milik Arka.
Cara yang diatur Arka ini bukanlah sesuatu yang biasa ia lakukan. Arka seharusnya tahu bahwa Nara mampu mengendarai sepeda motornya sendiri untuk berangkat kerja. Namun, pria itu justru meminta Nanda mengantarnya pagi tadi hanya agar mereka bisa pulang bersama.
“Ada yang mau aku bicarakan,” jawab Arka lembut.
Ia melirik Nara, memastikan sabuk pengaman perempuan itu sudah terpasang. Setelah yakin, ia mulai menjalankan mobil menuju rumah Nara.
“Soal apa?” tanya Nara, tak sabar menunggu jawaban.
Arka terdiam sejenak. Ia berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya. Terakhir kali, Nara menolak ajakannya untuk tinggal di pondok pesantren karena mengira ancaman yang selama ini membayanginya telah menghilang. Namun, kejadian kemarin sore membuktikan bahwa ancaman itu belum berakhir. Iblis itu telah kembali menampakkan diri, dan Arak merasa sudah saatnya ia melakukan sesuatu untuk melindungi Nara.
“Kamu … mulai besok tinggal rumahku yang ada di lingkungan pondok pesantren, ya,” ajaknya. Suaranya tenang dan penuh kelembutan. “Kita enggak akan tinggal serumah. Aku punya rumah sendiri di sana, sementara aku tetap tinggal bersama orang tuaku.”
Nara terdiam sesaat. Ia menoleh dan menatap Arka lekat-lekat.
“Terus, gimana dengan pekerjaanku?”
“Kamu tetap bisa bekerja seperti biasa,” jawab Arka tenang. Sepertinya ia sudah memikirkan semuanya dengan matang. “Kita berangkat dan pulang bareng.”
“Kamu enggak capek?” tanya Nara lagi. “Rumah orang tuamu jauh dari tempat kerja kita.”
Arka segera menggeleng.
“Enggak akan.” Ia menjawab dengan mantap. “Apapun yang berhubungan sama kamu, aku enggak akan merasa capek.”
Senyum tipis muncul di bibir Nara. Kehangatan menyelinap di wajahnya, disertai rona merah samar di kedua pipinya. Namun, senyum itu tak bertahan lama.
“Makasih,” ucapnya lembut. “Tapi … aku harus menolak tawaranmu.”
Arka mengembuskan napas panjang. Ia segera menyalakan lampu sein, lalu menepikan mobilnya. Setelah mobil berhenti, ia menoleh ke arah Nara dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia sungguh tak memahami alasan perempuan itu menolak.
“Kenapa enggak mau?” Suaranya meninggi sedikit. Bukan karena marah, melainkan karena tak percaya. “Kamu lupa kejadian kemarin? Makhluk itu terang-terangan datang menemuimu!”
“Aku masih ingat dengan jelas.” Nara mengangguk kecil. Wajahnya tetap tenang, seolah ia telah menerima kenyataan yang sulit diterima itu. “Makhluk itu bisa menemukanku di mana saja. Makhluk seperti dia akan selalu ada. Di manapun aku berada, aku enggak akan pernah benar-benar bisa bersembunyi darinya.”
“Tapi, Nara …kalo kamu tinggal di pondok pesantren, seenggaknya kamu akan—”