Malam harinya.
Pada pukul 21.00 WIB, seharusnya Nara sudah bersiap naik ke ranjang dan memejamkan mata. Namun, alih-alih beristirahat, ia justru mengambil bantal dan selimut, lalu melangkah keluar kamar. Tujuannya adalah kamar sang ibu, Widayu.
“Mbak?” panggil Nanda yang sedang mengambil air minum di dapur. Mendengar pintu kamar Nara terbuka, ia menghampiri kakaknya dengan wajah penasaran. “Mau ke mana? Kok bantal sama selimutnya dibawa keluar?”
Nara tersenyum tipis. “Mau tidur sama Ibu.”
“Tumben?” sahut Nanda.
“Pengen aja.”
Setelah menjawab singkat, Nara kembali melangkah menuju kamar ibunya yang terletak tak jauh dari kamarnya. Keduanya berada di lorong yang sama, bersebelahan dengan kamar Gina.
Tok. Tok.
Nara mengetuk pintu sebelum membukanya sedikit.
“Ibu, ini aku.”
“Kenapa, Nara?”
Lampu kamar Widayu masih menyala, menandakan bahwa perempuan berusia lima puluh empat tahun itu belum tertidur. Ia memang sudah berbaring di ranjang, bersiap mengakhiri hari.
“Bu, aku tidur sama Ibu, ya?” pinta Nara. Senyum tipis menghiasi bibirnya, sementara sorot matanya berbinar penuh harap.
“Boleh.”
Widayu tersenyum sambil menepuk sisi ranjang yang masih kosong.
Nara segera masuk dan menghampiri tempat yang ditunjuk ibunya. Ia meletakkan bantal dan selimutnya, lalu naik ke ranjang dan merebahkan tubuh di samping Widayu.
Berbeda dengan kamar Nara yang didominasi warna hijau bernuansa sejuk, kamar Widayu memadukan warna putih gading dan coklat yang menciptakan kesan hangat. Suasana yang sederhana dan menenangkan, cocok dengan pemiliknya yang telah lebih dari setengah abad kehidupan.
Setelah merapikan bantal dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, Nara berbaring telentang. Matanya beberapa kali berkedip, menatap langit-langit kamar yang kini hanya diterangi lampu tidur di dekat ranjang. Lampu utama sudah dimatikan.
“Kenapa kamu ndak cerita?” Suara Widayu yang lembut memecah keheningan. “Tentang iblis yang mengejarmu. Yang sampai berani menampakkan diri di depanmu dan Arka.”
Sore tadi, setelah mengantar Nara pulang, Arka sempat mampir untuk berbincang dengan Widayu. Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan rencananya untuk membawa Nara tinggal di rumah orang tuanya yang berada di lingkungan pondok pesantren.
Awalnya, Widayu masih ragu.
Sebelumnya, keadaan memang begitu genting hingga keselamatan Nara terancam. Namun, menurut Nanda, makhluk-makhluk berbalut kain putih kusam yang sempat berkeliaran di sekitar rumah mereka kini tak lagi terlihat. Widayu sempat berpikir bahwa keadaan sudah aman sehingga Nara tak perlu tinggal rumah keluarga Arka.
Namun, Arka kemudian menceritakan kejadian sehari sebelumnya, ketika iblis itu muncul di hadapan mereka, sekaligus menjelaskan bahwa bahaya yang mengincar Nara belum benar-benar berakhir.
“Kalau Nak Arka ndak cerita sama Ibu,” lanjut Widayu dengan kecemasan yang samar terdengar dalam suaranya. “Ibu mungkin ndak akan pernah tahu. Soalnya, kelihatannya kamu memang ndak mau cerita soal ini sama Ibu.”
“Bukannya enggak mau cerita,” bantah Nara pelan. “Aku cuma belum nemu waktu yang tepat, Bu.”
“Kalau begitu …” Nada suara Widayu berubah lebih serius. “Kenapa kamu menolak tawaran Nak Arka?”
Widayu memiringkan tubuhnya agar bisa menatap wajah putri sulungnya. Matanya mengamati Nara lekat-lekat, berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang dipikirkan anaknya itu.
“Tawaran itu buat jagain kamu, Nara,” lanjutnya. “Rumah ini peninggalan ayahmu. Bukan tempat yang aman. Ndak ada yang bisa menjamin makhluk-makhluk itu ndak akan datang lagi.”