Nurantara, 27 Mei 2025.
“Akhirnya kita bertemu, Nara.”
Sapaan itu terdengar datar. Namun, setiap katanya membawa tekanan yang begitu besar hingga jantung Nara seolah hendak melompat keluar dari rongganya. Bulu kuduknya seketika meremang. Ia melirik sedikit ke kanan, ke arah Arka. Wajah pria itu memperlihatkan campuran rasa takut, gugup, dan terkejut yang sulit disembunyikan.
Nara tak pernah menyangka makhluk yang selama ini diam-diam mengawasinya akan menampakkan diri secepat ini.
Jangan takut, Nara. Ia berusaha menguatkan dirinya sendiri. Kamu enggak boleh takut dengan makhluk seperti itu. Jangan takut. Bukankah memalukan kalau aku kalah dari makhluk yang juga ciptaan Allah?
Namun, kemunculan sosok iblis di hadapannya rupanya belum seberapa.
Kulitnya pucat keabu-abuan, matanya menyala merah, dan tubuhnya yang tinggi kurus menjulang hampir dua meter. Jemari beserta kuku-kukunya memanjang secara tidak wajar, membuat sosok itu tampak semakin mengerikan.
Di belakangnya, bermunculan makhluk-makhluk yang sudah tak asing bagi Nara. Sosok-sosok berbalut kain putih kusam yang pernah dilihatnya sebelumnya. Kali ini, jumlah mereka jauh lebih banyak daripada yang bisa ia ingat.
Mereka … sebanyak ini?? Nara bergidik. Ia berusaha melirik Arka lagi dari sudut matanya. Sebelumnya, entah bagaimana caranya, kami bisa selamat. Tapi sekarang … apa kami bisa selamat lagi?
Ia menahan getar di tubuhnya. Rasa takut dan panik bercampur menjadi satu, membuat pikirannya nyaris sulit dengan bekerja dengan jernih.
Anugerah milikku ini … sebenarnya apa yang begitu istimewa darinya sampai-sampai terus menarik makhluk-makhluk seperti mereka?
Nara segera menyadari bahwa mereka dalam posisi yang nyaris mustahil untuk dimenangkan.
Untuk melarikan dari iblis beserta pasukannya, ia dan Arka harus melewati begitu banyak makhluk gaib. Jumlah mereka saja sudah cukup untuk membuat harapan itu terasa mustahil. Padahal, pada pertemuan sebelumnya, mereka berdua nyaris kehilangan nyawa ketika berhadapan dengan pasukan yang lebih kecil. Dan sekarang, jumlah mereka jauh lebih banyak.
Krek …
Suara tulang yang patah menggema di dalam ruangan, mengiris keheningan dan mengirimkan rasa ngeri ke sekujur tubuh Nara. Selama beberapa detik, ia hanya bisa bergidik. Namun, buru-buru ia menekan ketakutan itu, berusaha agar tak satupun tanda kelemahannya terlihat. Ia tahu, semakin jelas rasa takutnya terlihat, semakin mudah pula iblis itu memanfaatkannya.
Lalu, sesuatu yang mustahil dilakukan manusia terjadi di hadapan mereka.
Seluruh makhluk berbalut kain putih kusam itu serentak menekuk lutut hingga menghantam lantai. Kepala mereka tertunduk dalam. Tak satupun berani mengangkat wajah untuk menatap Nara.
Apa yang sedang coba kalian lakukan?
Nara ingin sekali mengajukan pertanyaan itu. Namun, ia segera mengurungkan niatnya. Makhluk di hadapannya bukan sosok yang bisa dipercaya memberikan jawaban jujur. Setiap perkataannya mungkin menyimpan tipu daya, setiap tindakannya mungkin memiliki maksud tersembunyi.
“Akhirnya kamu muncul juga,” balas Nara.
Ia berusaha mempertahankan ketenangan suaranya, menyembunyikan kegugupan di balik senyum tipis yang dipaksakan.
“Kupikir kamu akan terus bersembunyi di balik mereka … mengawasiku dari kejauhan.”
Ingatan Nara seketika kembali pada hari ketika mata batinnya pertama kali terbuka—hari ketika kecelakaan nahas yang nyaris merenggut nyawanya dan Arka.
Saat itu, ia melihat begitu banyak makhluk berbalut kain putih kusam berdiri mengelilingi mobil Arka. Mereka tertawa, seolah-olah kematian Arka adalah sesuatu yang saat mereka nantikan. Namun, di tengah keputusasaan yang nyaris menelannya, Nara merasakan genggaman tangan Arka.
Hangat. Bahkan terasa semakin hangat ketika air mata pria itu jatuh membasahi tangannya.
Dalam momen singkat itu, Nara menyadari bahwa Arka masih hidup. Dan selama pria itu masih bernapas, ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya.
Pemandangan pada hari itu meninggalkan satu kesimpulan dalam benaknya: makhluk-makhluk berbalut kain putih kusam itu hanyalah pasukan. Mereka bergerak seolah menunggu perintah dari sosok yang lebih tinggi, sosok yang jauh lebih menakutkan daripada mereka.
Nara sempat berpikir bahwa pemimpin mereka tak akan pernah menunjukkan wujudnya sendiri. Ternyata, ia salah.
“Nara … sejak kapan kamu—”
Suara Arka memecah lamunan Nara.
Perempuan itu menoleh sedikit ke arahnya. Ia tahu Arka pasti terkejut melihat dirinya kini mampu menyaksikan makhluk-makhluk gaib dengan mata kepalanya sendiri. Terlebih lagi, selama ini ia tak pernah menceritakan apapun kepada pria itu.
“Benar …” ujar Nara, memutus keheningan yang menggantung di antara mereka.
Senyum di bibirnya sedikit melebar ketika menyadari bahwa Arka mulai memahami apa yang sedang terjadi.