ANTARDIPA

mahes.varaa
Chapter #3

TAWARAN IBLIS PART 2

Saeful yang sejak tadi menunggu kedatangan sang iblis segera menjatuhkan diri dalam sujud ketika sosok itu akhirnya tiba bersama pasukannya. 

“Selamat datang, Tuan …” sapanya penuh hormat. 

Sang iblis tidak menjawab. Ia hanya berjalan menuju singgasananya, lalu mendudukkan diri dengan satu tangan menopang wajahnya. Tatapannya menerawang, sementara pikirannya tenggelam dalam berbagai persoalan yang belum menemukan jalan keluar. 

Sejak menerima kabar kematian Gina—anak kedua Saeful sekaligus calon penerus yang telah dipilihnya—sang iblis memerintahkan pria itu untuk kembali ke Nurantara. Saeful harus tinggal di rumah yang dahulu menjadi tempatnya melakukan ritual pemujaan. Tugasnya sederhana, tetapi mendesak: menemukan pengganti Gina. 

Sayangnya, tugas itu jauh dari kata mudah. 

Istri Saeful saat ini tidak bisa mengandung. Berbagai cara telah ditempuh, tetapi semuanya berakhir dengan kegagalan. Sementara itu, menemukan keturunan dengan bakat istimewa seperti anak-anak Widayu bukanlah perkara sederhana. Darah yang mengalir dalam diri mereka bukanlah darah keturunan biasa. 

Sejak pertama kali bertemu Widayu bertahun-tahun silam, Saeful sempat mendapatkan tentangan dari ibunya sendiri ketika berniat menikahi perempuan itu. Namun, entah bagaimana, penolakan tersebut mendadak berubah menjadi persetujuan. 

Belakangan, Saeful mengetahui alasannya. Iblis yang telah mengikat perjanjian dengan keluarganya secara turun-temurun rupanya sudah memastikan bahwa Widayu berasal dari garis keturunan istimewa. Perempuan itu diperkirakan mampu melahirkan anak-anak dengan bakat yang dibutuhkan untuk melanjutkan perjanjian mereka. 

Dan ramalan itu terbukti besar. 

Widayu melahirkan anak-anak yang memiliki keistimewaan: Gina dan Nanda sama-sama mampu melihat makhluk gaib. Namun, di antara keduanya, Gina memiliki sesuatu yang jauh lebih langka. Ucapannya mampu mempengaruhi kenyataan. Sayangnya, bakat itu masih sangat lemah. 

Awalnya, Saeful mengira kondisi tersebut disebabkan oleh tubuh Gina yang rapuh sejak lahir. Sifatnya yang penakut juga dianggap menjadi salah satu alasan mengapa bakat ucapannya tak berkembang sekuat kemampuan yang dimiliki para leluhur dari garis keturunan Widayu. 

Namun, tahun demi tahun berlalu tanpa perubahan berarti. 

Kekuatan Gita tak kunjung berkembang. Keberaniannya pun tak bertambah. Sebaliknya, kondisi tubuhnya semakin memburuk, seolah-olah setiap hari yang berlalu hanya membawanya selangkah lebih dekat menuju kematian. Bahkan, sang iblis sampai sengaja mengirimkan sebagian kecil pasukannya—makhluk-makhluk berbalut kain putih kusam—untuk mempertahankan nyawa Gina. Gadis itu merupakan aset yang terlalu berharga untuk dibiarkan mati begitu saja. Namun, sebesar apapun usaha mereka, kematian tetap merenggutnya. 

Gina akhirnya mengembuskan napas terakhirnya. 

Bagi Saeful dan sang iblis, kematian itu merupakan kegagalan besar. Mereka kehilangan calon penerus terbaik, sekaligus menghadapi kemungkinan bahwa bakat langka tersebut akan lenyap bersama pemiliknya. 

Pada hari yang sama, keduanya mulai mempertimbangkan dua pilihan yang tersisa: Nanda atau Nara. Namun, mendapatkan salah satu dari mereka bukanlah perkara mudah. Nanda, anak laki-laki Widayu, memiliki jiwa yang bersih tanpa celah yang berarti. Sifatnya mengingatkan Saeful pada Widayu sendiri. Barangkali, karena sejak kecil ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibunya dan belajar darinya, Nanda tumbuh dengan keteguhan hati yang serupa. 

Bagi iblis, jiwa seperti itu sulit ditembus. Maka, perhatian mereka beralih kepada Nara, anak sulung Saeful. 

Sekilas, Nara tampak seperti pilihan yang lebih menjanjikan. Terlahir tanpa mata batin yang terbuka, bukanlah masalah besar. Mereka bisa membukanya kapan saja. Yang jauh lebih penting adalah kondisi jiwa gadis itu. Di balik cahaya yang masih tersisa dalam jiwanya, terdapat celah besar yang terbentuk dari luka, kehilangan, dan rasa sakit yang telah lama dipendamnya. 

Namun, justru di situlah letak persoalannya. 

Kegelapan dalam diri Nara tidak serta-merta membuatnya mudah dikuasai. Sebaliknya, luka-luka yang membekas di hatinya justru membuatnya semakin berpegang teguh kepada Allah. Nara mungkin telah kehilangan kepercayaan kepada manusia, tetapi keyakinannya kepada Allah jauh lebih sulit digoyahkan. 

Dan bagi iblis maupun Saeful, itulah penghalang terbesar mereka. 

Belum lagi, sejak lama Nara menjaga jarak dari ayahnya sendiri. Gadis itu bahkan menjadi orang yang menemukan rahasia persekutuan Saeful dengan iblis. Mendekatinya secara langsung jelas bukan perkara mudah. Ada tembok tak kasatmata yang harus mereka runtuhkan terlebih dahulu—tembok yang dibangun dari kecurigaan, pengalaman pahit, dan keyakinan yang yang tak mudah dipatahkan. 

Namun, di tengah kebuntuan itu, sesuatu yang tak pernah mereka duga terjadi. 

Pada hari kematian Gina, mata makhluk-makhluk berbalut kain putih kusam yang mengawasi rumah Widayu menangkap sesuatu. Sebuah kilatan cahaya muncul di rumah itu, begitu singkat hingga nyaris tak sempat tertangkap oleh pandangan. 

Lihat selengkapnya