ANTI AVATAR

Handi Yawan
Chapter #12

Menjejak Bumi Saturnus

Keempat orang itu tampak senang melihat Jake menikmati buah yang sama dengan yang mereka makan.

“Silakan ambil yang lain, Padanduk. “Masih banyak.”

Jake tanpa ragu menerima tawaran itu.

Lalu setelah merasa cukup beristirahat, mereka berkemas untuk melanjutkan perjalanan kembali.

Tidak lama kemudian, mereka sudah memacu kembali kudanya masing-masing.

Ketika matahari tepat berada di atas kepala, rombongan telah tiba di sebuah tebing berbatu. Lalu mereka berhenti mengawasi tempat itu.

Jake mengawasi bentang alam di hadapannya. Ketika di dalam kereta bersama rombongan Soralogam, Jake tidak berkesempatan meneliti lapangan ini. Sekarang dia banyak kesempatan untuk melakukannya.

Di depan Jake persis lembah yang dinamai Lidin Tadak. Sebuah lembah yang tandus.

Dari tempat Jake menunggang kuda, di seberang Lidin Tadak mereka terlihat tenda-tenda Magadorran.

Beberapa kereta berukuran besar tampak pula dan itu adalah truk-truk pengangkut tentara Magadorr.

Sementara itu juga Jake memperkirakan tank-tank tentara Magadorran telah bertambah banyak. Namun dia tidak bisa memperkirakan persis berapa besar kekuatan lawan?

Jake menimbang-nimbang, apa yang harus dilakukannya untuk pertempuran tentara gabungan Dedospodan menghadapi Magadorran yang tidak imbang kekuatannya.

Lalu Jake memutuskan terbang naik supaya bisa mendapatkan pemandangan lebih baik.

“Dentarad!” kata Jake kepada rombongan pengantarnya. “Dagada diti sidin aidi. Jaga di sini aku akan terbang.”

Jake menunjuk ke langit dan mereka mengerti karena sudah banyak mendengar aksi Jake sewaktu di Mogur.

Pelan-pelan Jake tinggal landas, lalu naik semakin tinggi, sampai akhirnya dia menghilang dari pandangan orang-orang yang menunggunya di bawah.

Tubuh Jake yang terbang menimbulkan decak kagum. Semula mereka hanya mendengar kabar Dewa Jako bisa terbang. Sekarang mereka lihat dengan mata kepala sendiri.

Jangkauan ketinggian ransel yang membawa Jake terbang ada batas maksimumnya. Maka Jake berhenti pada batas ketinggian yang diizinkan seperti yang terlihat pada monitor virtual di kaca helmnya, yakni hanya 1.5 Km. Tapi ini cukup bagi Jake untuk melakukan evaluasi.

Di atas, angin bertiup cukup kencang sehingga Jake harus selalu mempertahankan posisi dan menjaga keseimbangan.

Lembah tandus di bawahnya cukup luas tetapi jumlah tentara Magadorran hampir mampu memenuhi luas lembah itu bila mereka diturunkan semua.

Lembah ini dikelilingi gunung-gunung yang banyak dialiri sungai, hanya arah alirannya tidak ada yang turun melewati lembah sehingga lembah menjadi daerah tandus akibat kekurangan air.

KLIK, KLIK ....

Jake tidak lupa memotret bentang alam ini. Lalu setelah merasa cukup dia memutuskan kembali turun.

Tiba di bawah, Jake melepas helm lalu meletakkan di atas sebuah batu.

Kemudian dia menyalakan monitor virtual yang bisa dilihat oleh semua orang.

Lalu Jake meminta para pengiringnya datang mendekat.

“Tolong kalian perhatikan gambar ini.” Pinta Jake. Jake memperlihatkan hasil foto yang dia ambil tadi di atas.

Mereka terheran-heran melihat sebuah bidang cahaya yang membentuk gambar-gambar terbentang di udara.

Tetapi tidak butuh waktu lama bagi orang-orang Dospodamida mengenali gambar yang tersusun dari cahaya telah terpampang sebagai peta daerah ini.

Lalu Jake memaparkan strateginya kepada mereka.

“Kira-kira sejauh 25 Km dari lembah ini ada sungai yang besar alirannya. Aku akan mengalirkan sungai ke lembah ini. Bila arah alirannya di arahkan ke lembah ini, apakah di daerah yang dilewati ada perkampungan?”

“Duradahden!” sapa Jake. “Apa pendapatmu?”

Pria berkulit gelap yang dimintai pendapat oleh Jake sejenak berpikir, lalu segera memberikan jawaban.

“Tidak ada!” ujar Duradahden. “Tetapi di sepanjang arah ini banyak gua-gua besar. Jadi kemungkinan besar air tidak akan cukup sampai ke lembah ini.”

Lalu yang lain memberikan pendapatnya pula.

“Bila diambil arah lain pun akan mengambil jalan memutar dan di beberapa tempat ada pemukiman. Jadi juga tidak mungkin dilakukan rencana itu.”

Jake berpikir keras. Lalu dia menonaktifkan virtual monitor dan mengenakan kembali helmnya.

“Baiklah, strategi lain nanti kita pikirkan sementara ini kita kembali.” Ujar Jake.

Ketika sedang berkemas, tiba-tiba terdengar suara tembakan. DOR!

Duradahden terjungkal. Sontak yang lain panik.

Ternyata kedatangan mereka telah dipergoki oleh sebuah patroli dari pihak lawan.

Melihat keberadaan pihak Dospodamida, lawan langsung melancarkan serangan kepada mereka hingga menjadi kocar-kacir.

Jake memberikan tembakan balasan untuk melindungi teman-temannya.

Jake bisa saja menghabisi musuh, tetapi dia kuatir akan jatuh korban di pihaknya.

Setelah teman-temannya punya kesempatan naik ke kuda masing-masing. Lalu mereka memacu kudanya kabur sambil membawa tubuh Duradahden yang terluka.

Para buron memacu kudanya menuruni bukit yang cukup terjal dan bukan ke arah mereka tadi datang karena musuh berada di tempat itu.

Sayang sekali, di ujung arah jalan itu telah menanti kelompok lain dari pihak tentara Magadorr. Ternyata rombongan Jake tidak menyadari telah diawasi oleh pihak lawan.

Sementara itu pihak lawan telah melepaskan tembakan bertubi-tubi. Beruntung jarak tembak masih jauh.

Akhirnya mereka tidak ada jalan lain selain memacu ke arah lembah yang terbuka sehingga tidak ada tempat untuk berlindung.

Jake menyusul mereka, beberapa kali tembakan lawan ada yang mengenai tubuhnya sehingga Jake perlu melakukan balasan sebagai peringatan.

Beberapa orang berkuda yang mengejarnya jatuh kejang-kejang dan ada pula yang ikut terseret kudanya yang ikut jatuh akibat terkena muntahan proyektil listrik bertegangan tinggi.

Hari ini sial bagi mereka yang ceroboh dan tidak mengira tindakan memata-matai menjadi bencana. Kedatangan mereka yang diam-diam telah dipergoki sehingga satu kelompok lawan telah memberitahu kehadiran mereka, hingga akhirnya sekarang mereka telah dalam kepungan lawan.

“Hamadad!” ujar Jake kepada salah seorang temannya. “Bawa kudaku ini dan terus kabur ke arah itu. Kalian akan aku lindungi!” tunjuk Jake sambil bergegas turun dan memberikan tali kekang kepada Hamadad.

Tetapi sebelumnya Jake telah mengambil Dipodoto dan telah mengalungkan di punggung pula.

Hamadad mengangguk mengentakkan kaki ke kudanya sambil menyeret tali kekang kuda milik Jake lalu memandu yang lain kabur ke arah yang ditunjuk oleh Jake.

Tempat yang ditunjuk oleh Jake banyak pepohonan dan berada di seberang. Lalu Jake melepas tembakan cetbang ke arah rombongan yang mengejar teman-temannya.

SIIIING Sinar berwarna biru dimuntahkan Jake

dari meriam tangan itu.

BLAR!

Sebuah ledakan telak mengenai para pengejar hingga kocar-kacir. Beberapa ekor kuda jatuh lalu mati seketika. Sementara penunggangnya turut bernasib sama.

Beruntunglah teman-teman Jake akhirnya bisa lolos dari pengejaran, dan terus memacu kuda-kudanya hingga mencapai pepohonan yang besar menjadi tempat berlindung.

Jake tinggal sendiri dan sekarang kelompok pengejarnya sudah datang mengepung. Tetapi mereka ragu untuk melakukan serangan kepada Jake. Sehingga hanya berputar-putar saja di atas kudanya masing- masing mengawasi apa yang akan dilakukan Jake.

Sementara itu Jake telah memendekkan cetbang lalu menaruh di punggung. Kemudian ganti meraih Dipodoto.

Jake meregangkan ketiga buah kaki-kaki Dipodoto.

Lalu Jake buru-buru mengaktifkan alat itu, kemudian menancapkan tabung setinggi 50 cm itu ke tanah. Sementara itu dia telah mengapung beberapa senti meter di atas tanah.

BLAR!

Tiba-tiba terjadi ledakan kecil di bagian bawah tabung Dipodoto dan seketika alat itu telah turun beberapa sentimeter.

Lalu disusul ledakan kedua, BLAR!

Pada ledakan kedua, seluruh bagian tabung Dipodoto menghunjam ke dalam tanah dan hanya menyisakan wadah cakram di atas tanah dengan ketiga kaki-kaki yang telah meregang ke tiga arah.

Para pengepung memandang saja dan tidak tahu apa sedang dilakukan Jake?

Ketika Jake memukulkan telapak tangannya ke bagian atas cakram Dipodoto yang telah tertanam, Jake mengapungkan diri semakin tinggi lalu terdengar sebuah ledakan keras BUM!

Tetapi suara itu segera diredam karena ledakan terjadi di dalam tanah. Tetapi ledakan itu telah melemparkan debu cukup tinggi.

Akibat selanjutnya sangat luar biasa dan membuat para pengepungnya panik. Hanya dalam hitungan detik datang susulan berupa gempa bumi!

Gempa bumi berpusat di titik tempat Jake menanam Dipodoto lalu dengan cepat menyebar ke segala arah.

Gelombang seismik yang ditimbulkan sangat besar, tetapi beruntung yang skala tinggi hanya menuju ke dalam tanah. Di atas tanah hanya memancarkan gelombang lebih kecil tetapi cukup merekahkan tanah hingga orang bisa terperosok masuk lubang setinggi lutut itu.

Suara ledakan saja telah membuat panik kuda-kuda itu hingga melompat ketakutan dan melemparkan para penunggang dari punggungnya.

Tetapi ada pula dari kuda-kuda itu yang jatuh terperosok ke dalam rekahan tanah hingga menyeret beberapa penunggangnya. Yang masih bernasib baik masih berdiri pada keempat kakinya, lantas lari tunggang-langgang kabur tidak tentu arah.

Kuda-kuda yang tadi jatuh terperosok buru-buru bangun lalu ikut menyusul kabur dan meninggalkan penunggangnya yang telah mengalami syok.

Jake turun lalu bergegas mengambil alat perekam hasil pancaran gelombang seismik dari Dipodoto. Sedangkan tabung yang tertanam dan kaki-kaki Dipodoto ditinggalkan oleh Jake.

Radius gelombang seismik yang timbul mencapai sisi lain lembah di mana teman-teman Jake yang telah menunggu ikut merasakan getaran yang cukup kuat.

Lihat selengkapnya