Sementara itu beberapa regu lain langsung turun ke darat.
Ketika menjejakkan kaki di atas tanah, seluruh penerjun segera menonaktifkan seragam wingsuit yangbserta-merta menyusut menjadi seragam biasa sehingga tidak menyulitkan pergerakan mereka untuk langsung melanjutkan serangan.
Pasukan Magadorran tersisa memberikan balasan tembakan, tetapi sayang, peluru-peluru mereka tidak mampu menembus baju zirah yang dipakai para dewa.
Jake memberi perintah pada pasukannya untuk menyebar baik kepada yang di udara maupun yang di darat.
Kemampuan para dewa yang dibekali senjata jauh lebih hebat dan kemampuan terbangnya yang mampu menjangkau wilayah yang lebih luas dengan cepat mengakibat pasukan Magadorran dengan cepat pula disapu bersih.
Akhirnya dalam waktu singkat tentara di pihak Magadorran berhasil dihancurkan dan sisanya mundur kocar-kacir seperti anak ayam kehilangan induk.
Pasukan Magadorran yang masih hidup menjadi tawanan dan diamankan oleh tentara gabungan.
Pada saat itu pula pangeran Podorkin telah tampil dan dilihat oleh Jake. Lalu disusul oleh kedatangan Kirani yang selalu bersama dengan Putri Malikan.
Barulah Jake bergegas menemui kekasihnya.
Jake berlari ke arah Kirani datang. Lalu di lapangan yang berantakan itu pula kedua kekasih dipertemukan kembali. Jake memeluk Kirani dengan penuh kerinduan.
“Aku tahu yang kau lakukan adalah mengujiku.” Ucap Jake. “Tapi jangan pernah meragukan cintaku padamu.”
Kirani terharu ternyata Jake tidak meninggalkannya. Apalagi kejutan lain datang menyusul ketika disampaikan oleh Jake secara langsung kepada Kirani.
“Aku akan membuktikan cintaku padamu adalah yang sebenarnya.” Jake memegang kedua lengan Kirani.
Jake tidak menunda-nunda waktu lagi walaupun di saat masih seperti sekarang.
“Kirani, adauddidn disautrididkade wadaokoda, maukah engkau menjadi istriku?” Ucap Jake yang diucapkan dalam bahasa Magadorran pula sehingga dimengerti oleh pangeran Podorkin dan Putri Malikan yang tidak ingin melewatkan momen indah seperti ini.
Kirani menangis bahagia diperlakukan agung oleh Jake di hadapan orang banyak, sehingga serta merta mengangguk-anggukan kepala. Mengabulkan permintaan Jake.
Tiba-tiba sorak-sorai terdengar pula diteriakkan oleh para anak buah Jake menyambut ikrar lamaran Jake kepada Kirani. Rupanya diam-diam mereka pun turut menonton momen ini.
Tidak urung dari pihak tentara gabungan ikut bersorak pula.
Lalu Jake mengeluarkan sebuah cincin dan memasangnya di jari manis tangan kiri Kirani dengan lembut.
“Ini adalah bukti lamaran dariku.” Ucap Jake. Akhirnya Kirani memeluk Jake dengan wajah bahagia.
Pangeran Podorkin dan Putri Malikan menundukkan badan memberikan selamat kepada sepasang calon suami istri ini. Tampak sekali kedua pasangan itu turut merasa bergembira.
Sementara itu pesawat Merdeka 22-818 tetap berada di bawah awan dan menjadi tontonan tentara gabungan dan rakyat Dospodamida di darat.
Demikian pula dengan para pasukan raider mendapatkan perlakuan luar biasa. Semula masyarakat Dospodamida hanya melihat dua orang dewa, kini mereka melihat langsung para dewa dan puluhan kereta perang keluar dari sebuah kereta dewa yang paling besar hingga dalam jumlah puluhan, turun dari langit dan menghancurkan musuh hanya dalam waktu singkat.
Jake memberikan perintah kepada seorang sersan, “Bantu bersihkan tempat ini dan urus yang luka-luka, termasuk tawanan!”
Bergegas sersan itu pergi dan menyampaikan pesan kepada anggota lainnya.
Selanjutnya Jake didampingi calon istrinya masuk ke istana bersama pangeran Podorkin dan Putri Malikan.
Jake menyampaikan pesan dari Komandan Kodim hendak menempatkan sebuah garizun di lembah Lidin Tadak.
“Pangeran, hamba mendapat perintah dari dewan para dewa untuk menyampaikan suatu hal yang penting.” Ujar Jake.
“Baiklah!” Jawab pangeran Podorkin. “Apakah itu sehingga para dewa berkenan menyampaikan kepada hamba?”
“Hamba meminta izin Padanduk Pangeran untuk membantu mengusir tentara Magadorran yang masih berada di Lidin Tadak.” Ujar Jake berhati-hati menyampaikannya agar tidak terjadi salah paham. “Supaya pangeran Burila Durr tidak akan pernah menyerang kembali ke tanah Dospodamida, kami akan menempatkan pasukan dewa di Lidin Tadak.”
Mendengar hal ini tentu saja Pangeran Podorkin menyambut dengan suka cita.
“Selain itu, kami meminta izin mengambil kayu api di dalam tanah Lidin Tadak.” Sambung Jake. “Tetapi tentu saja kami berjanji tidak akan mengusik Toru!”
Pangeran Podorkin menilai tawaran dari Pimpinan Jake sangat penting, sehingga dia perlu menghadirkan para pimpinan kerajaan-kerajaan pendukungnya.
Saat itu Kirani dan Putri Malikan mengundurkan diri dan meninggalkan mereka melanjutkan pembicaraan.
Lalu dalam waktu singkat para pemimpin gabungan sudah ikut hadir dalam pembicaraan ini.
Setelah pangeran Barkin dari Dakar Mudor, raja Wotidota, ratu Danntudua, raja Hadatuid Drom, dan kabilah-kabilah Torturola berkumpul di istana Dedospodan, Pangeran Podorkin menyampaikan pesan dari Jake.
Setelah pesan disampaikan, lalu terjadi kegaduhan kecil dalam pembicaraan di antara mereka.
Tetapi Jake tahu mereka tidak punya pilihan lain karena ancaman dari kerajaan Magadorr masih membayang-bayangi masa depan mereka.
Akhirnya didapat kesimpulan dan Pangeran Podorkin menjadi juru bicara para Pemimpin kerajaan pendukungnya untuk menyampaikannya.
“Sejujurnya kami tidak mengerti apa hubungannya mengambil kayu api yang ada di dalam tanah kami dengan Toru? Tetapi kami dapat melihat ada yang lebih utama pada saat ini, yaitu bantuan tentara langit untuk kami dalam menghadapi Magadorran.” Ujar Podorkin. “Oleh sebab itu kami setuju dengan keinginan raja dewa yang diwakili Padanduk Jako.”
Jake merasa lega mendengar keputusan itu.
Lalu Jake mengajak Pangeran Podorkin dan para Pemimpin kerajaan gabungan ikut bersamanya naik ke Pesawat Merdeka.
“Mari Padanduk Podorkin, Padanduk Barkin, Padanduk Wotidota ” Jake sebut satu persatu pemimpin gabungan. “Ikut hamba naik burung besi untuk melihat para dewa menghancurkan tentara Magadorran di Lidin Tadak.”
Para Pemimpin gabungan sangat senang mendengar hal ini. Mereka mendapat kesempatan naik burung besi yang besar.
Berbondong-bondong mereka mengikuti Jake pergi ke luar istana.
Di luar sebuah pesawat-pesawat tempur telah menanti. Lalu satu persatu mereka naik pesawat tempur yang berbeda.
Kemudian berturut-turut pesawat-pesawat tempur naik dan masuk ke lambung Pesawat Merdeka 22-818.
Untuk pertama kalinya para pemimpin kerajaan gabungan naik burung besi yang paling besar milik para dewa.
Ketika mereka tiba di kabin awak, langsung diajak ke anjungan dan diperkenalkan kepada Kapten Chopra.
Kapten Chopra segera memberikan penghormatan dengan cara menundukkan badan kepada para Pemimpin gabungan, lalu dibalas dengan cara yang sama penghormatan dari Dewa Besar di burung besi ini.
Podorkin dan sekutunya diam-diam hanya mampu berdecak kagum melihat para awak dan peralatan di dalam burung besi.
Bagi para tamu ini tidak merasakan burung besi ini telah bergerak. Mereka hanya tahu ketika dijelaskan oleh Jake melalui kaca jendela yang besar di anjungan.
Di anjungan para tamu kehormatan melihat bukit- bukit dilewati dengan kecepatan tinggi. Hingga akhirnya
hanya dalam sekejap para sekutu segera tahu mereka telah berada di atas lembah Lidin Tadak.
Di tempat itu mereka melihat langsung kehancuran di Lidin Tadak yang telah dilakukan oleh pasukan tempur udara kodam.
Tenda-tenda Magadorran telah rata dengan tanah. Tank-tank mereka sudah lebur menjadi abu. Beberapa tentara Magadorr banyak yang telah tewas dan menyisakan alutsista yang ditinggal bergeletakan di atas tanah dalam keadaan telah hancur pula.
Tentara Magadorran benar-benar telah dihabisi.
“Pangeran Burila Durr melarikan diri bersama sisa tentara-tentaranya.” Lapor seorang sersan kepada Jake.
Laporan ini segera disampaikan Jake kepada pangeran Podorkin dan sekutunya.
Setelah tiba di udara lembah Lidin Tadak, Podorkin dan para Pemimpin gabungan diturunkan kembali dan ditemani oleh Jake.
Pangeran Podorkin dan para Pemimpin gabungannya telah menginjakkan kaki di atas tanah Lidin Tadak.
Dari tempat itu mereka melihat bagaimana Pesawat Merdeka 22-818 turun dan mendarat.
Setelah di atas tanah, tidak lama kemudian sebuah pintu yang besar membuka.
Beberapa panser dan tank berjalan keluar lalu turun. Kemudian diikuti truk-truk bermuatan peti kemas untuk mempersiapkan pasukan membangun sebuah garnizun di lembah ini.
Podorkin dan para Pemimpin kerajaan lainnya merasa tenteram melihat semua ini. Pasukan dari Magadorran akan kesulitan melawan tentara langit yang memiliki senjata-senjata pusaka yang lebih hebat.
“Nanti burung besi itu akan kembali ke negeri atas angin dan mengambil kereta-kereta perang lain untuk mengambil kayu api di dalam tanah Lidin Tadak.” Ujar Jake kepada pangeran Podorkin dan sekutunya. []
Setelah sebuah garnizun dibangun, Jake kembali ke New Batavia bersama Pesawat Merdeka 22-818. Tetapi kali ini Jake pulang bersama Kirani.
Di markas Kodam, Komandan menggelar upacara kenaikan pangkat kepada Jake. Dan dalam kesempatan itu pula Kirani mendapat anugerah Satya Lencana Bhakti atas perannya membantu misi DepPAN dan DK-PBB..
Upacara ini dihadiri pula oleh undangan dari teman-teman Kirani dan terutama walikota.
Setelah upacara selesai, Jake menemui Kirani yang sedang menimang-nimang lencana yang Kirani terima.
Lencana itu dibuat dari logam perunggu bergaris tengah 25 mm. Pita dari satyalencana tersebut berukuran 25 mm panjang 35 mm warna dasar dan strip-stripnya sangat menarik.
Pada saat itu pula walikota New Batavia menyalami Kirani.
“Selamat Kirani, kamu mendapatkan Satya Lencana Bhakti.” ucap Pak walikota. “Kami senang kau kembali ke New Batavia dan bisa kembali melanjutkan pekerjaanmu.”
“Terima kasih Pak Walikota” ucap Kirani sambil menyambut uluran tangan wali kota New Batavia dengan gembira.
Tapi Pak Walikota New Batavia tidak berlama-lama di sana. Namun Pak walikota menyempatkan menyapa Jake.
“Selamat Kapten Jakob Ubar.” Ucap Walikota sambil menjabat tangan Jake.
Jake menyambut uluran tangan itu sambil mengucapkan terima kasih pula.
“Oh ya, kapan kalian menikah?” tanya pak Suharyadi.
Jake dan Kirani tersenyum. “Segera Pak!” Sahut Jake.
“Baiklah, aku pamit.” Ujar Pak Suharyadi. “Aku
menunggu undangan dari kalian.”
“Siap!” Jawab Jake. Lalu walikota New Batavia meninggalkan tempat itu.
Sewaktu dalam perjalanan ke New Batavia Kirani meminta syarat kepada Jake sebelum menikahinya, Jake harus bicara kepada kedua orang tuanya. Tentu saja Jake menyanggupi permintaan itu.
Dan janji itu ditepati oleh Jake saat itu pula. Jake menuntun tangan Kirani dan membawa Kirani masuk ke ruang telekomunikasi di markas.
Jake diberikan fasilitas oleh Komandan Kodim bisa bicara kepada Papa dan Mama Kirani melalui saluran langsung jarak jauh.
Semua telah mendapatkan izin dari komandan dan telah diatur pula sehingga saat itu pula Jake, Kirani sudah tersambung dengan kedua orang tua Kirani di bumi.
Pada saat itu pula Kirani menyampaikan keinginan Jake meminangnya. Tentu saja Papa dan Mama Kirani menyambut gembira berita ini. Mereka telah mendapat kabar bagaimana petualangan Jake dan Kirani di planet Saturnus sehingga tidak sulit mereka mendapat restu dari orang tua Kirani. Kirani dan Jake telah menyampaikan mereka akan menikah batalyon bulan depan.
“Kami merestui, Nak.” Ucap Papa jauh dari balik monitor virtual. Mama hanya mampu memegang lengan Papa sambil tersenyum dan berurai air mata bahagia.
“Maafkan Papa dan Mama tidak bisa hadir di acara pernikahan kalian ”
Hal ini membuat Kirani menangis terharu karena situasi tidak memungkinkan pernikahannya nanti bisa dihadiri secara livestreaming oleh mereka.
Tidak banyak waktu yang luang untuk mereka bicara, sehingga setelah cukup bertatap muka, Jake dan Kirani berpamitan. Sejoli itu menutup percakapan langsung jarak jauh dengan kedua orang tua Kirani.
Selanjutnya Jake mendapat giliran memperkenalkan Kirani kepada kedua orang tuanya pula melalui sambungan langsung jarak jauh pula.
Demikian pula kedua orang tua Jake pun memberikan restu rencana pernikahan mereka. []
Baru minggu depan kemudian Kirani mulai bekerja kembali sehingga kesempatan hari ini dia gunakan melihat kedatangan kloter pertama migrasi dari bumi.
Sektor H yang dulu tempat Kirani bekerja, sekarang sudah dibongkar karena menara tambat yang dibangun telah berdiri dan telah digunakan. Tetapi semua pekerja di sektor H telah diprogramkan melanjutkan pekerjaan membangun menara tambat baru di tempat lain.
Kirani tidak sendiri karena ditemani oleh Maria, Hendra, dan Tania yang semuanya sedang off minggu ini.