Setelah memastikan keadaan aman untuk melanjutkan rencananya, pintu dibuka, lalu menemui salah seorang sipir Kepala yang berdiri mengawasi monitor. Orang ini mengabaikan siapa yang sedang masuk
.... Tentu saja Sipir tertegun ketika disergap oleh seseorang yang datang dari belakang dan sesuatu telah menekan belakang pinggangnya dengan keras. Padahal itu ujung jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan Aldrin!
"Serahkan pistolmu!" Seru Aldrin. Namun tanpa menunggu, dia ambil sendiri senjata itu dari ikat pinggang sipir.
"Pindahkan seting ke netral!" Suruh Aldrin sambil menyodorkan pistol di tangan kiri dan menambahkan tekanan pada belakang pinggang sipir.
Bergegas sipir kepala melakukan perintah Aldrin. Lalu pria tinggi itu mengusap sensor pada pistol hingga sebuah cahaya hijau menyala. Setelah itu Aldrin mendorong punggung sipir agar berjalan ke arah ruangan di dalam yang lebih besar.
Di dalam ruangan sipir-sipir berdiri dari tempat duduknya manakala melihat kepala sipir dalam todongan senjata di tangan Aldrin.
Setelah memastikan keadaan aman untuk melanjutkan rencananya, pintu dibuka, lalu menemui salah seorang sipir Kepala yang berdiri mengawasi monitor. Orang ini mengabaikan siapa yang sedang masuk
.... Tentu saja Sipir tertegun ketika disergap oleh seseorang yang datang dari belakang dan sesuatu telah menekan belakang pinggangnya dengan keras. Padahal itu ujung jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan Aldrin!
"Serahkan pistolmu!" Seru Aldrin. Namun tanpa menunggu, dia ambil sendiri senjata itu dari ikat pinggang sipir.
"Pindahkan seting ke netral!" Suruh Aldrin sambil menyodorkan pistol di tangan kiri dan menambahkan tekanan pada belakang pinggang sipir.
Bergegas sipir kepala melakukan perintah Aldrin. Lalu pria tinggi itu mengusap sensor pada pistol hingga sebuah cahaya hijau menyala. Setelah itu Aldrin mendorong punggung sipir agar berjalan ke arah ruangan di dalam yang lebih besar.
Di dalam ruangan sipir-sipir berdiri dari tempat duduknya manakala melihat kepala sipir dalam todongan senjata di tangan Aldrin.
"Berikan kunci itu!" Perintah Aldrin sekali lagi kepada sipir yang tadi menemuinya dalam penjara. Dengan enggan sipir yang memegang sebuah kotak kecil, menyerahkan kunci elektrik itu ke tangan Aldrin. Sementara sipir kepala masih dalam kekuasaanya.
Lalu Aldrin menyalakan tombol hijau dan mengarahkan cahaya pada kedua mata sipir kepala. Tampaklah cahaya pada alat itu melakukan jejak pada kedua bola matanya. Setelah itu Aldrin bergerak mundur ke arah pintu sambil tetap mengacungkan pistol ke arah mereka.
Setelah berada di balik pintu, Aldrin segera menutup kembali dengan mengusap tombol pada daun pintu. Sesaat kemudian pintu menutup, lalu Aldrin meletakan kotak kunci elektronik pada daun pintu yang serta merta lampu berwarna merah menyala yang memberi sinyal pintu telah dikunci. Selanjutnya
Aldrin bergegas meninggalkan ruangan itu dengan para sipirnya terkunci dalam ruangan mereka sendiri.
Ketika Aldrin kembali ke blok tahanan, teman-temannya telah menyongsong dari balik pintu. Lalu Aldrin menempelkan kotak kunci pada daun pintu tahanan.
Terdengar sebuah bunyi 'klik', lalu lampu pada kotak menyala hijau dan tidak lama kemudian seseorang menggeser pintu ke samping. Selanjutnya orang yang berada di dalam datang ke keluar. Dia mengenakan
seragam berpangkat Letnan Dua dan dia adalah Hoskin Green Jackson atasan Aldrin. Lalu Aldrin memberi hormat militer, "... Saya siap menerima instruksi dari Letnan Dua Green ...."
Tetapi Letda itu sendiri mengabaikan sikap formalitas ajudannya. Tentu saja sebagai komandan dia dilibatkan dalam rencana ini karena merupakan bagian dari latihan, tetapi Green tidak menyangka ada anak buahnya bisa lolos dan secepat ini?
"Goodjob, Al." Puji Letnan Green sambil mengacungkan ibu jari. "Bebaskan yang lain, aku akan mencari tempat persenjataan kita disimpan."
"Baik Pak," sahut Aldrin lalu bergegas pergi ke pintu sel lain untuk membebaskan teman-teman regunya.
"Bagaimana kamu melakukannya?" tanya seorang rekan yang telah dibebaskan.
"Aku cuma menyambungkan arus balik dari sensor pada gelang sipir ke kabel yang menghubungkan dengan rangkaian pengunci dan pembuka pintu." Papar Aldrin sambil membukakan pintu tahanan terakhir.
"Wah itu pengetahuan dasar para maling." Gurau Kopral Sam sambil tertawa, "tapi bila tidak kepikiran memanfaatkan gelang sipir, sia-sia bisa membuka pintu."
Pada saat itu Letnan datang dan bergegas mengajak pasukannya pergi ke tempat penyimpanan senjata.
Ketika mereka berlari pada koridor dan melewati tahanan peleton lainnya, para tahanan mengikuti kepergian peleton Garuda dengan tatapan iri dari balik jeruji.
Sebentar saja Garuda tiba di gudang penyimpanan senjata. Bergegas pula setiap personil mengambil perlengkapan tempur di loker masing-masing.
Hanya dalam satu menit semua telah mengenakan persenjataan, helm dan amunisi masing-masing dan ransel logistik di punggung.
"Tinggalkan saja kuncinya di sini." Ujar DanTon Green kepada Aldrin. Lalu Aldrin meletakan kotak kunci di atas meja sebelum pergi menyusul Komandannya.
Akhirnya mereka mulai bergerak mengikuti Pimpinan Peleton pergi ke luar gedung. Sementara itu di luar mereka ditemui oleh pasukan yang tengah berjaga. Manakala pasukan penjaga melihat Peleton Garuda muncul berhamburan, semula kaget tidak mengira ada sebuah peleton yang berhasil kabur!? Namun sekarang mereka memuji. Dan awalnya hanya seorang yang memberikan tepuk tangan kepada Peleton Garuda, lalu pada akhirnya diikuti oleh seluruhnya.
"Lanjutkan Garuda!" Teriak seseorang memberikan dukungan.
"Lesveda yomhade!"
Alhasil Markas Yonif 555 menjadi gegap-gempita oleh yel-yel batalyon yang dikumandangkan oleh seluruh pasukan penjaga memberikan dukungan kepada peleton Garuda.
Letnan Green memimpin peleton terus membawa kabur dan menembus kegelapan malam pergi sejauh-jauhnya dari gedung tahanan di markas.
Regu Garuda terus berlari hingga tengah malam dan baru berhenti setelah komandan regu mengacungkan kepalan tangan.
"Kita beristirahat di sini." Ujar Komandan Peleton. "Setiap 3 jam dua orang giliran berjaga. Kalian tidur duluan biar aku dan Ajudanku yang berjaga."
Lalu personil Garuda masing-masing mencari tempat untuk merebahkan diri di bawah atap langit yang berhias jutaan bintang. Namun meskipun cuaca cerah, di gurun ini tetaplah gelap.
Ketika itu terdengar suara-suara lolongan dan geraman hewan predator mulai mengusik ketenangan malam itu. Semakin larut terdengar suara-suara berbisik dari tempat jauh menjadi lebih jelas dan semakin banyak?
Pada saat itu Letnan Green malah lelap tertidur, tapi Aldrin maklum dan membiarkan komandannya tidur lebih awal. Aldrin hanya mengamati jangan sampai ada predator datang mendekat.
Lalu pada saat giliran jaga telah lewat, Aldrin membangunkan dua prajurit lain.
Dan sebelum merebahkan badan, dia sempat berpesan kepada mereka.
"Di arah jam 10 kawanan Jogiraw mulai berkumpul mengamati kita." Ujar Aldrin sambil menyapu pandangan ke sekeliling. "Dan di arah jam 5 beberapa Henobuk sudah ada 25 meter di depan kita."
Dua orang yang mendapat giliran berjaga terkejut mendengar peringatan Aldrin yang sedang menunjuk ke suatu arah, sementara bedil Aldrin, mereka lihat sendiri masih ditaruh di atas ranselnya?
Tetapi kopral Dough dan kopral Emilio tahu apa yang harus dilalukan. Mereka mengintip lewat teropong dan benar saja apa yang dikatakan Sersan Aldrin. Padahal Aldrin melihat dalam kegelapan tanpa bantuan alat apapun, tetapi laporannya akurat?
Sekalipun begitu merekabpernah mendengar bahwa Aldrin bisa melihat dalam gelap. Sekarang mereka melihat sendiri rumor itu ternyata benar!
Sekarang mereka lebih kuatir pada para predator itu yang bisa saja menyergap tentara yang sedang tidur.
Meskipun mengenakan baju tempur tidak tembus peluru, tetapi gigi dan cakar para predator itu lebih tajam dan lebih kuat dari seekor harimau di bumi, jadi binatang-binatang buas itu tidak boleh dianggap remeh.
Kedua Kopral yang giliran jaga telah membidik predator-predator yang berani datang lebih dekat.
Teropong pada bedil mereka diperlengkapi multi sensor, termasuk sensor panas sehingga tidak kesulitan menyisir dalam kegelapan malam.
Zap, zap ...!
Beberapa buah tembakan kedap suara telah dilepas, lalu disusul suara pekik beberapa hewan yang disusul suara jatuh, Blug, blug,!
Suara jatuh itu disertai erangan. Lalu timbul suara-suara ringkik ketakutan dari para predator lain.
Sebentar kemudian menjadi sunyi kembali. Rupanya mereka lari ketakutan melihat kawanannya banyak yang tewas berada dekat tampat ini.
Sejak itu kedua kopral tidak lagi melepas tembakan, tetapi tetap waspada. []
"Aldrin bangun!"
Aldrin meregangkan tubuh. Sebenarnya dia sudah bangun ketika bahunya diguncang oleh kopral Dolpo dan kini badannya merasa segar setelah cukup tidur selama 3 jam.
Cuaca sudah mulai terang dan Aldrin melihat yang lain sedang makan. Lalu dia meraih ranselnya sendiri yang tadi digunakan sebagai bantal.
Udara sangat kering di tengah padang gurun ini. Semua personil masih menutup rapat kaca helm agar terhindar dari tiupan angin kencang yang menerbangkan debu-debu sehingga tidak masuk ke mata atau terhirup lewat hidung dan mulut.
Beruntung mereka mengenakan seragam istimewa, sehingga suhu di dalam bisa diatur dengan kondisi cuaca di luar. Bila udara malam begitu dingin maka suhu di balik seragam diatur menjadi hangat dan sebaliknya bila siang hari yang terik, maka di balik pakaian tempurnya menjadi sejuk.
Aldrin melihat yang bangun duluan telah mengemasi peralatan bekas sarapan, lalu dia bergegas mengambil rantang makan dan sebuah tambler logam. Dia buka kaca helm karena harus bergegas
menghabiskan ransumnya. Punggungnya menghadap pada datangnya arah angin untuk melindungi makanannya dari debu.
Ketika telah merasa kenyang dan masih ada waktu untuk membiarkan perutnya mencerna makanan, dia minum air teh hangat.