Gerimis sejak pagi buta tidak juga reda ketika gundukan tanah merah di hadapan Celine mulai merapat. Aroma tanah basah berbaur dengan wewangian bunga kamboja yang menusuk hidung, menciptakan atmosfer pekat yang menyesakkan dada. Di tengah kepungan payung-payung hitam pelayat, Celine berdiri membatu. Kedua tangannya mendekap erat sebuah bingkai foto berukir kayu mahoni—potret wajah Mamanya yang sedang tersenyum lembut.
"Turut berduka cita ya, Celine... Mama orang yang sangat baik," bisik seorang wanita paruh baya seraya mengelus lembut bahu Celine.
"Terima kasih, Tante," sahut Celine serak, nyaris tak terdengar.
"Yang sabar, Nak. Kamu harus kuat untuk Papamu," tambah seorang pelayat lainnya sebelum perlahan melangkah pergi.
Celine hanya mampu mengangguk pelan. Dada Celine bergemuruh hebat, dipenuhi oleh badai penyesalan yang tak kunjung padam. Mengapa ia tidak ada di sana saat napas terakhir Mama berembus? Rasa bersalah itu menghantamnya tanpa ampun. Several hari sebelum keretakan ini, ia justru tenggelam dalam latihan karate yang melelahkan dan sibuk mengurus kegiatan komunitas sosialnya.
"Maafkan Celine, Ma... Tolong maafkan Celine..." bisik Celine lirih pada kaca bingkai yang dingin di pelukannya.
Ternyata, keterlambatannya beberapa jam setiap sore telah dibayar mahal. Dan kesalahan itu kini terkubur dua meter di bawah tanah.
Namun, hantaman paling mematikan tidak datang dari rasa bersalahnya sendiri, melainkan dari sosok pria paruh baya yang berdiri membisu di sampingnya. Richard, ayahnya, menatap gundukan tanah merah itu dengan mata merah dan cekung. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak rapuh, hancur oleh duka yang teramat sangat.
Ketika pelayat perlahan mulai membubarkan diri meninggalkan area pemakaman yang basah, Richard berbalik menatap Celine. Tidak ada kehangatan di matanya. Hanya ada kekosongan dingin yang seketika membekukan darah Celine.
"Masih berani kamu menangis di depan Mamamu?" bisik Richard. Suaranya rendah dan parau, namun bergetar menahan amarah.
Celine menengadah dengan mata berkaca-kaca. "Papa..."