ANTI PARASIT

Ahmad Barnash
Chapter #2

Tamu yang Terlalu Manis

Minggu-minggu setelah pemakaman berlalu seperti kabut abu-abu yang tebal dan lambat. Rumah besar bergaya kolonial modern itu kehilangan seluruh suaranya, berubah menjadi labirin sunyi yang menolak memberikan kehangatan. Richard kian jarang pulang. Pria itu menenggelamkan dirinya di kantor, memilih menginap demi menghindari keharusan menatap wajah Celine—satu-satunya pengingat hidup akan kegagalannya menjaga sang istri.

Celine menjalani rutinitasnya dalam kesendirian yang menyesakkan. Setiap pagi ia berangkat sekolah, lalu menghabiskan berjam-jam di dojo karate, melampiaskan seluruh kemarahan dan rasa bersalahnya pada samsak kulit yang bisu. Hanya Bi Imas, asisten rumah tangga tua yang telah mengabdi sejak Celine kecil, yang masih memperlakukannya dengan kehangatan seorang ibu.

Hingga suatu malam, sunyi itu retak.

Celine baru saja turun ke lantai bawah untuk mengambil segelas air hangat. Jam dinding kuno di lorong menunjukkan pukul satu malam. Langkah kakinya yang ringan nyaris tidak menimbulkan suara di atas lantai marmer. Namun, saat melewati ruang kerja Richard yang pintunya sedikit terbuka, langkahnya terhenti.

Ada suara tawa dari dalam. Tawa Richard—tetapi bukan tawa formal yang biasa ayahnya gunakan saat menjamu rekan bisnis. Itu tawa yang lepas, ringan, dan penuh binar kehidupan yang Celine pikir telah ikut terkubur bersama ibunya.

Di dapur, Celine mendapati Bi Imas sedang merapikan beberapa cangkir di dekat wastafel. Wajah wanita tua itu tampak gelisah, seolah-olah ia juga mendengar gema tawa dari ruang kerja tadi.

"Bi..." bisik Celine pelan, memecah kesunyian dapur. "Papa sedang menelepon siapa? Sudah lama sekali aku tidak mendengar Papa tertawa seperti itu."

Bi Imas menghentikan gerakannya. Ia menatap Celine dengan sepasang mata tuanya yang menyimpan gurat kekhawatiran mendalam. Sambil menghela napas panjang, Bi Imas mendekati Celine dan berbisik lirih.

"Bibi juga tidak tahu pasti, Non..." sahut Bi Imas pelan. "Tapi beberapa kali Bibi mendengar Tuan menyebut nama seorang wanita."

"Wanita? Siapa?" celekit Celine, keningnya berkerut.

"Entahlah, Non. Hanya saja... kadang orang yang sedang berduka bisa mengambil keputusan yang terburu-buru," bisik Bi Imas seakan takut dinding-dinding rumah ikut menguping. "Ingat pesan Bibi... Non Celine harus tetap berhati-hati."

Kata-kata misterius Bi Imas terbukti beberapa hari kemudian. Usai menghadiri acara reuni kampus di luar kota selama akhir pekan, Richard pulang dengan raut wajah yang tak lagi muram.

Malam itu di meja makan, Richard menatap Celine dengan mata yang berbinar hangat.

"Papa bertemu teman lama di reuni kemarin, Celine. Namanya Miranda," ujar Richard membuka percakapan sambil meletakkan sendoknya.

Celine menghentikan kunyahannya. "Teman kuliah Papa?"

"Lebih dari sekadar teman lama. Dulu kami sangat dekat," jawab Richard penuh nostalgia. "Dia sekarang seorang janda dengan tiga anak. Hidupnya tidak mudah, tetapi dia wanita yang sangat sederhana, sopan, dan penuh perhatian."

Richard menjeda sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih lembut, "Saat Papa cerita tentang keretakan di rumah ini dan kematian Mamamu... Miranda menangis tersedu-sedu, Celine. Dia wanita yang sangat lembut. Dia benar-benar tahu bagaimana rasanya kehilangan."

"Baguslah kalau Papa menemukan teman mengobrol," sahut Celine datar, mencoba menutupi gelombang kecurigaan yang tiba-tiba bergejolak di dadanya.

Namun, tidak butuh waktu lama bagi Miranda untuk mulai mengetuk pintu rumah mereka. Awalnya, ia datang hanya untuk mengantarkan makanan hangat atau menjenguk Richard. Miranda selalu tampil anggun dalam kesederhanaannya—pakaian rajut berwarna pastel yang lembut, rambut disanggul rapi, dan senyum manis yang tampak begitu tulus.

Sikapnya yang teramat hangat membuat Celine merasa bersalah setiap kali rasa curiga terlintas di benaknya. Miranda selalu membawakan kue kesukaan Celine dan menanyakan kabarnya di sekolah dengan nada keibuan yang sangat meyakinkan.

Lihat selengkapnya