Pagi itu, rumah peninggalan Mama tidak menyisakan ruang untuk bernapas. Udara terasa begitu berat, seolah-olah mendung dari luar telah menyusup masuk melalui celah-celah ventilasi, membawa serta aroma kecurigaan yang pekat.
Ketegangan itu pecah di meja makan. Richard baru saja membuka halaman pertama berkas kantornya ketika Miranda tiba-tiba mematung. Tangannya terangkat meraba lehernya yang kosong dengan raut wajah yang mendadak pucat pasi.
"Ada apa, Ma?" tanya Richard langsung, meletakkan cangkir kopinya. Perhatian itu mengalir begitu alami—jenis perhatian yang dulu hanya ia berikan kepada almarhumah istrinya.
"Kalung... kalung berlian pemberianmu, Mas," suara Miranda bergetar halus. Matanya berkaca-kaca. "Aku ingat semalam menyimpannya di atas meja rias sebelum mandi. Tapi sekarang... tidak ada."
"Mungkin terselip di bawah meja atau jatuh di dalam laci, Tante?" Bianca menyahut dengan nada riang yang dipaksakan, mencoba memainkan peran sebagai anak tiri yang menenangkan.
"Tante sudah mencarinya di mana-mana, Bianca. Benar-benar tidak ada," bisik Miranda parau. Kepalanya tertunduk seolah-olah ia sedang menanggung beban rasa bersalah yang berat karena menghilangkan hadiah dari suaminya.
Leon, yang sejak tadi duduk tenang di sudut meja, meletakkan sendok dan garpunya perlahan dengan denting halus. Gerakannya terukur, mencerminkan ketenangan seorang pria dewasa yang logis.
"Untuk memastikan tidak ada kesalahpahaman di rumah ini, Papa... Tante..." ujar Leon tenang, menatap Richard dan ibunya bergantian. "Kurasa kita perlu memeriksa seluruh sudut ruangan. Termasuk... kamar para pelayan. Ini demi kebaikan bersama, agar tidak ada rasa saling curiga."
Celine, yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk sarapannya tanpa selera, mendongak tajam. Dadanya berdesir kencang.
"Maksudmu menuduh Bi Imas?" potong Celine dingin.
"Celine, jaga bicaramu," Richard menegur dengan nada memperingatkan. "Leon hanya menyarankan pemeriksaan menyeluruh. Di rumah ini sekarang banyak orang baru, wajar jika kita ingin memastikan semuanya aman."
"Tapi Bi Imas sudah bekerja di sini sejak aku masih kecil, Pa! Dia bahkan ikut merawat Mama saat sakit!" tegast Celine, mengabaikan tatapan memperingatkan dari ayahnya. "Dia tidak mungkin mencuri!"
"Celine... Sayang," Miranda meletakkan tangannya di atas jemangan Celine. Bagi Celine, sentuhan itu terasa seperti lilitan ular dingin yang berbisa. "Tidak ada yang menuduh Bi Imas. Kita hanya ingin mencari kalung itu. Kalau memang tidak ada di sana, justru itu akan membersihkan nama baik semua orang di rumah ini, kan?"
Kata-kata Miranda begitu manis dan masuk akal, hingga Richard mengangguk setuju tanpa ragu. Pria itu berdiri dari kursi utamanya. "Bener kata Miranda. Mari kita periksa bersama."
Pencarian itu terasa seperti sebuah eksekusi yang disengaja. Bi Imas berdiri di ambang pintu kamarnya yang kecil di area belakang rumah. Wajah tuanya tampak kebingungan sekaligus ketakutan. Tubuhnya yang ringkih gemetar saat melihat Richard, Miranda, Leon, dan Bianca melangkah masuk. Kevin hanya berdiri bersandar di pilar lorong luar dengan senyum tipis yang sulit diartikan.