ANTI PARASIT

Ahmad Barnash
Chapter #4

Pembunuhan Karakter

Bab 4: Pembunuhan Karakter

Pagi itu, langit sekolah terasa lebih abu-abu dari biasanya bagi Celine. Kehadiran Kevin sebagai murid baru di sekolahnya bukan lagi sekadar rumor. Dengan seragam putih-abu-abu yang masih kaku dan senyum santun yang terukir sempurna, Kevin berdiri anggun di depan ruang guru, didampingi Richard.

"Jaga dirimu baik-baik di kelas baru ya, Kevin," ujar Richard sambil menepuk bahu putra tirinya penuh binar bangga. "Kalau ada apa-apa, kamu bisa minta tolong Celine."

"Terima kasih banyak, Papa. Kevin janji akan belajar sungguh-sungguh dan tidak mempermalukan Papa," jawab Kevin hangat dengan anggukan penuh hormat.

Di sekolah, Kevin dengan cepat menjadi idola baru. Guru-guru menyukai sopan santunnya yang luar biasa, sementara teman-teman sekelas Celine dengan mudah terpikat oleh pembawaannya yang bersahaja.

Namun, Celine tahu ada racun yang sedang disebarkan di balik senyuman manis itu.

Saat jam istirahat di kantin, Kevin duduk bersama sekelompok teman sekelas Celine. Dengan wajah cemas yang dipaksakan, ia memulai serangannya.

"Sebenarnya aku sangat khawatir pada Kak Celine, Maya," bisik Kevin pelan, menatap salah satu teman sekelas Celine dengan mata meredup penuh simpati.

"Khawatir kenapa, Vin? Celine kelihatannya biasa saja, cuma agak pendiam," sahut Maya penasaran.

Kevin menghela napas panjang, meremas jemarinya sendiri. "Sejak Mama meninggal, Kak Celine berubah total di rumah. Dia jadi sangat sensitif dan sering membentak Papa... Kami semua di rumah selalu mencoba mengerti. Mungkin... dia memang masih belum bisa menerima kenyataan."

"Masa sih? Kasihan Papa kamu ya," timpal Rian, teman sekelas Celine lainnya, menggelengkan kepala.

"Iya, tapi aku mohon, jangan katakan ini pada Kak Celine ya," potong Kevin cepat dengan nada memohon. "Aku cuma takut dia makin stres kalau tahu aku membicarakannya."

Kata-kata itu mengalir seperti racun yang perlahan membunuh reputasi Celine. Kevin tidak menyebarkan fitnah langsung; ia membiarkan imajinasi orang-orang di sekitarnya yang membesarkan gosip tersebut.

Dampaknya terasa begitu cepat dan dingin.

"Eh, Celine datang..." bisik seorang siswi ketika Celine melangkah mendekati meja kantin. Seketika, keheningan canggung menyelimuti mereka, dan satu per satu dari mereka bergeming sibuk memegang ponsel.

"Hmm, Celine. Kondisimu baik?" tegur guru BK saat Celine dipanggil ke ruangannya siang itu. Sang guru menatapnya dengan pandangan iba yang membuat bulu kuduk Celine meremang.

Lihat selengkapnya